Tampilkan postingan dengan label Syarit Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syarit Islam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Februari 2023

Media Islam dan Konten Islami Sama Pentingnya

Oleh: Sayed Muhammad Husen

Media Islam harus mengandung tiga unsur sekaligus. Pertama, media yang dimiliki oleh orang Islam atau organisasi atau kelompok Islam. Kedua, media yang seluruh isinya mengemban misi dakwah, mengajak kepada kebaikan (ma’ruf) dan mencegah kemungkaran. Ketiga, media yang dikelola secara islami dan para pengelolanya pun islami.

Pertanyaannya, tulis Mahladi sebagaimana dilansir Hidayatullah.com, adakah media pers seperti itu? Dari dulu sampai sekarang, tidak banyak. Bahkan sedikit sekali. Tak banyak pula pemodal yang mau menghabiskan uangnya untuk membuat media seperti itu. Sebab, tak akan menguntungkan.

Namun, bukan berarti konten-konten islami tak banyak beredar di media massa, termasuk pers. Konten-konten islami justru sangat banyak tersebar di berbagai media besar. Bahkan, semua media, pasti memiliki konten islami dengan kadar yang berbeda-beda.

Terlebih saat ini dunia telah sampai pada era media sosial. Pada era ini, media bukan lagi raja. Sebab, semua orang bisa membuat media publikasi dengan mudah. Justru saat ini kontenlah yang menjadi raja. Siapa yang pandai membuat konten, dia yang berpeluang mengendalikan opini.

Jika mengacu pada tiga kriteria media Islam sebagaimana dikemukan Mahladi,  maka jumlah media Islam akan sedikit sekali. Sangat jauh jika dibandingkan media yang tidak memenuhi kriteria di atas.

Tapi tak perlu bekecil hati. Sebab, konten islami sangat banyak. Konten-konten tersebut tersebar di seluruh media, baik besar maupun kecil. Meskipun media-media tersebut tak sempurna menjalankan misi dakwah, namun tetap harus kita syukuri, karena mereka telah berbuat.

Teruskan menciptakan media Islam atau memproduksi konten islami untuk memenangkan opini Islam dan umat Islam. Tentu saja akan lebih sempurna jika kita mampu menggalang potensi sumber daya manusia, finansial, dan berbagai kekuatan umat untuk mendukung media Islam yang profesional, yang membela tegaknya syariat Islam.

Sumber: Gema Baiturrahman 10/2/2023 atau 19 Rajab 1444

Selasa, 20 Juni 2017

Kota Alquran

Oleh Sayed Muhammad Husen

Alquran kalamullah yang diturunkan pada bulan suci Ramadhan adalah pedoman hidup kaum muslimin dalam berbagai aspek kehidupan. Bagi seorang muslim, Alquran merupakan panduan utama dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat dan bernegara. Membaca Alquran akan mendapatkan pahala yang besar, demikian juga menghafal dan  mengamalkan Alquran dalam kehidupan sehari-hari.     

Allah Swt menegaskan bahwa Alquran  diturunkan dan akan menjaga keabadiannya, sesuai dengan firmanNYa: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Alquran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS Al-Hijr: 9). Maka Alquran  dipastikan tetap orisinil dan dapat dipedomani sepanjang masa.  

“Dan sesungguhnya Alquran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.” (QS. Asy-Syu’araa: 192-194).

Sebagai kalam mulia, Allah Swt memberikan pahala dan hikmah kepada pembaca, penghafal dan ahli tafsir Alquran.  Dengan semangat membaca dan menghafal Alquran akan berdampak terhadap lahirnya spirit mendalami dan memahami kandungan Alquran, sehingga Alquran tidak hanya diaplikasikan sebagai amal ibadah pribadi, namun kandungannya juga akan operasional dalam kehidupan dan pembangunan bangsa.

Jadi membaca, menghafal dan  memahami Alquran bermanfaat bagi peningkatan amal pribadi di dunia dan akhirat kelak, sekaligus menjadi amal sosial dalam bentuk program dan kegiatan pembanguan, yang tentu saja harus dilaksanakan sesuai dengan panduan Alquran. Pribadi dan masyarakat yang dibangun dengan celupan Alquran akan mendapat imbalan yang setimpal dari Allah Swt.

Rasulullah Saw bersabda: “Dikatakan kepada orang yang membaca (menghafalkan) Alquran nanti: ‘Bacalah dan naiklah serta tartillah sebagaimana engkau di dunia mentartilnya. Karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca (hafal).” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).
 “Bacalah Alquran, karena Alquran akan datang pada hari kiamat nanti sebagai pemberi syafaat bagi yang membacanya.” (HR. Muslim).

Membumikan Alquran

Ahli tafsir Prof M Quraish Shihab mempopulerkan istilah membumikan Alquran melalui karyanya yang  monumental pada 1994 dengan tajuk Membumikan Alquran; Fungsi dan Kedudukan wahyu dalam Kehidupan Bermasyarakat. Frasa ini kemudian populer di berbagai kalangan terutama para da’i, juru dakwah, aktivis Islam, cendikiwan muslim, bahkan dikalangan pegiat pembangunan dan pekerja pengembangan masyarakat.

Dalam konteks pembangunan Kota Banda Aceh sekarang ini, membumikan Alquran dapat dilakukan lebih konkret dan aplikatif, sebab relevan dengan prioritas pembangunan yang ada. Misalnya, membangun Kota Madani dipastikan merupakan bagian dari referensi Alquran. Pembangunan Kota Madani tentu saja telah diupayakan semaksimalkan mungkin tidak melanggar Alquran dan mengintegrasikan ajaran Alquan dalam berbagai program dan kegiatan pembangunan kota.

Jadi lebih jauh lagi, Alquran dapat dibumikan dalam berbagai sektor kehidupan, misalnya pada bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi dan sosial budaya. Untuk ini, pastilah memerlukan ilmu pengetahuan dan senergi dengan pihak berkompeten. Tidak bisa Alquran dibumikan oleh bukan ahlinya. Maka diperlukan pendampingan oleh ahli Alquran (ahli tafsir).

Kota Alquran

Dalam konteks mewujudkan Kota Banda Aceh sebagai Kota Alquran, bisa dilukan secara bertahap dari tingkatan membaca, menghafal hingga menafsirkan Alquran. Jika selama ini sudah dimulai dengan kegiatan membaca Alquran secara tartil dan kegiatan menghafal (tahfidz), maka belum lengkap jika belum diprogramkan kegiatan tafsir atau kajian Alquran.

Saya mendapat informasi, bahwa Pemerintah Kota Banda Aceh selama ini sudah memdukung kegiatan Alquran dalam bentuk penguatan TPA melalui Festival Anak Shalih (FASI), bantuan operasional TPA dan tahfidz Alquran berbasis masjid, maka kegiatan dan anggarannya pun perlu terus ditingkatkan dimasa-masa akan datang.

Mewujudkan Kota Alquran dapat dimulai dari kesamaan visi dan misi Pemerintah Kota, yang dilakukan melalui perencanaan pembangunan. Perencanaan ini akan mengikat semua pemangku kepentingan. Selanjutnya pemangku kepentingan menerjemahkannya dalam bentuk program dan kegiatan Alquran yang aplikatif serta indikator yang terukur, disertai komitmen menyediakan anggaran yang memadai.

Indikator Alquran

Sebagai contoh kita jelaskan disini beberapa indikator yang dapat digunakan dalam mewujudkan Kota Alquran misalnya: jumlah siswa tingkat dasar dan menengah yang tartil membaca Alquran, dan indikator ini ditingkatkan lagi menjadi jumlah siswa yang menghafal dan mampu menerjemahkan Alquran perkata. Lalu ditingkatkan menjadi: jumlah pejabat dan masyarakat yang mampu menghafal dan menerjemahkan Alquran.

Indikator lainnya bisa kita rumuskan: jumlah pejabat yang mengkhatam Alquran setiap tahun, jumlah keuchik yang mengikuti pengajian Alquran, jumlah masjid /sekolah/madrasah/dayah/perguruan tinggi yang menyelengarakan program tahfidz Alquran.  Dan hal ini mestilah dikondisikan supaya  melibatkan semua lapisan masyarakat.


Kota Alquran dibangun dengan perencanaan jangka panjang 20 tahun, RPJM 5 tahun dan Rencana Strategis masing-masing SKPD. Tidak bisa hanya dipundakkan kepada satu atau beberapa SKPD saja. Seluruh kompenen Pemerintah Kota, swasta dan masyarakat diharuskan membuat indikator capaian program dan kegiatan Alquran dan melaksakannya sesuai fungsi masing-masing.

Gulirkan gagasan

Saya pikir, momentum peringatan Nuzulul Quran setipa Ramadhan, dapat dijadikan momentum kristalisasi gagasan Kota Banda Aceh sebagai Kota Alquran yang madani dan gemilang. Yaitu sebuah kota yang mengintegrasikan program dan kegiatan Alquran dalam seluruh aspek pembangunan. Dari kota ini akan lahir aparatur dan warga yang mampu membaca Alquran secara tartil, menghafal (menurut kemampuan masing-masing), mampu menerjemahkan atau menafsirkan, serta mengaplikasikan ajaran Alquran dalam semua aspek kehidupan.

Ini adalah gagasan awal, tentu saja, untuk kelanjutannya diperlukan kajian yang mendalam, penelitian dan perencanaan yang baik. Justru yang sangat diperlukan adalah komitmen Walikota dan Wakil Walikota terpilih untuk menuangkan gasasan Kota Alquran dalam RPJM 5 tahun akan datang. Dengan itu kita yakin bahwa Kota Banda Aceh akan menjadi inspirasi dan model kota yang mengaplikasikan Alquran dalam pembangunan. 

Sumber: Warta Banda Aceh, Edisi V Tahun 20017



  



Memahami Ma’had Tahfidz

Oleh: Sayed Muhammad Husen Tim Verifikasi Banda Aceh dan Aceh Besar Baitul Mal Aceh (Tim Abes) melakukan verifikasi calon mustahik penerima...