Oleh Sayed
Muhammad Husen
![]() |
| kabarmuslimah.net |
Syukurlah
banyak pihak membuat pernyataan, bahwa dalam bentuk apapun tak boleh ada
peringatan yang menghalalkan pergaulan kaum muda tanpa batas di Aceh. Kita membaca pernyataan senada, paling tidak,
mewakili pimpinan Aceh seperti Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, Bupati Aceh Besar
Mawardi Ali dan Walikota Banda Aceh Aminullah Usman, yang melarang Valintine
Day di Aceh.
Dengan
pernyataan dan sikap berbagai komponen di Aceh
tentang larangan Valintine, kita yakin berkontribusi terhadap terwujudnya
kesadaran kaum muda dan orang tua tentang pergaulan yang lebih islami. Yaitu
terciptanya iklim yang memungkinkan interaksi remaja dan pemuda Aceh yang
sesuai dengan akhlak Islam; satu pergaulan yang mengenal halal dan haram.
Satu
hal masih kita khawatirkan selama ini adalah, betapa liberalnya interaksi dan
komunikasi kaum muda antara laki-laki dan perempuan. Hal ini sulit dihindari
karena pola kehidupan, pendidikan dan pegaulan yang belum seluruhnya sesuai
dengan syariat Islam. Misalnya, tidak cukup memadai batasan antara laki-laki
dan perempuan di dunia pendidikan sekuler.
Kondisi
itu bisa lebih parah apabila Aceh mengizinkan paham seks bebas yang sebarkan
setiap perayaan Valentine, pentas musik tanpa kontrol dan lemahnya pengawasan
lingkungan. Yang terakhir kita sebutkan, termasuk pengawasan oleh Wilayatul
Hisbah (WH). Faktor pendukung lainya adalah penggunanan media sosial yang tak
sehat dan akses informasi tak terkontrol.
Karena
itu, larangan Valentine patut kiranya diikuti dengan berbagai bentuk edukasi
dan sosialisasi kepada kaum muda tentang pola pergaulan islami. Kita perlu
menjelaskankan lebih dalam tentang makna kasih sayang yang berlangsung
sepanjang hayat dan disalurkan dengan cara halal. Kaum muda perlu pula memahami
arti univesal kasih sayang kepada sesama makhluk ciptaan Allah Swt.
Pada
sisi lain, negara dan berbagai komponen masyarakat Aceh penting juga membantu
menemukan sosusi terhadap sebagian kaum muda yang hidup miskin dan tak punya
pekerjaan. Akibatnya, mereka tak mampu merencanakan keluarga dan pernikahan.
Padahal dengan menikah mereka bisa menyalurkan seksualitas secara halal dan
pernah berpikir lagi valentine.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar