Minggu, 05 Februari 2023

50 Tahun Iskada: Saatnya Kembali ke Basis Dakwah Semula

Oleh: Sayed Muhammad Husen

Sebagai utusan KNPI Sabang saya mengikuti lomba pidato KNPI  se Aceh tahun 1984 di Banda Aceh. Panitia pelaksana menyediakan akomodasi peserta di Wisma Jangkar, Simpang Lima, Banda Aceh. Saya tinggal sekamar dengan Jamaluddin T Muku  dan Qusaiyen Ali (alm). Dari dua sahabat ini saya mendapatkan informasi pertama kali tentang Iskada (Ikatan Siswa Kader Dakwah), yang memang saya buktikan di lomba pidato itu bahwa peserta yang pernah mengikuti kursus Iskada unggul dalam berpidato.   

Berikutnya, tahun 1986, saya mendaftar sebagai peserta kursus Iskada yang berlangsung setiap Ahad siang di Masjid Raya Baiturrahman (MRB). Kami angkatan ke 16. Setiap peserta diwajibkan menyumbang 2 buku agama untuk perpustakaan Iskada dan harus mengikuti kursus selama satu tahun, yang berakhir dengan praktik ceramah di dua masjid atau musalla. Saya pilih musalla Prada (sekarang masjid Al Hidayah) dan meunasah Gampong Jeulingke.

Salah seorang peserta kursus ketika itu yang saya ingat, Ratna Juwita, sebab dia peserta pertama yang berani tampil praktik pidato di kelas. Sekarang Ratna bekerja sebagai panitra di Mahkamah Syar’iyah Aceh. Dia MC andalan di kantornya. Sementara saya mendapat giliran praktik pada Ahad berikutnya, dengan pilihan peran sebagai “camat”.

Kursus Ikada memadukan teori dan praktik. Setiap praktik, dikondisikan seakan sedang berlangsung suatu acara, misalnya peringatan har-hari besar Islam. Sehingga akan ada yang berperan sebagai MC, sambutan-sambutan dan penceramah. Setiap praktik berkesempatan tampil beberapa orang, dengan tingkat “kesulitan” pidato yang berbeda. Biasanya kawan-kawan agak menghindar jadi penceramah, sebab perlu penguasaan materi yang lebih mendalam.

Tahun-tahun berikutnya saya lebih aktif di PII (Pelajar Islam Indonesia) dibandingkan Iskada. Dengan jabatan di berbagai jenjang kepengurusan PII dan aktivitas mengelola training pengkaderan, praktis saya tak sempat lagi menjadi pengurus atau datang bergabung dengan Iskada. Terakhir, sebagai guru SMP Persit Kartika (1990-1995), saya sempat melatih dan mendampingi murid Persit mengikuti Lomba Cerita Agama Iskada di halaman MRB.

Saya mengikuti “diskusi” antara aktivis PII dan Iskada tahun 1990-an. Ketika itu, kawan-kawan PII menganggap Iskada tak cukup hanya menyelenggarakan kursus pidato mingguan, namun perlu juga mengadakan training kader seperti PII. Training dianggap efektif melahirkan kader yang terampil pidato, sekaligus memiliki kemampuan manajemen dan kepemimpinan. Akhirnya Iskada “terpengaruh” juga dengan pola pembinaan PII dan mulai mengurangi kursus pidato (dakwah).

Diskusi berikutnya adalah, bagaimana Iskada meningkatkan menajemen dan SDM dakwah melalui program kuliah diploma bidang dakwah, misalnya. Iskada pun tak mampu mewujudkannya. Jutru kemudian peluang ini diambil oleh Dewan Dakwah Aceh dengan mendirikan ADI (Akademi Dakwah Indonesia), yang merupakan bagian dari program S1 Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Mohammad Natsir, Jakarta.

Akhirnya Iskada lebih fokus mengelola training kader dakwah dan sama sekali meninggalkan program kursus dakwah mingguan. Tak ada lagi wadah latihan pidato seperti kami ikuti tahun 1986. Kemudian, saya penah menyampaikan ke kawan-kawan pengurus Iskada tentang kebutuhan host dan narasumber dakwah di radio dan televisi, itu pun belum dapat direspon oleh Iskada. Sebab ketika itu, Iskada memang sedang berhadapan dengan problem konsolidasi organisasi.

Sekarang, ketika Iskada berusia 50 tahun,  apakah Iskada masih perlu “memproduksi” juara-juara pidato sekaliber Tgk Sri Darmawan. Apakah Iskada memerlukan profil kader intelektual seperti Dr A Mufakhir Muhammad, Dr M Yasir Yusuf, dan Dr Muhammad Haikal, yang mampu menjadi narasumber atau khatib di MRB? Atau, sosok pimpinan lembaga dakwah seperti Ketua PB Iskada sekarang, Azwir Nazar, yang punya jaringan internasional. Bisa jadi Iskada juga masih membutuhkan kader militan dan komited melakukan amar makruf nahi mungkar, semisal Baharuddin AR MSi.

Ketika Iskada memperingati milad ke 50 tahun (5 Februari 2023), saya jadi ingat kembali spirit  awal Iskada membina siswa atau pelajar. Mereka yang masih menempuh pendidikan tingkat SMP dan SMA ini pasti memerlukan sentuhan dakwah Iskada. Mungkin saja yang sedang belajar di pesantren terpadu, boarding school atau madarasah Kemenag tak sangat memerlukan lirikan Iskada, namun pelajar SMP dan SMA yang pendidikannya masih “sekuler” itu justru sangat mengharapkan dampingan Iskada.

Lihat saja kasus terbaru Geng Remaja Bercelurit Hebohkan Lhokseumawe (Serambi Indonesia 30 Januari 2023). Pihak kepolisian mengatakan, bersama 13 remaja usia 14-17 tahun yang melakukan pengroyokan itu menyita enam senjata tajam, seperti celurit, pisau, pedang, dan parang. Sementara psikolog Lailan Fajri Saidina mengangap ini adalah hal baru, terjadi karena pengaruh media sosial dan vidio geme.  

Kasus lain, Kepala SMA Negeri I Banda Aceh menerbitkan imbauan kepada orang tua/wali murid untuk mengawasi kegiatan anak-anaknya, sebagai upaya mencegah terjadinya tawuran antar sekolah, Ahad, (14/1/2023). Bisa jadi hal ini adalah kekhawatiran berlebihan manajemen sekolah, namun potensi tawuran di kalangan siswa tetap saja ada. Dua kasus ini ibarat fenomena gunung es, yang bisa saja akan menjadi fakta yang tak mudah dikendalikan, apabila tidak dilakukan antisipasi dini.

Pertanyaan penting di tengah milad Iskada ke 50, berapa persen remaja atau siswa yang datang ke masjid hari Jumat mendengarkan khutbah dan shalat Jumat? Apa pula aksi dakwah  Iskada mendakwahi mereka supaya shalat Jumat dan shalat lima waktu? Apakah kegiatan Rohis, program diniyah,  atau lembaga dakwah sekolah masih berlangsung efektif di SMP dan SMA?

Karena itu, aktualisasi peran Iskada untuk menutupi kelemahan sistem pendidikan SMP dan SMA adalah kembali ke sekolah, yaitu kembali mendakwahkan siswa dengan berbagai metode. Pendekatan lainnya adalah meningkatkan dakwah remaja atau siswa melalui platform media sosial. Jadi sudah waktunya Iskada tampil tidak “terlalu tua”, sebab sasaran dakwah potensial sekarang adalah 30% dari jumlah masyarakat Aceh, yaitu kaum milenial. Tentu saja mereka memerlukan pendekatan dakwah yang sesuai dengan psikologi remaja. Mungkin juga kaum milenial membutuhkan latihan pidato, public speaking, atau training kader, namun dengan metoda yang lebih inovatif. 

Selamat milad Iskada, selamat kembali ke basis dakwah semula.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Memahami Ma’had Tahfidz

Oleh: Sayed Muhammad Husen Tim Verifikasi Banda Aceh dan Aceh Besar Baitul Mal Aceh (Tim Abes) melakukan verifikasi calon mustahik penerima...