Minggu, 08 Januari 2023

Peran Penting Agama

Oleh: Sayed Muhammad Husen 

Krisis global telah melanda seluruh aspek kehidupan, baik di bidang politik, ekonomi, sosial-budaya, dan juga keamanan. Globalisasi juga telah membawa banyak perubahan dalam kehidupan manusia, termasuk mendorong manusia untuk semakin menjadi materialistis dan egoistis. Oleh sebab itu, peran Islam sebagai ajaran universal sangat penting sebagai solusi mengatasi berbagai tantangan dan dinamika globalisasi tersebut.

“Islam sebagai ajaran yang universal dan selalu relevan dengan situasi dan kondisi apapun dan dimanapun, diharapkan bisa menjadi solusi dalam mengatasi berbagai tantangan dan dinamika dari krisis-krisis global,” tegas Wakil Presiden (Wapres) KH Ma’ruf Amin, seperti dilansir setneg.go.id.

 

Lebih lanjut, Wapres menjelaskan, bahwa para ulama telah merumuskan bahwa tujuan syariat Islam adalah untuk kemaslahatan manusia, baik di dunia maupun di akhirat. “Dan para ulama juga menetapkan tentang prinsip-prinsip yang membawa kemaslahatan itu, yaitu menjaga agama, menjaga keselamatan jiwa, menjaga akal, menjaga keturunan, dan menjaga harta,” terangnya.

 

Bahkan menurut Wapres, masih ada dua prinsip lagi yang juga termasuk dalam tujuan syariat Islam yang perlu ditambahkan yaitu menjaga keamanan dan kedamaian, serta menjaga lingkungan dari ancaman kerusakan lingkungan global. “Kedua hal ini sangat erat hubungannya dengan terbangunnya kemaslahatan umat manusia secara global,” ujarnya.

 

Karena itu, sesuai harapan Wapres, peran Kementerian Agama menjadi tetap strategis untuk terus melakukan, mengawal dan mengembangkan pelaksanaan pengamalan  agama atau syariat Islam dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sudah waktunya Kemenag berperan dan berfungsi lebih luas lagi dalam menerapkan syariat Islam, misalnya dalam aspek ekonomi syariah.

 

Pelaksanaan ekonomi syariah ini dapat lebih dikembangkan lagi pada basis kecamatan (KUA), yang diintegrasikan dengan pelaksanaan zakat, infak, sedekah dan wakaf (Ziswaf). Pengelolaan Ziswaf ini, dengan fasilitasi Kemenag, bisa berkembang menjadi lembaga keuangan syariah dan sektor bisnis lainnya. Sehingga, keberadaan Kemenag juga berfungsi dalam meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan bangsa.

 

Sumber: Gema Baiturrahman, (6/1/2023)

 

Kamis, 15 Februari 2018

Kasih Sayang Sepanjang Hayat


Oleh Sayed Muhammad Husen
 
kabarmuslimah.net
Setiap pertengahan Februari, kita kembali diingatkan ritus tahunan kaum muda memperingati hari kasih sayang. Kita sekaligus diingatkan berhati-hati mengawal kaum muda dan menasehati mereka supaya tak terjebak pergaulan bebas (seks bebas), yang berkedok kasih sayang dan mencintai antar jenis.

Syukurlah banyak pihak membuat pernyataan, bahwa dalam bentuk apapun tak boleh ada peringatan yang menghalalkan pergaulan kaum muda tanpa batas di Aceh.  Kita membaca pernyataan senada, paling tidak, mewakili pimpinan Aceh seperti Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, Bupati Aceh Besar Mawardi Ali dan Walikota Banda Aceh Aminullah Usman, yang melarang Valintine Day di Aceh.

Dengan pernyataan dan sikap berbagai komponen di Aceh  tentang larangan Valintine, kita yakin berkontribusi terhadap terwujudnya kesadaran kaum muda dan orang tua tentang pergaulan yang lebih islami. Yaitu terciptanya iklim yang memungkinkan interaksi remaja dan pemuda Aceh yang sesuai dengan akhlak Islam; satu pergaulan yang mengenal halal dan haram.

Satu hal masih kita khawatirkan selama ini adalah, betapa liberalnya interaksi dan komunikasi kaum muda antara laki-laki dan perempuan. Hal ini sulit dihindari karena pola kehidupan, pendidikan dan pegaulan yang belum seluruhnya sesuai dengan syariat Islam. Misalnya, tidak cukup memadai batasan antara laki-laki dan perempuan di dunia pendidikan sekuler.

Kondisi itu bisa lebih parah apabila Aceh mengizinkan paham seks bebas yang sebarkan setiap perayaan Valentine, pentas musik tanpa kontrol dan lemahnya pengawasan lingkungan. Yang terakhir kita sebutkan, termasuk pengawasan oleh Wilayatul Hisbah (WH). Faktor pendukung lainya adalah penggunanan media sosial yang tak sehat dan akses informasi tak terkontrol.

Karena itu, larangan Valentine patut kiranya diikuti dengan berbagai bentuk edukasi dan sosialisasi kepada kaum muda tentang pola pergaulan islami. Kita perlu menjelaskankan lebih dalam tentang makna kasih sayang yang berlangsung sepanjang hayat dan disalurkan dengan cara halal. Kaum muda perlu pula memahami arti univesal kasih sayang kepada sesama makhluk ciptaan Allah Swt.

Pada sisi lain, negara dan berbagai komponen masyarakat Aceh penting juga membantu menemukan sosusi terhadap sebagian kaum muda yang hidup miskin dan tak punya pekerjaan. Akibatnya, mereka tak mampu merencanakan keluarga dan pernikahan. Padahal dengan menikah mereka bisa menyalurkan seksualitas secara halal dan pernah berpikir lagi valentine. 

Kamis, 08 Februari 2018

Abu, Pribadi yang Berpikir Positif


Oleh Hayatullah Pasee

Bicaranya teratur dan bersahaja. Pesannya penuh motivasi. Murah senyum dan gemar bersedekah. Ia suka bergaul dengan siapa saja, termasuk anak muda. Saya memanggilnya Abu.

Adalah Sayed Muhammad Husen. Laki-laki kelahiran Trieng Gadeng 04 September 1965 ini sudah saya anggap seperti orang tua sendiri. Banyak mendapat nasihat darinya, bahkan saya sering meminta pendapat ketika hendak memutuskan sesuatu. Abu selalu memberi saran yang terbaik.

Saya belum begitu lama mengenalinya. Kami bertemu sekitar tahun 2013. Waktu itu, kami sama-sama dalam tim penerbitan Majalah Suara Darussalam milik Baitul Mal Aceh, sedangkan Abu sudah lama bekerja di lembaga tersebut.

Awalnya, hubungan kami biasa-biasa saja. Akibat keseringan silaturrahmi, baik di warung kopi ataupun di kantornya, hubungan emosional kami semakin dekat. Saya sering berkunjung ke kediamannya di Alue Deah Teungoh, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh. Kadang kami sering masak daging bebek di sana.

Selain di Baitul Mal Aceh, dari dulu Abu sudah aktif menulis. Ia pernah menjadi jurnalis di beberapa media, salah satunya media Mingguan Atjeh Post tahun 2000, yang saat itu dipimpin Ghazi Husein Yusuf.

Kemudian dari tahun 1999 hingga 2007, Abu juga pernah jadi wartawan Majalah Suara Hidayatullah, Redaktur Tabbloid Suara Aceh, Pemimpin Redaksi Majalah Baitul Mal, dan sekarang menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Tabloid Jumatan Gema Baiturrahman.

Abu juga aktif di bidang penyiaran. Ia sudah berkarir di bidang radio sejak tahun 2011 pada Radio Prima FM. Di Radio Baiturrahman pernah menjadi penyiar tetap dan terakhir hingga Desember 2017 sebagai host program “Perbincangan Sabtu Pagi”.

Satu hal yang membuat saya kagum dari Abu. Cara melihat suatu masalah selalu menggunakan sudut pandang positif. Bahkan saya pernah sekali membincangkan hal-hal negatif, namun Abu tetap mengiring saya untuk tetap berbaik sangka. Abu tak menghiraukan orang lain yang berpikiran negatif terhadapnya, ia tetap positif thinking.

Ketika kami sama-sama mengelola majalah Suara Darussalam, secara tidak langsung, Abu pelan-pelan mengenalkan saya dengan lembaga amil zakat Baitul Mal Aceh. Hingga akhirnya saya direkom menjadi salah seorang amil di sana.

Awalnya sempat saya tolak. Saya belum terbiasa dengan pekerjaan kantoran, karena masih asik dengan profesi jurnalis, biarpun saat itu saya sudah bekerja di Dinas Perhubungan Kota Banda Aceh sebagai koresponden.

Ketika Kepala Baitul Mal Aceh (saat itu dipimpin Dr Armiadi Musa) meminta saya yang kedua kalinya untuk bergabung, Abu membujuk saya untuk menerima tawaran tersebut. Tawaran tidak akan datang yang ketiga kalinya. Setelah saya beristikharah, saya menerima tawaran tersebut.

Kebetulan waktu itu Kasubbid Sosialisasi pada Badan Pelaksana BMA, Riza Rahmi lulus S2 ke Australia, maka saya diminta menggantikan posisinya. Sedangkan bidang yang ditinggali Riza sesuai dengan latar belakang profesi saya sebagai jurnalis dan praktisi humas.

Mulai saat itu saya dengan Abu sudah sering bertemu. Saya juga diajak untuk membantu menjadi salah seorang redaktur di tabloid yang ia pimpin. Kami menulis tema-tema islami dan mengedit berita-berita positif.

Bagi saya, tak ada rezeki yang paling berharga selain dikaruniai teman-teman yang baik serta lingkungan yang islami, yaitu Masjid Raya Baiturrahman. Itulah yang saya inginkan agar saya tetap di jalan yang benar.

Dalam setiap doa, selalu saya memohon agar dikaruniai anak-anak yang salih-salihah, istri yang salihah, teman-teman yang baik serta pergaulan-pergaulan yang baik pula. Saya yakin Abu adalah jawaban doa saya.

Yang membuat saya terharu lagi, Abu juga yang mendampingi saya dari Banda Aceh ketika berangkat ke Pidie Jaya untuk melaksanakan pernikahan. Kami dari Banda Aceh datang berempat, yaitu; saya, Abu, Haekal Afifa, dan istrinya Haekal, Tiza.

Prosesi pernikahan dilaksanakan pagi, sekitar pukul 10.00 Wib. Abu menyarankan untuk datang sehari sebelum acara, agar saat tiba di sana saya lebih segar dan tidak kelelahan. Maka, malam itu kami menginap di rumah orang tua Abu di Trieng Gadeng.

Di mata saya, Abu adalah sosok yang tangguh. Walaupun usianya tak lagi muda, namun jiwa dan cara pikirnya yang moderat, membuat Abu tampak selalu energik. Tak mudah menyerah, dan selalu bersemangat.

Kekokohan kepribadiannya terbukti ketika musibah melanda bumi Serambi Mekkah pada tahun 2004 silam. Abu kehilangan kedua anaknya, Nada Nursaid dan Rif'ah Nursaid serta istrinya, Nour Izmi Nurdin yang begitu ia cintai. Saya tak bisa membayangkan jika itu terjadi sama saya, mungkin saya sudah gila. Tapi tidak dengan Abu. Ia mampu bangkit. Ia masih memiliki iman yang kuat, bahwa setiap musibah itu memiliki hikmah yang tak dapat kita duga.

Saya belajar banyak dari keteguhan Abu. Ia mampu keluar dari keterpurukan. Abu tak mau berlama-lama dalam kesedihan. Abu tahu apa yang harus ia lakukan untuk dirinya dan masa depannya. Abu memiliki jiwa visoner.

Sebagai kenangan, Abu megabadikan kisah syahid keluarganya dalam sebuah buku kecil berjumlah 59 halaman. Buku berjudul “Sayed Muhammad Husen Bangkit Setelah Tsunami” dijadikan sebagai pengganti nisan. Ketika ia rindu akan almarhum keluarganya, ia dapat melihat buku tersebut sebagai bentuk ziarah.

Kini Abu sudah memiliki cahaya baru dalam hidupnya bersama Dra Bunaizah Sulaiman di Gampong Lampanah, Indrapuri, Aceh Besar. Dari pernikahannya, dikaruniai seorang putri yang diberi nama Rafidah Assa’adah  sudah berusia 16 tahun (2023). Karena tinggal di Lampanah, Abu suka dipanggil Abu Lampanah.[] Sumber: Steemit


Jumat, 08 September 2017

Memakmurkan Masjid Makmurkan Jamaah

Oleh Sayed Muhammad Husen

Apakah benar selama ini pengelola masjid hanya “menerima” dari jamaah, sementara pihak masjid kurang “memberi” kepada jamaah? Tentu saja tidak seluruhnya benar. Namun demikianlah peserta diskusi terfokus BKPRMI Aceh berharap pengelola masjid supaya lebih banyak “memberi”. Memberi dalam bentuk pelayanan dan kegiatan. Diskusi berlangsung, Kamis, 7 September 2017 dengan topik “Penanggulangan Kemiskinan Berbasis Masjid” di Aula Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.

Selama ini, pengelola masjid telah memberi yang terbaik kepada jamaah dalam bentuk penyediaan fasilitas ibadah, air yang cukup, listrik yang memadai, lantai masjid yang bersih, imam yang hafidz, muazin bersuara merdu, serta khatib yang berbobot. Pengelola masjid juga menyediakan fasilitas pengajian, TPA, peringatan hari-hari besar Islam, bahkan mengorganisir qurban.

Lebih hebat lagi, misalnya,  Masjid Al-Furqan Beurawe, memberi jamaah dengan kegiatan tambahan berupa pengelolaan ZIS, simpan pinjam Baitul Qiradh, hingga pelayanan anak yatim berkelanjutan. Tentu saja tak sebanding dengan Pengurus Masjid Raya Baiturrahman yang memberi cukup banyak kepada jamaah dalam bentuk fasilitas yang dapat dianggap mewah, program siaran radio, halaqah maghrib dan shubuh, lembaga pendidikan Darussyariah, kuliah gratis Bahasa Arab, tempat pernikahan, dan berbagai bentuk pelayanan lainnya.

Namun, tetap saja peserta diskusi terfokus  BKPRMI Aceh menuntut supaya pengelola masjid memberi lebih banyak kepada jamaah. Misalnya, pengelola masjid hendaknya memfasilitasi berbagai kegiatan ramaja masjid, pengembangan wirausaha pemuda/remaja dan mengurus jamaah masjid yang fakir dan miskin. Mereka meminta pengelola masjid “berani” membuat kebijakan anggaran dengan  mendukung dan membiayai berbagai kegiatan di lingkungan masjid. Tidak terbatas dalam konteks pemakmuran masjid, tapi juga pemakmuran jamaah.

Pemakmuran jamaah yang direkomendikan peserta diskusi misalnya membuka usaha produktif , menyediakan modal usaha tanpa bunga dan melakukan pemberdayaan masyarakat miskin di lingkungan masjid. Hal ini dipastikan dapat dilakukan oleh pengelola masjid, karena hampir seluruh masjid tersisa anggaran dalam jumlah banyak. Rata-rata masjid di Banda Aceh memiliki saldo kas bulanan hingga Rp 50 juta.

Masalahnya adalah, diperlukan keberanian pengelola masjid dan edukasi jamaah, sehingga dana masjid boleh juga digunakan untuk membiayai berbagai program dan kegiatan peningkatan kepasitas dan kesejahteraan jamaah. Diperlukan juga perubahan paradigma pengelola masjid tentang pemanfatan dana masjid yang beroriensi pada pelayanan jamaah. Tidak hanya mementingkan pembangunan fisik masjid.

Dalam hal penanggulangan kemiskinan, pengelola masjid bisa bersinergi dengan pemerintah, swasta dan masyarakat. Diperkirakan sekitar 10% dari jamaah masjid yang fakir miskin  membutuhkan perhatian khusus, pelayanan dan pendampingan. Bisa jadi sebagian mereka telah dilayani oleh pemerintah gampong atau instansi terkait, namun terdapat fakta bahwa sebagian jamaah/masyarakat belum memiliki akses atau fasilitasi untuk keluar dari kemiskinan. Disinilah diperlukan sinergi.  

Untuk merealisasikan gagasan ini, perlu juga peningkatan kapasitas pengelola masjid, sehingga mampu menjalankan fungsi tambahan penanggulangan kemiskinan  dan memenuhi harapan peserta diskusi terfokus supaya mampu memberi lebih banyak kepada jamaah. Pengelola masjid harus terampil merancang program dan kegiatan yang berorientasi pelayanan jamaah, penggalangan dana dan melakukan kemitraan dengan berbagai pihak. Harus pula melakukan sosialisasi kepada jamaah, sehingga mereka memahami bahwa kemakmuran masjid  juga mencakup kemakmuran jamaah.

BKPRMI Aceh, melalui diskusi terfokus, telah membuka ruang lebih luas terhadap optimalisasi fungsi masjid sebagai pusat ibadah dan aktivitas ummat. Kita berharap, hasil diskusi tersebut dapat dikomunikasikan dan mendapat sambutan positif dari berbagai pihak, termasuk Pemerintah Aceh, yang juga memprioritaskan penanggulangan kemiskinan dan pengangguran.

Seorang peserta diskusi menyarankan,  hendaknya BKPRMI Aceh menyampaikan hasil diskusi tersebut kepada Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf. Mungkin saja gubernur dan instansi terkait akan merespon dalam bentuk kegiatan percontohan penanggulangan kemiskinan berbasis masjid. Tentu saja peserta diskusi juga akan menindaklanjutinya di masjid tempat tinggal masing-masing, minimal menyebarkan hasil diskusi terfukus itu.  

Sumber: Gema Baiturrahman, 8 September 2017

Senin, 07 Agustus 2017

Bang #SMH

Mengenal Bang Sayed Muhammad Husen #SMH sejak awal 90an lewat kelindan aktivitas di ICMI, BMT/BQ, Muhammadyah, ISKADA, Gema Baitutrahman, Radio Baiturrahman, BKPRMI, hingga PKBI. 

Beliau adalah mentor, abang, dan kawan yang hebat. Interaksi kami lebih banyak lewat pemikiran dan tulisan. Sebagian bermula dari "talkshow" di Radio Rodesco yang dibina kakak beradik Fauzan dan Sayuti Sulaiman.

Sempat diminta banyak pihak ke banyak arah medan perjuangan, #SMH akhirnya berlabuh ke dunia yang ikut dirintisnya untuk Aceh pada masa keemasan ICMI dengan BMT nya: pemberdayaan ummat lewat keuangan mikro dan ekonomi Islam.

Sambil tetap menjadi Pemred Gema Baiturrahman, Pengawas BQ Baiturrahman, dan mengisi talkshow rutin di Radio Baiturrahman, kini Bang #SMH melayani ummat secara rutin juga lewat bagian program Baitul Mal Aceh.

Seorang pejuang Islam berkemajuan yang betul-betul cermin Islam Rahmatan lil 'Alamin.

#SM selalu mendapatkan semangat baru, atau bersemangat kembali, recharging, setiap bertemu beliau.

JazakAllah khairan katsiran, Bang #SMH. Semoga Allah selalu memberkati.  (Dr. Saiful Mahdi, 06/08/2017)


Selasa, 20 Juni 2017

Kota Alquran

Oleh Sayed Muhammad Husen

Alquran kalamullah yang diturunkan pada bulan suci Ramadhan adalah pedoman hidup kaum muslimin dalam berbagai aspek kehidupan. Bagi seorang muslim, Alquran merupakan panduan utama dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat dan bernegara. Membaca Alquran akan mendapatkan pahala yang besar, demikian juga menghafal dan  mengamalkan Alquran dalam kehidupan sehari-hari.     

Allah Swt menegaskan bahwa Alquran  diturunkan dan akan menjaga keabadiannya, sesuai dengan firmanNYa: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Alquran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS Al-Hijr: 9). Maka Alquran  dipastikan tetap orisinil dan dapat dipedomani sepanjang masa.  

“Dan sesungguhnya Alquran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.” (QS. Asy-Syu’araa: 192-194).

Sebagai kalam mulia, Allah Swt memberikan pahala dan hikmah kepada pembaca, penghafal dan ahli tafsir Alquran.  Dengan semangat membaca dan menghafal Alquran akan berdampak terhadap lahirnya spirit mendalami dan memahami kandungan Alquran, sehingga Alquran tidak hanya diaplikasikan sebagai amal ibadah pribadi, namun kandungannya juga akan operasional dalam kehidupan dan pembangunan bangsa.

Jadi membaca, menghafal dan  memahami Alquran bermanfaat bagi peningkatan amal pribadi di dunia dan akhirat kelak, sekaligus menjadi amal sosial dalam bentuk program dan kegiatan pembanguan, yang tentu saja harus dilaksanakan sesuai dengan panduan Alquran. Pribadi dan masyarakat yang dibangun dengan celupan Alquran akan mendapat imbalan yang setimpal dari Allah Swt.

Rasulullah Saw bersabda: “Dikatakan kepada orang yang membaca (menghafalkan) Alquran nanti: ‘Bacalah dan naiklah serta tartillah sebagaimana engkau di dunia mentartilnya. Karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca (hafal).” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).
 “Bacalah Alquran, karena Alquran akan datang pada hari kiamat nanti sebagai pemberi syafaat bagi yang membacanya.” (HR. Muslim).

Membumikan Alquran

Ahli tafsir Prof M Quraish Shihab mempopulerkan istilah membumikan Alquran melalui karyanya yang  monumental pada 1994 dengan tajuk Membumikan Alquran; Fungsi dan Kedudukan wahyu dalam Kehidupan Bermasyarakat. Frasa ini kemudian populer di berbagai kalangan terutama para da’i, juru dakwah, aktivis Islam, cendikiwan muslim, bahkan dikalangan pegiat pembangunan dan pekerja pengembangan masyarakat.

Dalam konteks pembangunan Kota Banda Aceh sekarang ini, membumikan Alquran dapat dilakukan lebih konkret dan aplikatif, sebab relevan dengan prioritas pembangunan yang ada. Misalnya, membangun Kota Madani dipastikan merupakan bagian dari referensi Alquran. Pembangunan Kota Madani tentu saja telah diupayakan semaksimalkan mungkin tidak melanggar Alquran dan mengintegrasikan ajaran Alquan dalam berbagai program dan kegiatan pembangunan kota.

Jadi lebih jauh lagi, Alquran dapat dibumikan dalam berbagai sektor kehidupan, misalnya pada bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi dan sosial budaya. Untuk ini, pastilah memerlukan ilmu pengetahuan dan senergi dengan pihak berkompeten. Tidak bisa Alquran dibumikan oleh bukan ahlinya. Maka diperlukan pendampingan oleh ahli Alquran (ahli tafsir).

Kota Alquran

Dalam konteks mewujudkan Kota Banda Aceh sebagai Kota Alquran, bisa dilukan secara bertahap dari tingkatan membaca, menghafal hingga menafsirkan Alquran. Jika selama ini sudah dimulai dengan kegiatan membaca Alquran secara tartil dan kegiatan menghafal (tahfidz), maka belum lengkap jika belum diprogramkan kegiatan tafsir atau kajian Alquran.

Saya mendapat informasi, bahwa Pemerintah Kota Banda Aceh selama ini sudah memdukung kegiatan Alquran dalam bentuk penguatan TPA melalui Festival Anak Shalih (FASI), bantuan operasional TPA dan tahfidz Alquran berbasis masjid, maka kegiatan dan anggarannya pun perlu terus ditingkatkan dimasa-masa akan datang.

Mewujudkan Kota Alquran dapat dimulai dari kesamaan visi dan misi Pemerintah Kota, yang dilakukan melalui perencanaan pembangunan. Perencanaan ini akan mengikat semua pemangku kepentingan. Selanjutnya pemangku kepentingan menerjemahkannya dalam bentuk program dan kegiatan Alquran yang aplikatif serta indikator yang terukur, disertai komitmen menyediakan anggaran yang memadai.

Indikator Alquran

Sebagai contoh kita jelaskan disini beberapa indikator yang dapat digunakan dalam mewujudkan Kota Alquran misalnya: jumlah siswa tingkat dasar dan menengah yang tartil membaca Alquran, dan indikator ini ditingkatkan lagi menjadi jumlah siswa yang menghafal dan mampu menerjemahkan Alquran perkata. Lalu ditingkatkan menjadi: jumlah pejabat dan masyarakat yang mampu menghafal dan menerjemahkan Alquran.

Indikator lainnya bisa kita rumuskan: jumlah pejabat yang mengkhatam Alquran setiap tahun, jumlah keuchik yang mengikuti pengajian Alquran, jumlah masjid /sekolah/madrasah/dayah/perguruan tinggi yang menyelengarakan program tahfidz Alquran.  Dan hal ini mestilah dikondisikan supaya  melibatkan semua lapisan masyarakat.


Kota Alquran dibangun dengan perencanaan jangka panjang 20 tahun, RPJM 5 tahun dan Rencana Strategis masing-masing SKPD. Tidak bisa hanya dipundakkan kepada satu atau beberapa SKPD saja. Seluruh kompenen Pemerintah Kota, swasta dan masyarakat diharuskan membuat indikator capaian program dan kegiatan Alquran dan melaksakannya sesuai fungsi masing-masing.

Gulirkan gagasan

Saya pikir, momentum peringatan Nuzulul Quran setipa Ramadhan, dapat dijadikan momentum kristalisasi gagasan Kota Banda Aceh sebagai Kota Alquran yang madani dan gemilang. Yaitu sebuah kota yang mengintegrasikan program dan kegiatan Alquran dalam seluruh aspek pembangunan. Dari kota ini akan lahir aparatur dan warga yang mampu membaca Alquran secara tartil, menghafal (menurut kemampuan masing-masing), mampu menerjemahkan atau menafsirkan, serta mengaplikasikan ajaran Alquran dalam semua aspek kehidupan.

Ini adalah gagasan awal, tentu saja, untuk kelanjutannya diperlukan kajian yang mendalam, penelitian dan perencanaan yang baik. Justru yang sangat diperlukan adalah komitmen Walikota dan Wakil Walikota terpilih untuk menuangkan gasasan Kota Alquran dalam RPJM 5 tahun akan datang. Dengan itu kita yakin bahwa Kota Banda Aceh akan menjadi inspirasi dan model kota yang mengaplikasikan Alquran dalam pembangunan. 

Sumber: Warta Banda Aceh, Edisi V Tahun 20017



  



Jumat, 23 Desember 2016

Muhasabah Akhir Tahun

Oleh Sayed Muhammad Husen

Dengan rahmat Allah Swt kita segera memasuki tahun baru 2017 dan meninggalkan 2016 dengan segala suka dan duka.Banyak cerita sukses dan sebagian kita yang lain menyisakan kisah buram sepanjang tahun 2016. Semua itu, tentu saja, berlangsung atas kehendak Allah Swt. Cerita sukses dan demikian juga sebaliknya kisah buran jika kita berpikir positif, semuanya menjadi pembelajaran mahal, yang tak ternilai harganya.

Bagi orang beriman, perjalanan waktu yang sepenuhnya berada dalam pengaturan Allah Swt, memerlukan waktu sejenak berhenti, melakukan refleksi atau bermuhasabah untuk menghitung “untung rugi” perjalan hidup sepanjang tahun.Selanjutnya seorang muslim atau secara komunal jamaah muslim, hendaknya terus menerus meningkatkan amal kebaikan dan kinerja, sehingga akan terus meningkat pada tahun akan datang. 

Allah swt berfirman:  “Hai orang-orang beriman, takut kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah disiapkannya untuk hari esok dan takut kepada Allah, karena Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.  (QS Al-Hasyr: 18)

Sesungguhnya perjalanan waktu yang datang silih berganti, telah diatur sedemikian rupa oleh Allah Swt (sunnatullah), sehingga kita dapat mengambil hikmah dari setiap perubahan yang terjadi. Tak ada yang sia-sia dari pengalaman setahun kita lewati, bahkan kita telah merasakan betapa besarnya nikmat Allah yang telah kita nikmati setahun berlalu, bahkan sepanjang hidup kita. 

Bahkan kita merasakan, semakin hari, hidup kita semakin terarah, semakin berkualitas dan banyak hikmah yang kita dapati dari waktu-waktu yang kita habisi itu. Semuanya tak ada yang sia-sia. Pada akhirnya, kita pun harus terus menelusuri waktu panjang hingga semuanya dapat kita pertanggungjawabkan kepada Allah Swt Sang Pemilik waktu.  

Allah berfirman: “Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-mukminun: 115)

H Zulhamdi M Saad Lc menulis, sesungguhnya penciptaan ini alam, beserta isinya, beserta manusia yang ada didalamnya, serta berlalunya hari yang datang silih berganti bukanlah untuk dilalui dengan permainan dan kesia-siaan belaka, sebagaimana hari-hari itu dilalui oleh mereka yang kafir kepada Allah. Bagi orang beriman tentu tidaklah sama, hari-hari yang mereka lalui ada ketaatan yang dilakukan dan dijalankan.

Dalam ayat lain Allah menegaskan:“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS AliImran: 190)

Kita dapat memahami, bahwa kehidupan manusia melewati waktu panjang, harus berhadapan dengan dinamika, tantangan dan juga peluang untuk mengelola kehidupan ini supaya menjadi lebih baik. Dapat memikul amanah sebagai khalifah Allah Swt di permukaan bumi ini. Maka beruntunglah orang-orang yang mampu mengoptimakan potensinya sebagai makhluk terbaik, sehingga terpilih sebagai insan muttaqin (manusia yang bertaqwa).

Manusia taqwa adalah seorang muslim atau komunitas muslim yang telah menunjukkan kinerja, bakti dan prestasi terbaik pada 2016 dan tahun-tahun sebelumnya. Mareka bahkan mampu mempertahankannya pada 2017 dan tahun tahu-tahun akan datang. Manusia taqwa senantisa bersih dari dosa-dosa dan dekat dengan Rabb-Nya.

Allah berfirman:“Barangsiapa yang mengerjakan amal yang shalih, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hambaNya.” (QS. Fushilat: 46)

Derajat taqwa

Manusia taqwa mampu melakukan muhasabah atau refleksi, sehingga dapat mengkalkulasi kebaikan/amal dan keburukan/dosa-dosa yang dilakukan secara tak sengaja sepanjang tahun. Dengan kalkulasi itu, dia mengoreksi perilaku, ibadah dan kualitas amalnya kepada Allah Swt. Dengan muhasabah, dia mengukur derajat taqwanya kepada Allah Swt dan tingkatan hubungan baik dengan sasama makhluk.     

Kemampuan melakukan muhasabah dia menjadi insan yang cerdas secara emosional dan spritual. Dengan kecerdasan itu, setiap waktu dan pergantian tahun akan bertambah amal salih dan semakin dekat dengan ridha Allah Swt. Bahkan dia semakin siap menghadapi apapun keputusan Allah Swt terhadap dirinya tahun ini dan tahun-tahun akan datang. 

Dari Syaddad bin Aus r.a Rasulullah Saw  bersabda: “Orang yang cerdas adalah orang yang selalu menginstospeksi diri dan beramal untuk kematiannya. Orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan saja kepada Allah.”

Menurut Zulhamdi M Saad,sabda Rasulullah ini menegaskan bahwa seorang yang hanya berangan-angan melakukan amal shalih dan tetap mengikuti keinginan nafsunya adalah mereka yang lemah, karena dikalahkan oleh syahwat. Memang pada dasarnya setiap orang akan dan pernah melakukan kesalahan, berbuat dosa dan maksiat, namun dengan kesadaran dari kekhilafan akan membuat seseorang menjadi seorang mukmin yang baik tatkala melakukan taubat dengan sebenar-benarnya.

Dalam konteks karier dan pembangunan, bisa saja kita telah melakukan kekhilafan dan dosa-dosa individual dan sosial pada 2016, maka seharusnya di penghujungan tahun ini kita melakukan muhasabah untuk membangun kesadarann taubat yang sebenar-benernya. Taubat itu kita dengan cara meminta ampun kepada Allah Swt dan kepada pemangku kepentingan yang telah kita rugikan atau zalimi. Taubat kita lakukan dengan menyadari kelemahan, mengoreksi kesalahan dan  meningkatkan kinerja/prestasi. Meningkatkan bakti kita dalam membangun negeri ini.

Karena itu, sudah seharusnya kita gunakan momentum akhir tahun untuk melakukan muhasabah, tanpa membedakan tahun miladiah atau qamariah. Setiap waktu kita dapat mengadakan muhasabah --dalam berbagai bentuk-- untuk mengevaluasi pekerjaan dan ibadah kepada Allah Swt. Sehingga kelemahan pekerjaan dan ibadah dapat kita perbaiki pada tahun akan datang. Semoga Allah Swt memberi waktu bagi kita semua untuk terus beramal shalih, taubat dan menata negeri ini supaya lebih baik lagi.  *

Sumber: Warta Banda Aceh Edisi XII/2017 



Memahami Ma’had Tahfidz

Oleh: Sayed Muhammad Husen Tim Verifikasi Banda Aceh dan Aceh Besar Baitul Mal Aceh (Tim Abes) melakukan verifikasi calon mustahik penerima...