Oleh: Sayed Muhammad Husen
Ketua Umum Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia (PP DMI)
yang juga Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, melantik Pimpinan Wilayah DMI Aceh di Anjong Mon Mata, Jumat
29/12 tahun lalu. Pelantikan dilakukan berbarengan dengan peringatan sepuluh
tahun tsunami dan peluncuran buku JK tentang tsunami. Pelantikan itu sedikitnya
menyentak aktivis masjid di Aceh. Mereka bertanya, ada apa lagi dengan DMI?
Bagaimana dengan DKMA yang sejarahnya juga berawal dari DMI?
“Bangkit” kembali DMI tak terlepas dari perdamaian Aceh yang
telah melahirkan kesadaran keindonesian dikalangan aktivis masjid. Jaringan
nasional masjid perlu “disambung” kembali, setelah terputus akibat konflik.
Patut dicatat, perubahan nama DMI menjadi DKMA erat kaitannya dengan spririt
nasionalisme Aceh pada masa konflik, walaupun itu bukan alasan tunggal.
Sikap positif kita dalam merespon pelantikan pengurus DMI dengan
memposisikan jaringan masjid ini sebagai mitra baru bagi DKMA, BKRMI, JPRMI dan
HIMNAS (Himpunan Imam Masjid dan Meunasah) yang diketui Prof Zainal Abidin
Alawy. Bukan melihat DMI sebagai pesaing bagi jaringan masjid lainnya, atau
bahkan ancaman bagi eksistensi DKMA. Sebab, bagaimanapun jaringan masjid,
masjid dan aktivisnya merupakan pemersatu ummat dan teladan dalam kehidupan
sehari-hari.
Untuk itu, perlu secepatnya jaringan masjid (DMI, DKMA,
BKPRMI, JPRMI dan HIMNAS) melakukan silaturrahim dan membuka forum bersama,
sehingga dapat merumuskan langkah-langkah antisipatif dan prospektif. Langkah
antisipatif untuk menghindari dampak negatif banyaknya jaringan masjid,
sementara langkah prospektif guna merumuskan pembagian peran dalam memperkuat
manajemen masjid di seluruh Aceh.
Elite pengurus jaringan masjid dapat menjadikan Masjid Raya
Masjid Baiturrahman sebagai pusat komunikasi dan gerakan. Misalnya, setiap
Jumat mereka bertemu di Baiturrahman untuk membicarakan hal-hal yang perlu segera
direspon, melakukan pemecahan masalah, analisis berita
mingguan, bahkan dapat merancang program aksi bersama. Lebih jauh forum
jaringan itu dapat melaksanakan advokasi terhadap hal-hal yang merugikan Islam
dan ummat Islam.
Dalam konteks inilah, kita berharap, kehadiran semua jaringan
masjid mendapat apresiasi dan menjadi harapan ummat. Jaringan ini dapat bersatu
dengan cara-cara yang disepakati bersama, sekaligus jaringan ini menjadi
pemersatu muslimin Aceh.
Sumber: Gema Baiturrahman

Tidak ada komentar:
Posting Komentar