Spirit utama memperingati maulid Rasulullah Muhammad SAW adalah mendongkrak semangat muslimin untuk membela kepentingan Islam. Seyogyanya ummat Islam hari ini terus menggali kembali ajaran Rasullah Muhammad SAW yang orisonil. Keterpurukan, kekalahan dan ketertinggalan Islam dan ummat Islam dapat ditebus secepatnya dengan mencintai Rasulullah. Mencintai Rasul dengan cara mempelajari ajaran, shirah, dan mensyiarkannnya.
Peringatan maulid Rasul menjadi tradisi dan syiar yang
diperingati setiap tahun di banyak negara Islam. Di Indonesia dan Aceh khususnya
peringatan maulid Rasul disyiarkan dengan berbagai cara; pembacaan shalawat,
kenduri (sedekah konsumsi) hingga berbagai bentuk perlombaan keislaman. Bahkan
peringatannnya telah menjadi agenda resmi negara organisasi sipil Islam.
Dalam masyarakat Aceh, peringatan maulid Rasul, telah menjadi
tradisi tahunan yang melekat dengan
karakteristik keislaman orang Aceh. Tidak kurang tiga bulan dalam setahun orang
Aceh memperingati maulid Rasul. Peringatan itu diselenggarakan dalam bentuk
dakwah Islamiah, kenduri kuah beulangong,
membaca kitab barzanji, bahkan belakangan berkembang dalam bentuk yang lebih
modern dengan mengundang relasi ke rumah menikmati hidangan yang disediakan
secara khusus. Bahkan ada peringatan maulid di Aceh Besar syiarnya hampir
seperti acara walimahan (perta
pernikahan).
Dalam hal ini, kita hanya mengingatkan agar peringatan maulid
Rasul tak kehilangan substansi dari spirit awal, melupakan substansi dan
mengutamannya syriarnya. Justru yang harus dilakukan; peringatan maulid tetap
diselenggarakan dalam kerangka menggali ajaran Rasulullah SAW dalam semua sisi
kehidupan. Dengan maulid, kita dapat mendalami
kembali ajaran Rasul yang selama ini belum kita ketahui atau belum kita
amalkan.
Peringatan maulid Rasul juga dapat kita jadikan momentum
refleksi terhadap sikap, prilaku dan
akhlak kita dalam meneladani Rasullah SAW. Untuk itu, pada setiap
peringatan maulid Rasul, dapat saja diberikan penghargaan kepada pribadi dan
komunitas yang telah menunjukkan komitmen dan keteladanan dalam mengamalkan
ajaran Rasulullah SAW. Indikator keteladanan itu dapat saja kita rumuskan.
Dalam konteks ini, kita merekomendasikan perlu inovasi
peringatan maulid Rasul, dengan menemukan metoda baru, tentu tanpa meninggalkan
tradisi yang ada. Misalnya, peringatan maulid diselenggarakan dalam bentuk
tadarus syair dan puisi tentang kehidupan Rasullah SAW atau bentuk lainnya yang
bisa kita diskusikan.*

Tidak ada komentar:
Posting Komentar