Jumat, 17 Februari 2023

Memahami Peristiwa Israk Mi’raj

Oleh: Sayed Muhammad Husen

Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (Sekjen MUI), Buya Amirsyah Tambunan, menyampaikan, Israk Mi’raj merupakan salah satu peristiwa penting bagi umat Islam. Pada peristiwa ini, Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan agung menuju langit ketujuh untuk menerima perintah sholat dari Allah SWT.

"Setiap tahun umat Islam seluruh dunia peringati peristiwa ini, karena merupakan salah satu peristiwa penting bagi umat Islam. Pada peristiwa inilah beliau mendapat perintah untuk menunaikan shalat lima waktu sehari semalam," kata Amirsyah sebagaimana dilansir Republika.

Amirsyah menyampaikan pesan kepada segenap umat Islam di momen peringatan Israk Mi’raj ini, pertama, tingkatkan kualitas spiritual, karena peristiwa Israk dan Mi’raj merupakan peristiwa yang menakjubkan ketika Allah memperjalankan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Al-Aqsa, dan dari Masjidil Al-Aqsa ke Sidratul Muntaha di langit ke tujuh.

Amirsyah menegaskan, kecepatan perjalanan Israk Mi’raj telah melampaui kecepatan teknologi yang ada saat ini, maka dari peristiwa yang menakjubkan ini seharusnya membuat para ilmuan terus melakukan kajian teknologi yang sejalan dengan perinsip ajaran Islam.

Pesan selanjutnya di momen peringatan Israk Mi’raj ini adalah agar umat Islam meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Israk adalah perjalanan Rasulullah SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Al-Aqsa dalam waktu yang singkat meski jaraknya diperkirakan mencapai sekitar 1.239 Km.

Jadi dengan memahami peristiwa Israk dan Mi’raj, umat Islam dapat memperkuat iman dan taqwa kepada Allah, sedangkan dalam aspek ilmu pengetahuan dan teknologi, umat Islam harus menguasai teknologi, bukan teknologi yang menguasai manusia. Demikian pula, tak bisa dipisahkan antara iman, ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dengan setiap tahun umat Islam memperingati dan memahami pesan-pesan Israk dan Mi’raj,  akan semakin terbuka juga peluang terbangunnya peradaban baru Islam yang didukung oleh SDM yang unggul di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, disertai secara spritualitas umat Islam mendapat ridha Allah Swt di dunia dan akhirat, beda sama sekali dengan kaum kuffar.

Sumber: Gema Baiturrahman, 17/2/2023/26 Rajab 1444      


Jumat, 10 Februari 2023

Media Islam dan Konten Islami Sama Pentingnya

Oleh: Sayed Muhammad Husen

Media Islam harus mengandung tiga unsur sekaligus. Pertama, media yang dimiliki oleh orang Islam atau organisasi atau kelompok Islam. Kedua, media yang seluruh isinya mengemban misi dakwah, mengajak kepada kebaikan (ma’ruf) dan mencegah kemungkaran. Ketiga, media yang dikelola secara islami dan para pengelolanya pun islami.

Pertanyaannya, tulis Mahladi sebagaimana dilansir Hidayatullah.com, adakah media pers seperti itu? Dari dulu sampai sekarang, tidak banyak. Bahkan sedikit sekali. Tak banyak pula pemodal yang mau menghabiskan uangnya untuk membuat media seperti itu. Sebab, tak akan menguntungkan.

Namun, bukan berarti konten-konten islami tak banyak beredar di media massa, termasuk pers. Konten-konten islami justru sangat banyak tersebar di berbagai media besar. Bahkan, semua media, pasti memiliki konten islami dengan kadar yang berbeda-beda.

Terlebih saat ini dunia telah sampai pada era media sosial. Pada era ini, media bukan lagi raja. Sebab, semua orang bisa membuat media publikasi dengan mudah. Justru saat ini kontenlah yang menjadi raja. Siapa yang pandai membuat konten, dia yang berpeluang mengendalikan opini.

Jika mengacu pada tiga kriteria media Islam sebagaimana dikemukan Mahladi,  maka jumlah media Islam akan sedikit sekali. Sangat jauh jika dibandingkan media yang tidak memenuhi kriteria di atas.

Tapi tak perlu bekecil hati. Sebab, konten islami sangat banyak. Konten-konten tersebut tersebar di seluruh media, baik besar maupun kecil. Meskipun media-media tersebut tak sempurna menjalankan misi dakwah, namun tetap harus kita syukuri, karena mereka telah berbuat.

Teruskan menciptakan media Islam atau memproduksi konten islami untuk memenangkan opini Islam dan umat Islam. Tentu saja akan lebih sempurna jika kita mampu menggalang potensi sumber daya manusia, finansial, dan berbagai kekuatan umat untuk mendukung media Islam yang profesional, yang membela tegaknya syariat Islam.

Sumber: Gema Baiturrahman 10/2/2023 atau 19 Rajab 1444

Minggu, 05 Februari 2023

50 Tahun Iskada: Saatnya Kembali ke Basis Dakwah Semula

Oleh: Sayed Muhammad Husen

Sebagai utusan KNPI Sabang saya mengikuti lomba pidato KNPI  se Aceh tahun 1984 di Banda Aceh. Panitia pelaksana menyediakan akomodasi peserta di Wisma Jangkar, Simpang Lima, Banda Aceh. Saya tinggal sekamar dengan Jamaluddin T Muku  dan Qusaiyen Ali (alm). Dari dua sahabat ini saya mendapatkan informasi pertama kali tentang Iskada (Ikatan Siswa Kader Dakwah), yang memang saya buktikan di lomba pidato itu bahwa peserta yang pernah mengikuti kursus Iskada unggul dalam berpidato.   

Berikutnya, tahun 1986, saya mendaftar sebagai peserta kursus Iskada yang berlangsung setiap Ahad siang di Masjid Raya Baiturrahman (MRB). Kami angkatan ke 16. Setiap peserta diwajibkan menyumbang 2 buku agama untuk perpustakaan Iskada dan harus mengikuti kursus selama satu tahun, yang berakhir dengan praktik ceramah di dua masjid atau musalla. Saya pilih musalla Prada (sekarang masjid Al Hidayah) dan meunasah Gampong Jeulingke.

Salah seorang peserta kursus ketika itu yang saya ingat, Ratna Juwita, sebab dia peserta pertama yang berani tampil praktik pidato di kelas. Sekarang Ratna bekerja sebagai panitra di Mahkamah Syar’iyah Aceh. Dia MC andalan di kantornya. Sementara saya mendapat giliran praktik pada Ahad berikutnya, dengan pilihan peran sebagai “camat”.

Kursus Ikada memadukan teori dan praktik. Setiap praktik, dikondisikan seakan sedang berlangsung suatu acara, misalnya peringatan har-hari besar Islam. Sehingga akan ada yang berperan sebagai MC, sambutan-sambutan dan penceramah. Setiap praktik berkesempatan tampil beberapa orang, dengan tingkat “kesulitan” pidato yang berbeda. Biasanya kawan-kawan agak menghindar jadi penceramah, sebab perlu penguasaan materi yang lebih mendalam.

Tahun-tahun berikutnya saya lebih aktif di PII (Pelajar Islam Indonesia) dibandingkan Iskada. Dengan jabatan di berbagai jenjang kepengurusan PII dan aktivitas mengelola training pengkaderan, praktis saya tak sempat lagi menjadi pengurus atau datang bergabung dengan Iskada. Terakhir, sebagai guru SMP Persit Kartika (1990-1995), saya sempat melatih dan mendampingi murid Persit mengikuti Lomba Cerita Agama Iskada di halaman MRB.

Saya mengikuti “diskusi” antara aktivis PII dan Iskada tahun 1990-an. Ketika itu, kawan-kawan PII menganggap Iskada tak cukup hanya menyelenggarakan kursus pidato mingguan, namun perlu juga mengadakan training kader seperti PII. Training dianggap efektif melahirkan kader yang terampil pidato, sekaligus memiliki kemampuan manajemen dan kepemimpinan. Akhirnya Iskada “terpengaruh” juga dengan pola pembinaan PII dan mulai mengurangi kursus pidato (dakwah).

Diskusi berikutnya adalah, bagaimana Iskada meningkatkan menajemen dan SDM dakwah melalui program kuliah diploma bidang dakwah, misalnya. Iskada pun tak mampu mewujudkannya. Jutru kemudian peluang ini diambil oleh Dewan Dakwah Aceh dengan mendirikan ADI (Akademi Dakwah Indonesia), yang merupakan bagian dari program S1 Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Mohammad Natsir, Jakarta.

Akhirnya Iskada lebih fokus mengelola training kader dakwah dan sama sekali meninggalkan program kursus dakwah mingguan. Tak ada lagi wadah latihan pidato seperti kami ikuti tahun 1986. Kemudian, saya penah menyampaikan ke kawan-kawan pengurus Iskada tentang kebutuhan host dan narasumber dakwah di radio dan televisi, itu pun belum dapat direspon oleh Iskada. Sebab ketika itu, Iskada memang sedang berhadapan dengan problem konsolidasi organisasi.

Sekarang, ketika Iskada berusia 50 tahun,  apakah Iskada masih perlu “memproduksi” juara-juara pidato sekaliber Tgk Sri Darmawan. Apakah Iskada memerlukan profil kader intelektual seperti Dr A Mufakhir Muhammad, Dr M Yasir Yusuf, dan Dr Muhammad Haikal, yang mampu menjadi narasumber atau khatib di MRB? Atau, sosok pimpinan lembaga dakwah seperti Ketua PB Iskada sekarang, Azwir Nazar, yang punya jaringan internasional. Bisa jadi Iskada juga masih membutuhkan kader militan dan komited melakukan amar makruf nahi mungkar, semisal Baharuddin AR MSi.

Ketika Iskada memperingati milad ke 50 tahun (5 Februari 2023), saya jadi ingat kembali spirit  awal Iskada membina siswa atau pelajar. Mereka yang masih menempuh pendidikan tingkat SMP dan SMA ini pasti memerlukan sentuhan dakwah Iskada. Mungkin saja yang sedang belajar di pesantren terpadu, boarding school atau madarasah Kemenag tak sangat memerlukan lirikan Iskada, namun pelajar SMP dan SMA yang pendidikannya masih “sekuler” itu justru sangat mengharapkan dampingan Iskada.

Lihat saja kasus terbaru Geng Remaja Bercelurit Hebohkan Lhokseumawe (Serambi Indonesia 30 Januari 2023). Pihak kepolisian mengatakan, bersama 13 remaja usia 14-17 tahun yang melakukan pengroyokan itu menyita enam senjata tajam, seperti celurit, pisau, pedang, dan parang. Sementara psikolog Lailan Fajri Saidina mengangap ini adalah hal baru, terjadi karena pengaruh media sosial dan vidio geme.  

Kasus lain, Kepala SMA Negeri I Banda Aceh menerbitkan imbauan kepada orang tua/wali murid untuk mengawasi kegiatan anak-anaknya, sebagai upaya mencegah terjadinya tawuran antar sekolah, Ahad, (14/1/2023). Bisa jadi hal ini adalah kekhawatiran berlebihan manajemen sekolah, namun potensi tawuran di kalangan siswa tetap saja ada. Dua kasus ini ibarat fenomena gunung es, yang bisa saja akan menjadi fakta yang tak mudah dikendalikan, apabila tidak dilakukan antisipasi dini.

Pertanyaan penting di tengah milad Iskada ke 50, berapa persen remaja atau siswa yang datang ke masjid hari Jumat mendengarkan khutbah dan shalat Jumat? Apa pula aksi dakwah  Iskada mendakwahi mereka supaya shalat Jumat dan shalat lima waktu? Apakah kegiatan Rohis, program diniyah,  atau lembaga dakwah sekolah masih berlangsung efektif di SMP dan SMA?

Karena itu, aktualisasi peran Iskada untuk menutupi kelemahan sistem pendidikan SMP dan SMA adalah kembali ke sekolah, yaitu kembali mendakwahkan siswa dengan berbagai metode. Pendekatan lainnya adalah meningkatkan dakwah remaja atau siswa melalui platform media sosial. Jadi sudah waktunya Iskada tampil tidak “terlalu tua”, sebab sasaran dakwah potensial sekarang adalah 30% dari jumlah masyarakat Aceh, yaitu kaum milenial. Tentu saja mereka memerlukan pendekatan dakwah yang sesuai dengan psikologi remaja. Mungkin juga kaum milenial membutuhkan latihan pidato, public speaking, atau training kader, namun dengan metoda yang lebih inovatif. 

Selamat milad Iskada, selamat kembali ke basis dakwah semula.

Jumat, 03 Februari 2023

Fungsi Utama Olahraga

Oleh: Sayed Muhammad Husen

Tiga fungsi utama olahraga  menurut Islam, yakni yang pertama menjaga diri (self defense). Olahraga membuat fisik seseorang menjadi kuat. Latihan yang kontinu dan teratur memunculkan manfaat kebugaran  dan energi, agar bisa membela diri dari serangan musuh. Pembelaan dan penjagaan diri adalah tuntunan dasar. Mempertahankan nyawa adalah satu dari lima hak yang dilindungi dalam Islam (dharuriyat al-khamsah).

Fungsi kedua, sebagaimana dilansir Republika.co.id, olahraga merupakan media persiapan yang menguatkan pasukan muslim untuk berjihad di jalan Allah SWT. Perang bukan hanya adu strategi, tetapi juga butuh kelihaian menggunakan senjata, kelincahan berkuda, dan penguasaan panah. Ini semua hanya bisa ditempuh melalui latihan yang kontinu, sarananya adalah berolahraga.

Kemudian, fungsi olahraga ketiga adalah menjaga kesehatan tubuh. Fisik yang sehat adalah anugerah tak terkira dari Sang Khalik. Karunia itu harus tetap dijaga sebagai bentuk syukur. Ada banyak cara menjaga tubuh agar tetap bugar dan sehat, seperti asupan gizi dan nutrisi yang cukup. Dengan berolahraga, aliran darah lancar dan metabolisme tubuh menjadi seimbang.


Memang terkadang olahraga kerap mengalihkan perhatian seseorang dari berzikir, bahkan diidentikkan dengan kegiatan yang cenderung melalaikan. Padahal, tidak sepenuhnya asumsi tersebut dibenarkan. Olahraga, tetap saja boleh, bahkan harus karena beberapa alasan tadi. Tentu, selama koridornya tetap dijaga.


Semangat ini sesuai dengan hadis riwayat at-Thabrani yang menyebutkan, segala aktivitas yang tidak ada unsur ritual, zikir kepada Allah SWT, dikategorikan kelalaian dan pengalihan kecuali empat aktivitas, yakni belajar panahan, latihan berku da, bermain dengan keluarga, dan belajar renang.


Karena itu, kita menganggap penting pembiasaan dan pembudayaan olahraga pada setiap lambaga pendidikan dan kelompok masyarakat. Dengan olahraga yang kontinu akan terwujud masyarakat, bangsa, dan jamaah kaum muslim yang sehat fisik, kuat mental, dan cerdas pikiran. Pimpinan lembaga pendidikan dan tokoh-tokoh masyarakat seharusnya mendukung berbagai aktivitas dan perlombaan olahraga, sejauh memperhatikan prinsip-prinsip Islam. Tak boleh ada olahraga yang melanggar syariat Islam di Aceh.


Sumber: Gema Baiturrahman, (3/2/2023)

Selasa, 31 Januari 2023

Sayed Muhammad Husen: Wakaf Wujudkan Keadilan Sosial Ekonomi

Sayed Muhammad Husen mengabdikan lebih dari setengah usianya di bidang filantropi Islam. Mengawali karirnya ketika membangun Baitul Qiradh Baiturrahman di tahun 1995, kemudian membawanya ke Baitul Mal Aceh sejak tahun 2004. Sejak di Baitul Qiradh Baiturrahman, Sayed  mulai mempelajari dengan serius bagaimana filantropi Islam itu berjalan di Baitul Qiradh Baiturrahman. Dia mulai melihat lembaga sosial dan lembaga ekonomi berjalan satu atap. Namun,  perpaduan dua orientasi itu, tidak membuatnya puas. Kecenderungannya lebih kuat untuk mengurusi lembaga sosial yang memiliki fokus pada zakat, infak dan wakaf. Pengalaman yang tidak pernah dia lupakan sepanjang hidupnya, ketika melihat antusiame para pedagang yang sudah menua untuk menyalurkan infaknya melalui  Baitul Qiradh Baiturrahman.

Jejak langkah intelektual dan aktivisme Sayed Muhammad Husen dimulai ketika menapaki bangku kuliah di Universitas Syiah Kuala. Sayed memilih untuk bergabung dengan UKM FOSMA tahun 1985. Kemudian, dua tahun setelahnya, dia menjadi ketua organisasi kajian keislaman kemahasiswaan itu. Saat itu, lembaga yang dipimpinya melakukan kajian setiap Sabtu di salah satu mushalla di kampus tersebut. Pengajian-pengajian di UKM FOSMA di tahun-tahun itu, diampu oleh ormas Pelajar Islam Indonesia (PII), HMI dan dosen-dosen dari IAIN AR Raniry.

Salah satu topik yang dibicarakan di FOSMA mengenai peta potensi zakat di Aceh oleh Dr Iskandar Daoed, yang lalu dimuat di Harian Serambi Indonesia. Sejak saat itu, Sayed mulai menekuni isu zakat dan berinteraksi dengan teman-temannya yang bekerja di BAZIS. Lalu ikut training BMT (Baitul Mal wat Tamwil), yang konsepnya dipraktikkan pada Baitul Qiradh. Setelah tiga tahun di Baitul Qiradh, Sayed semakin serius mempelajari konsep zakat dan infak, dan mulai berpikir lebih fokus mengurusi pekerjaan sosial tersebut. Oleh karena itu, dia berkeinginan bekerja di lembaga Baitul Mal yang sedang dalam fase transisi dari BAZIS di Aceh (2002). Harapannya terkabul. Sejak tahun 2004 Sayed semakin mencurahkan perhatian, baik dengan membaca dan menulis isu-isu zakat dan infak di lembaga itu.

Dalam lima tahun terakhir ini, ASN pada Baitul Mal Aceh ini hendak memulai tantangan baru, setelah dua dekade lebih dia bekerja pada isu zakat dan infak, dengan mencoba mempelajari konsep wakaf. Sayed, atas nama pengalamannya, melihat kalau zakat selama ini lebih banyak penyalurannya untuk charity. Pemberdayaan yang diharapkan dari penyaluran zakat belum terlaksana dengan baik, karena masyarakat masih membutuhkan charity guna memenuhi kebutuhan hidup yang mendesak. Sementara konsep wakaf membuka kesempatan yang luas untuk pemberdayaan masyarakat. Hal tersebut dikarenakan aset wakaf harus abadi, lestari, dan tidak boleh dijadikan agunan, sebab yang disalurkan adalah hasil dari wakaf itu.

Sayed dengan sepenuh hati meyakin potensi wakaf di Aceh. Dia selalu menjadikan kisah wakaf sumur Ustman bin Affan dan Baitul Aisyi sebagai inspirasi jalan filantropinya. Namun, dia masih menemukan pemahaman yang terbatas tentang wakaf di Aceh: yang masih berkisar tentang tanah untuk masjid, sawah, kuburan dan madrasah. Padahal perundang-undangan sekarang membuka peluang untuk memaksimalkan potensi wakaf. Salah satunya dengan diaturnya cash waqf.

Potensi yang besar ini, dilihat oleh Sayed dapat dimaksimakan ketika adanya edukasi kepada masyarakat dengan menujukkan fakta yang ada. Sayed menyadari hal tersebut karena perjalanannya yang lama bekerja di Baitul Mal Aceh. Dia melihat, potensi umat belum diurus secara maksimal. Dalam bayangannya, wakaf harus dikelola dengan modern dan canggih. Wakaf yang dipadukan dengan zakat diyakinya dapat menyelesaikan persoalan umat yang lebih besar.

Melalui wakaf, Sayed berkeyakinan akan tercapai keadilan sosial ekonomi. Oleh karena itu, wakaf harus dikelola secara modern melalui penataan manajemen, seperti memaksimalkan pengelolaan wakaf uang, kemudian memberi edukasi marketing dan manajemen agar uang itu bisa abadi. Oleh karenanya, perlu SDM yang unggul dalam pengelolaan dana, komunikasi dan mendayagunakan uang tersebut untuk memberdayakan ekonomi, sehingga orang miskin bisa keluar dari kemiskinannya. (Muhammad Alkaf)

 

 

Pengurus Lembaga Zakat Selangor Malaysia Kunjungi BMA

Ketua Badan BMA, Mohammad Haikal meyerahkan cinderamata kepada Eksekutif Dakwah dan Syariah, Ustaz Hamizul bin Abdul Hamid dari Lembaga Zakat Selangor Malaysia dalam kunjungan ke BMA, Selasa (31/1/2023). Salah satu cenderamata yang diserahkan adalah buku 100 Catatan Amil karya Sayed Muhammad Husen. 

Foto: Putra Misbah


Baitul Mal Aceh (BMA) menerima kunjungan Lembaga Zakat Selangor Malaysia. Kunjungan tersebut diterima langsung Ketua Badan BMA, Mohammad Haikal berserta para amil lainnya di ruang rapat BMA, Selasa (31/1/2023). Dari Lembaga Zakat Selangor Malaysia diwakili Eksekutif Dakwah dan Syariah, Ustaz Hamizul Abdul Hamid.

Dalam pertemuan tersebut, Ustaz Hamizul menceritakan, Lembaga Zakat Selangor memiliki kesamaan dengan BMA yaitu sama-sama pengelolaan dana zakat dan infak yang dikelola oleh pemerintah. Bedanya, di sana zakat menjadi faktor pengurang pajak, sementara di Aceh masih dalam proses melengkapi regulasi.

“Di Malaysia urusan agama termasuk zakat langsung diurus oleh negara. Selangor adalah negeri yang dinilai bagus di antara negeri lain. Kelebihan di sana zakat dapat mengurangi jumlah pajak,” ungkap Ustaz Hamizul.

Ia menjelaskan, setiap penghasilan pegawai akan dipotong pajak terlebih dahulu, nanti di akhir tahun akan dikembalikan apabila yang bersangkutan menunaikan zakat.

Ia juga mengakui, Selangor merupakan daerah yang paling banyak jumlah pendapatan zakat. Namun, jumlah masyarakat miskin juga banyak, tetapi angka kriminal lebih sedikit, sebab peran dana zakat dalam menekan angka krimininal cukup efektif.

“Masyarakat di sana tidak begitu ingin tahu berapa jumlah pengumpulan dana zakat dan infak, tapi lebih kepada ke mana zakat yang sudah dipotong langsung itu dibelanjakan oleh para amil,” imbuhnya.

Kemudian, yang menariknya dari penjelasan Ustaz Hamizul, Selangor menyalurkan zakat untuk senif riqab. Program untuk senif ini, diperuntukkan kepada mereka yang terlibat aliran sesat untuk dibina kembali, LGBT, dan beberapa kasus yang dianggap punya hubungan dengan perbudakan.

“Kita tidak memberikan bantuan langsung ke tangan mereka, tetapi melalui lembaga lain untuk dilakukan pembinaan. Kalau kita kasih langsung bukan menyelesaikan masalah, malah dianggap menambah masalah akibat orang yang terlibat aliran sesat kita kasih bantuan,” ujarnya lagi.

Sementara itu, Ketua Badan BMA, Mohammad Haikal dalam pertemuan itu menjelaskan tugas pokok dan fungsi BMA. Badan amil resmi Pemerintah Aceh ini melalui dana zakat dan infak telah membantu dan memberdayakan masyarakat kurang mampu.

“Baitul Mal Aceh menyalurkan dana zakat sesuai keputusan dewan pertimbangan syariah. Program pemberdayaan zakat dan infak terdiri atas beberapa sektor, di antaranya sektor sosial, pendidikan, kesehatan, ekonomi, pembinaan syariat, dan sektor-sektor lainnya yang dianggap layak dibantu,” jelasnya.

Mohammad Haikal menambahkan, setiap penerima bantuan BMA sudah melalui proses verifikasi terlebih dahulu oleh amil. Jika calon penerima dianggap layak menerima zakat, maka akan disalurkan melalui rekening bank masing-masing mustahik.

“Baitul Mal Aceh juga memili satu program respons cepat yang diberi nama BaGAH, akronim dari Baitul Mal Aksi Humanis. Program ini untuk merespons cepat setiap kondisi emergensi yang harus segera dibantu oleh Baitul Mal Aceh, seperti bencana alam dan kondisi lainnya.” tutup Mohammad Haikal. (Hayatullah Zuboidi)

Senin, 30 Januari 2023

Penulis Buku Merawat Bingkai Syariah

Biodata Penulis

Sayed Muhammad Husen, lahir di Trienggadeng, 4 September 1965, pernah kuliah di Program Studi Bimbingan Konseling, FKIP, USK, 1985-1991 dan Program Studi Ilmu Komunikasi ISIP UT 2009-2019. Saat ini, bekerja sebagai PNS (Nazir Wakaf) di Sekretariat Baitul Mal Aceh (BMA). Posisi jabatan di BMA pernah sebagai Kabid Sosialisasi dan Pengembangan 2012-2014, Kabid Pengumpulan Zakat 2004-2011.

Selain di BMA, pengalaman karier penulis pernah menjadi Direktur KSPPS Baitul Qiradh Baiturrahman 1995-2001, Guru Bimbingan Karier Madrasah Aliyah Ibnu Araby 1994, Sekretaris Eksekutif Forum LSM Aceh 1992-1994, Guru Bimbingan Konseling SMP Tgk. Chik Di Tiro Persit 1990-1995.

Penulis aktif di berbagai organisasi di antaranya Humas BWI Aceh 2021-2024, Ketua Pengawas KSPPS Baitul Qiradh Baiturrahman 2017-2022, Ketua Bidang ZISWAF dan Organisasi Nirlaba Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Aceh 2007-2020, Bidang Ekonomi PW Keluarga Besar PII Aceh 2013 - sekarang, Wakil Sekretaris LAZISMU Aceh 2010-2015, dan Anggota Komisi Ekonomi Ummat MPU Aceh 2004-2007.

Pemimpin Redaksi Tabloid Gema Baiturrahman ini sudah mendapatkan sertifikasi nazir wakaf profesional dari LSP Badan Wakaf Indonesia (BWI), serta aktif menjadi narasumber di berbagai pelatihan seperti wakaf, zakat, menulis, dan manajemen organisasi. Kini penulis hidup bahagia bersama istrinya Dra. Bunaizah Sulaiman dan buah hati mereka Rafidah Assa’adah di Aceh Besar. (Zulfurqan)

Memahami Ma’had Tahfidz

Oleh: Sayed Muhammad Husen Tim Verifikasi Banda Aceh dan Aceh Besar Baitul Mal Aceh (Tim Abes) melakukan verifikasi calon mustahik penerima...