Sabtu, 24 Januari 2015

Jaringan Masjid, Bersatulah!

Oleh: Sayed Muhammad Husen 

Ketua Umum Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia (PP DMI) yang juga Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, melantik Pimpinan  Wilayah DMI Aceh di Anjong Mon Mata, Jumat 29/12 tahun lalu. Pelantikan dilakukan berbarengan dengan peringatan sepuluh tahun tsunami dan peluncuran buku JK tentang tsunami. Pelantikan itu sedikitnya menyentak aktivis masjid di Aceh. Mereka bertanya, ada apa lagi dengan DMI? Bagaimana dengan DKMA yang sejarahnya juga berawal dari DMI?

“Bangkit” kembali DMI tak terlepas dari perdamaian Aceh yang telah melahirkan kesadaran keindonesian dikalangan aktivis masjid. Jaringan nasional masjid perlu “disambung” kembali, setelah terputus akibat konflik. Patut dicatat, perubahan nama DMI menjadi DKMA erat kaitannya dengan spririt nasionalisme Aceh pada masa konflik, walaupun itu bukan alasan tunggal.

Sikap positif kita dalam merespon pelantikan pengurus DMI dengan memposisikan jaringan masjid ini sebagai mitra baru bagi DKMA, BKRMI, JPRMI dan HIMNAS (Himpunan Imam Masjid dan Meunasah) yang diketui Prof Zainal Abidin Alawy. Bukan melihat DMI sebagai pesaing bagi jaringan masjid lainnya, atau bahkan ancaman bagi eksistensi DKMA. Sebab, bagaimanapun jaringan masjid, masjid dan aktivisnya merupakan pemersatu ummat dan teladan dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk itu, perlu secepatnya jaringan masjid (DMI, DKMA, BKPRMI, JPRMI dan HIMNAS) melakukan silaturrahim dan membuka forum bersama, sehingga dapat merumuskan langkah-langkah antisipatif dan prospektif. Langkah antisipatif untuk menghindari dampak negatif banyaknya jaringan masjid, sementara langkah prospektif guna merumuskan pembagian peran dalam memperkuat manajemen masjid di seluruh Aceh.

Elite pengurus jaringan masjid dapat menjadikan Masjid Raya Masjid Baiturrahman sebagai pusat komunikasi dan gerakan. Misalnya, setiap Jumat mereka bertemu di Baiturrahman untuk membicarakan hal-hal yang perlu segera direspon, melakukan pemecahan masalah, analisis berita mingguan, bahkan dapat merancang program aksi bersama. Lebih jauh forum jaringan itu dapat melaksanakan advokasi terhadap hal-hal yang merugikan Islam dan  ummat Islam.  

Dalam konteks inilah, kita berharap, kehadiran semua jaringan masjid mendapat apresiasi dan menjadi harapan ummat. Jaringan ini dapat bersatu dengan cara-cara yang disepakati bersama, sekaligus jaringan ini menjadi pemersatu muslimin Aceh. 

Sumber: Gema Baiturrahman
          

      

   








Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Memahami Ma’had Tahfidz

Oleh: Sayed Muhammad Husen Tim Verifikasi Banda Aceh dan Aceh Besar Baitul Mal Aceh (Tim Abes) melakukan verifikasi calon mustahik penerima...