Jumat, 20 Februari 2015

Tersengat Jiwa Abu Beureu-Eh

Sayed Muhammad Husen 
Tersengat Jiwa Abu Beureu-Eh

Para pewarta muda dalam ruangan itu menyimak pria di depan mereka dengan seksama. Seakan tidak ingin sepotong arahan pun abai direkam. Mereka mencatat detail liputan sembari bertanya jika ada yang belum dipahami. Hampir saban Jumat sore, suasana rapat redaksi tabloid tersebut berlangsung begitu. Jika pria itu tidak datang, topik liputan seringkali sulit diputuskan.

Adalah Sayed Muhammad Husen, pria kelahiran Trienggadeng, 28 Desember 1965 ini memang dikenal berotak padat. Sebagai redaktur pelaksana, ragam ide segar dengan bebas meluncur dari tuturnya. Di kalangan jurnalis Tabloid Gema Baiturrahman tempatnya bernaung, ia dikenal sebagai sosok yang mudah dimintai bimbingan.

Sayed, begitu akrab ia disapa, lahir dari keluarga berekonomi rendah. M. Husen Puteh, sang ayah, adalah seorang pekerja serabutan. Sedangkan bunda, Syaribanun, hanyalah ibu rumah tangga yang membantu pekerjaan suami ala kadarnya. Tetapi, apapun warna latar keluarga, tidaklah meredupkan semangat Sayed. Bahkan, hingga kini, ia enggan menyebut-nyebut soal kemiskinan. Menurutnya, itu tidak pantas jadi kendala. ”Jangan sampai kepercayaan diri yang telah diperoleh melalui prestasi, kita korbankan demi perasaan berasal dari keluarga miskin,” sebutnya.

Berbicara soal prestasi, Sayed tergolong gemilang. Sejak duduk di bangku SD Negeri Balohan Sabang, namanya selalu masuk daftar sepuluh besar. Bahkan, di jenjang SMP hingga SMA, ia langganan peringkat satu. Tidak hanya itu, tahun kedua SMA ia terpilih sebagai Ketua OSIS. Hal ini tak sulit baginya, sebab jiwa kepemimpinan telah ia tempa sedari SMP. Tepatnya sejak bergabung dengan organisasi PII (Pelajar Islam Indonesia).

Prestasi akademik dan pengalaman organisasi yang dipunyai menjadi modal awal untuk membangkitkan rasa percaya diri. Walau secara ekonomi keluarga tampak mustahil, Sayed sampai jua di bangku kuliah dan tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Bimbingan Konseling FKIP Unsyiah tahun 1986. Ia masuk lewat jalur PMDK. Ketika itu, guru ekonomi SMA-nya sempat menyesalkan. Sebab di mata sang guru, Sayed muda lebih kuat di pelajaran ekonomi.

Tetapi, tak hendak mengingkari nikmat, Sayed tetap  menjalani kuliahnya. Bahkan debut karier perdananya dimulai saat masih di bangku kuliah. Antara lain pernah menjadi Guru Bimbingan Konseling di SMP Tgk Chik Di Tiro Persit Banda Aceh, Sekretaris Eksekutif Forum LSM Aceh, serta Guru Bimbingan Karier di Madrasah Aliyah Ibnu Araby, Banda Aceh. ”Honor ketika itu 25 ribu perbulan. Kadang hanya cukup untuk transportasi saja,” kenangnya.

Selama berstatus mahasiswa, pria yang mengidolakan tokoh HM Daud Beureu-Eh ini bukan semata-mata tukang kuliah. Dia tergolong aktivis yang sibuk dengan ragam kegiatan organisasi dan menghadiri berbagai pelatihan, antara lain Kursus Ahadan Kader Dakwah ISKADA 1986, Couching Instruktur PII 1987, Latihan Dasar Jurnalistik HMI 1988, dan Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa se-Sumatera dan Kalbar di Palembang pada 1988. Bahkan, tak jarang ia juga datang sebagai pemateri dan mengkoordinir kegiatan-kegiatan yang difasilitasi oleh PII.

Oleh karena giatnya ia di kegiatan organisasi, pada zaman Orde Baru, 11-15 Agustus 1992, ia dan tiga kawannya sempat menjadi tahanan politik Laksus Korem 012/TU. Mereka terjerat tuduhan menggerakkan “organisasi bawah tanah” PII dan anti asas tunggal Pancasila. Tetapi, gugatan itu gagal terbukti dan Sayed bebas kembali. Satu perjalanan rohani berharga yang ia kecap selama di bui, ternyata, di saat-saat demikian  jiwanya lebih dekat dengan Sang Khalik. Bahkan kedekatan senada hampir tidak dapat dirasakan setelah itu.

Hanya sayang, musibah terbakarnya Sekretariat PW PII Aceh yang sekaligus tempat Sayed menetap, pada 3 September 1993, membuatnya urung memboyong gelar sarjana. Itu dikarenakan turut terbakarnya seluruh bahan skripsi. Ditambah dengan semakin menghimpitnya perkara ekonomi. Sayed memilih berbelok haluan. ”Saya pilih jalan kanan, menikah, dan lebih serius bekerja,” kata dia.

Mujur, seorang sahabat membagi informasi seputar pelatihan dan magang Baitul Maal Wattamwil (BMT), Pinbuk, Jakarta pada 1995. Selepas mendapat pengetahuan praktis BMT, Sayed merintis lahirnya Baitul Qiradh Baiturrahman. Ia sekaligus dipercaya sebagai General Manajer di tempat itu, periode 1995-2001.

Saat ini, selain bertindak sebagai Redaktur Pelaksana Gema Baiturrahman, suami Dra. Bunaizah Sulaiman (43 thn) ini juga bekerja sebagai Kabid Pengumpulan Zakat Baitul Mal Aceh. Ini bukan perkara rumit. Pengalaman selama  di baitul qiradh tidak jauh berbeda dengan baitul mal. Keduanya merujuk pada pemberdayaan ekonomi ummat. “Kalau di baitul qiradh kita memadukan antara konsep sosial dan bisnis, sementara di baitul mal lebih menonjol sisi sosialnya, karena yang dikelola adalah zakat, waqaf dan harta agama lainnya,” terang Sayed. Jika dirunut, lahan yang digelutinya saat ini lebih sesuai dengan insting guru ekonomi di SMA-nya dulu.

Selama bersinggungan dengan urusan zakat, banyak ilmu baru diperolehnya. Ayah dari Rafidah Assa’adah (2 thn) ini mengaku, sangat banyak seluk beluk zakat yang ternyata belum sepenuhnya dipahami khalayak jamak. Semakin digali dan ditekuni, persoalan zakat semakin menarik. ”Saya baru serius mempelajari ilmu zakat sejak bergabung di baitul mal, Januari 2004,” tuturnya.

Dari sekian banyak hal yang dipelajari di baitul mal, Sayed melihat permasalahan krusial yang mesti segera ditindaklanjuti adalah menyangkut manajemen Baitul Mal Gampong. Selama ini, kinerja dan kemampuan SDM Baitul Mal Gampong --yang seharusnya menajdi mitra Baitul Mal Aceh-- tergolong masih sangat lemah.

Bersama amil zakat lainnya di Baitul Mal Aceh, produser dan host talk show ”Perbincangan Jumat Pagi” Radio Baiturrahman ini, sedang menggagas sebuah terobosan menyangkut pemberdayaan ekonomi ummat. Untuk lima hingga sepuluh tahun ke depan, Sayed berharap dapat mengkolaborasikan antara konsep baitul qiradh dengan baitul mal, sehingga hasil yang dirasakan ummat pun melonjak.

Sedikit berbeda dengan kebanyakan orang, Sayed tidak tergiur menjadi PNS. Ia terinspirasi semangat almarhum ayahnya yang dapat bebas menikmati hidup. Tanpa harus dikungkung oleh pekerjaan yang terlalu mengikat. ”Bahkan, pada zaman Soeharto dulu, jumlah anak PNS pun dibatasi,” katanya, sambil tertawa.

Ketertarikannya pada tokoh sekelas HM Daud Beureu-Eh secara tidak langsung telah menyemai semangat perjuangan dalam dirinya.  Sayed yang notabene aktivis ini juga bercita-cita untuk turut membela kepentingan rakyat via kursi parlemen. Demi itu, pengalaman di dunia politik pun ia susuri. Untuk rentang 2005-2010, Sayed menjabat sebagai Wakil Sekretaris DPW Partai Bulan Bintang NAD. Ini bukan pengalaman tunggal. Sebelumnya, ia juga pernah dipercayakan sebagai Wakil Ketua DPW Partai Ummat Islam Aceh 2000-2004.

Ada apa dengan Daud Beureueh hingga Sayed mengidolakannya? Lancar Sayed menjawab, ”Abu Beureueh peduli pada kepentingan rakyat dan sosoknya sangat kharismatik.”  Ia bertekad menjaga idealisme dan kredibelitas diri dengan banyak berguru dan akrab dengan tokoh-tokoh bersih dan idealis.

Mengenang petuah bijak, pengidola cenderung mengekor tokoh yang diidolakan. Berbekal semangat serta azzam yang kuat, mungkin saja suatu ketika nama Sayed Muhammad Husen juga termaktub dalam sejarah. Semoga! (Riza Rahmi, 7/7/2008) 

1 komentar:

  1. Saya telah berpikir bahwa semua perusahaan pinjaman online curang sampai saya bertemu dengan perusahaan pinjaman Suzan yang meminjamkan uang tanpa membayar lebih dulu.

    Nama saya Amisha, saya ingin menggunakan media ini untuk memperingatkan orang-orang yang mencari pinjaman internet di Asia dan di seluruh dunia untuk berhati-hati, karena mereka menipu dan meminjamkan pinjaman palsu di internet.

    Saya ingin membagikan kesaksian saya tentang bagaimana seorang teman membawa saya ke pemberi pinjaman asli, setelah itu saya scammed oleh beberapa kreditor di internet. Saya hampir kehilangan harapan sampai saya bertemu kreditur terpercaya ini bernama perusahaan Suzan investment. Perusahaan suzan meminjamkan pinjaman tanpa jaminan sebesar 600 juta rupiah (Rp600.000.000) dalam waktu kurang dari 48 jam tanpa tekanan.

    Saya sangat terkejut dan senang menerima pinjaman saya. Saya berjanji bahwa saya akan berbagi kabar baik sehingga orang bisa mendapatkan pinjaman mudah tanpa stres. Jadi jika Anda memerlukan pinjaman, hubungi mereka melalui email: (Suzaninvestment@gmail.com) Anda tidak akan kecewa mendapatkan pinjaman jika memenuhi persyaratan.

    Anda juga bisa menghubungi saya: (Ammisha1213@gmail.com) jika Anda memerlukan bantuan atau informasi lebih lanjut

    BalasHapus

Memahami Ma’had Tahfidz

Oleh: Sayed Muhammad Husen Tim Verifikasi Banda Aceh dan Aceh Besar Baitul Mal Aceh (Tim Abes) melakukan verifikasi calon mustahik penerima...