Minggu, 08 Januari 2023

Optimalkan Fungsi Masjid

Oleh: Sayed Muhammad Husen

Gempa dan tsunami 26/12/2004 merusak banyak masjid di Aceh yang letaknya di pinggir pantai. Yang menarik, sebagian besar masjid-masjid tersebut tidak hancur seperti bangunan lainnya yang rata dengan tanah. Masjid berdiri tegak dan dapat difungsikan, misalnya Masjid Rahmatullah Lampuuk dan Masjid Baiturrahim Uleelheu.

Hanya saja, kebangkitan kembali masjid, tetap membutuhkan waktu, mengingat warga di sekitar masjid hilang atau meninggal dalam stunami. Rekonstruksi fisik dan penataan kembali manajemen masjid berlangsung seiring proses rehabilitasi dan rekonstruksi masyarakat Aceh.

Banyak komponen masyarakat lokal, nasional dan internasional yang memilih fokus kegiatan di sekitar masjid. Mereka mengupayakan masjid berfungsi kembali secara normal setelah tsunami, ibadah shalat berjamaah terlaksana, dan berbagai aktivitas sosial-ekonomi dapat dipusatkan di masjid. Sehingga dalam rangka rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh, masjid benar-benar berfungsi sebagai pusat ibadah, sosial dan ekonomi masyarakat.

Dari berbagai pihak yang peduli terhadap masjid, masyarakat Aceh mendapatkan pengalaman yang beragam dari pengurus masjid yang datang dari berbagai daerah dan bangsa. Mereka berbagi pengalaman dengan pengurus masjid di Aceh di wilayah tsunami dan masjid-masjid lain.

Pengurus masjid di Aceh mendapatkan berbagai dukungan dalam bentuk pembangunan fisik, rehabilitasi mental dan pemikiran yang berbeda dengan sebelum tsunami. Akhirnya, jamaah dan warga di lingkungan masjid mendapatkan dinamika baru dalam memahami ajaran Islam dan kebangkitan masjid pasca tsunami.

Dampak positifnya adalah, masjid-masjid di wilayah tsunami atau basis-basis pengungsi, lebih progresif dalam menata manajemen masjid dan mengoptimalkan fungsinya sebagai pusat ibadah, pendidikan, sosial dan ekonomi. Sebagian masjid di Aceh, bahkan, benar-benar menjadi pusat peradaban dan kebangkitan ummat.

Pengurus masjid di Aceh telah tercerahkan oleh pengalaman berbagai bangsa yang datang membantu Aceh ketika stunami, 18 tahun lalu. Dengan ketercerahan itu diharapkan pengurus masjid mampu mengoptimakan fungsi masjid di bidang ibadah, sosial dan ekonomi.

Sumber: Gema Baiturrahman

 

Mengawal Kebangkitan Islam

Oleh: Sayed Muhammad Husen

Peramal masa depan (foturolog) menilai abad ke 14 dan 15 hijriah adalah awal  kebangkitan kembali Islam. Semangat kebangkitan ini telah menumbuhkan optimisme dan rasa percaya diri ummat dan negara-negara Islam untuk terus berbenah dan mengaktualkan ajaran Islam dalam semua aspek kehidupan. Islam siap tampil sebagai ideologi alternatif.  

Potensi besar kebangkitan Islam, paling tidak dapat dilihat dari ajaran Islam yang lengkap, yang tidak hanya mencakup aspek aqidah dan ibadah, namun Islam memiliki kelengkapan ajaran di bidang muamalah, politik, sosial dan ekonomi. Islam yang ajarannya berkemajuan tetap sesuai dengan perkembangan zaman, mampu menyelesaikan masalah-masalah kemanusiaan dan peradaban. Islam alternatif dan solusi dalam menemukan keseimbangan pembangunan material  dan spritual.

Potensi besar lainnya, jumlah ummat Islam yang hampir dua milyar jiwa terus bertambah di berbagai belahan bumi. Peminat, pengkaji dan pemeluk Islam bertambah dari tahun ke tahun, membuat Islam dan ummat Islam secara kuantitas dan kualitas meningkat setiap tahun, termasuk di negara-negara Barat.

Negara-negara Islam memiliki sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya alam (SDA) yang melimpah, dengan ini memberi ruang ummat Islam semakin sejahtera dan kehidupannya lebih baik. Walaupun sebagian negara Islam dilanda konflik, namun dengan potensi SDM dan SDA ini memudahkan negara-negara Islam membangun aliansi dan solidaritas untuk saling mendukung dan saling menguatkan.

Karena itu, kebangkitan Islam perlu terus dikawal dari pihak-pihak (termasuk negara) yang memang tidak sehaluan dengan Islam dan perjuangannya. Mereka tetap tidak suka terhadap kebangkitan Islam yang terus menguat. Mereka menempuh berbagai cara untuk melemahkan Islam, ummat dan negara Islam.  

Kita harus mengawal kebangkitan Islam dari adu domba (internal dan eksternal) negara Islam, memecah belah dan  ekploitasi SDA. Negara-negara Islam mestilah percaya diri dan efektif mengklarifikai berbagai bentuk permusuhan terhadap Islam dengan alasan perlindungan HAM, anak dan perempuan. Selamatkan juga pemuda dan remaja Islam dari pola hidup bebas tanpa batas dan informasi yang merusak.

Sumber: Gema Baiturrahman 

Tantangan Implementasi Ekonomi Syariah

Oleh: Sayed Muhammad Husen

Implementasi ekonomi syariah di Aceh adalah bagian dari agenda besar penyelenggaraan keistimewaan dan kekhususan Aceh yang telah mendapat legalitas undang-undang. Legalitas ini setidaknya untuk memenuhi aspirasi historis, ideologis dan sosiologis keacehan. Dalam rentang waktu yang lama sejak era kolonialisme, Aceh telah menjalankan syariat Islam dalam semua aspek kehidupan, hanya saja akibat penjajahan Belanda dan Jepang syariat Islam hanya dapat dilaksanakan tidak lagi sempurna.

Secara ideologis, Islam telah mengajarkan dan diyakini sebagai pandangan hidup yang lengkap, dan pedoman muslimin Aceh dalam seluruh aspek kehidupan. Dengan pedoman dan cara hidup seperti itu masyarakat Aceh bisa mencapai tujuan hidup hakiki: bahagia di dunia dan akhirat. Pandangan ini terus menurus diyakini dan bahkan diperjuangkan oleh masyarakat Aceh hingga sekarang dan nanti. Puncaknya, masyarakat Aceh mendapat dasar hukum yang kuat yaitu UU Nomor 44 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Aceh dan UU Nomor 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA).

Demikian pula dilihat dari segi sosiologis keacehan, masyarakat telah dan terus mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari di bidang ibadah dan muamalah (sosial kemasyarakatan). Keunggulan dan kelengkapan ajaran Islam yang dipelajari dan dipahami masyarakat Aceh, membuat praktik kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Aceh tak terlepas dari ajaran Islam. Bahkan, dalam kehidupan sosial politik pun kita menemukan prinsip-prinsp politik Islam diamalkan masyarakat, misalnya dalam bermusyawarah, resolusi konflik dan mengelola kepemimpinan masyarakat.

Tantangan berikutnya adalah, apakah kita cukup cerdas memahami aspirasi masyarakat Aceh di bidang muamalah dan sosial ekonomi. Apakah penyelengara negara, pengusaha dan elite masyarakat Aceh mampu menghayati imajinasi muslimin Aceh dalam mengimplementasikan ekonomi syariah, misalnya. Satu hal yang mengemuka akhir-akhir ini, dalam hal penerapan Qanun Nomor 11 tahuh 2018 tentang LKS, cukup arifkah kita menyerap pikiran dan perasaan muslimin Aceh.

Karena itu, seharusnya di tahun 2023 ini dan tahun-tahun berikutnya, kita dapat menyegarkan kembali komitmen mengimplementasikan prinsip-prinsil ekonomi Islam yang diamanahkan UU Keistimewaan Aceh dan UUPA.  

Sumber: Gema Baiturrahman

 

Peran Penting Agama

Oleh: Sayed Muhammad Husen 

Krisis global telah melanda seluruh aspek kehidupan, baik di bidang politik, ekonomi, sosial-budaya, dan juga keamanan. Globalisasi juga telah membawa banyak perubahan dalam kehidupan manusia, termasuk mendorong manusia untuk semakin menjadi materialistis dan egoistis. Oleh sebab itu, peran Islam sebagai ajaran universal sangat penting sebagai solusi mengatasi berbagai tantangan dan dinamika globalisasi tersebut.

“Islam sebagai ajaran yang universal dan selalu relevan dengan situasi dan kondisi apapun dan dimanapun, diharapkan bisa menjadi solusi dalam mengatasi berbagai tantangan dan dinamika dari krisis-krisis global,” tegas Wakil Presiden (Wapres) KH Ma’ruf Amin, seperti dilansir setneg.go.id.

 

Lebih lanjut, Wapres menjelaskan, bahwa para ulama telah merumuskan bahwa tujuan syariat Islam adalah untuk kemaslahatan manusia, baik di dunia maupun di akhirat. “Dan para ulama juga menetapkan tentang prinsip-prinsip yang membawa kemaslahatan itu, yaitu menjaga agama, menjaga keselamatan jiwa, menjaga akal, menjaga keturunan, dan menjaga harta,” terangnya.

 

Bahkan menurut Wapres, masih ada dua prinsip lagi yang juga termasuk dalam tujuan syariat Islam yang perlu ditambahkan yaitu menjaga keamanan dan kedamaian, serta menjaga lingkungan dari ancaman kerusakan lingkungan global. “Kedua hal ini sangat erat hubungannya dengan terbangunnya kemaslahatan umat manusia secara global,” ujarnya.

 

Karena itu, sesuai harapan Wapres, peran Kementerian Agama menjadi tetap strategis untuk terus melakukan, mengawal dan mengembangkan pelaksanaan pengamalan  agama atau syariat Islam dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sudah waktunya Kemenag berperan dan berfungsi lebih luas lagi dalam menerapkan syariat Islam, misalnya dalam aspek ekonomi syariah.

 

Pelaksanaan ekonomi syariah ini dapat lebih dikembangkan lagi pada basis kecamatan (KUA), yang diintegrasikan dengan pelaksanaan zakat, infak, sedekah dan wakaf (Ziswaf). Pengelolaan Ziswaf ini, dengan fasilitasi Kemenag, bisa berkembang menjadi lembaga keuangan syariah dan sektor bisnis lainnya. Sehingga, keberadaan Kemenag juga berfungsi dalam meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan bangsa.

 

Sumber: Gema Baiturrahman, (6/1/2023)

 

Kamis, 15 Februari 2018

Kasih Sayang Sepanjang Hayat


Oleh Sayed Muhammad Husen
 
kabarmuslimah.net
Setiap pertengahan Februari, kita kembali diingatkan ritus tahunan kaum muda memperingati hari kasih sayang. Kita sekaligus diingatkan berhati-hati mengawal kaum muda dan menasehati mereka supaya tak terjebak pergaulan bebas (seks bebas), yang berkedok kasih sayang dan mencintai antar jenis.

Syukurlah banyak pihak membuat pernyataan, bahwa dalam bentuk apapun tak boleh ada peringatan yang menghalalkan pergaulan kaum muda tanpa batas di Aceh.  Kita membaca pernyataan senada, paling tidak, mewakili pimpinan Aceh seperti Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, Bupati Aceh Besar Mawardi Ali dan Walikota Banda Aceh Aminullah Usman, yang melarang Valintine Day di Aceh.

Dengan pernyataan dan sikap berbagai komponen di Aceh  tentang larangan Valintine, kita yakin berkontribusi terhadap terwujudnya kesadaran kaum muda dan orang tua tentang pergaulan yang lebih islami. Yaitu terciptanya iklim yang memungkinkan interaksi remaja dan pemuda Aceh yang sesuai dengan akhlak Islam; satu pergaulan yang mengenal halal dan haram.

Satu hal masih kita khawatirkan selama ini adalah, betapa liberalnya interaksi dan komunikasi kaum muda antara laki-laki dan perempuan. Hal ini sulit dihindari karena pola kehidupan, pendidikan dan pegaulan yang belum seluruhnya sesuai dengan syariat Islam. Misalnya, tidak cukup memadai batasan antara laki-laki dan perempuan di dunia pendidikan sekuler.

Kondisi itu bisa lebih parah apabila Aceh mengizinkan paham seks bebas yang sebarkan setiap perayaan Valentine, pentas musik tanpa kontrol dan lemahnya pengawasan lingkungan. Yang terakhir kita sebutkan, termasuk pengawasan oleh Wilayatul Hisbah (WH). Faktor pendukung lainya adalah penggunanan media sosial yang tak sehat dan akses informasi tak terkontrol.

Karena itu, larangan Valentine patut kiranya diikuti dengan berbagai bentuk edukasi dan sosialisasi kepada kaum muda tentang pola pergaulan islami. Kita perlu menjelaskankan lebih dalam tentang makna kasih sayang yang berlangsung sepanjang hayat dan disalurkan dengan cara halal. Kaum muda perlu pula memahami arti univesal kasih sayang kepada sesama makhluk ciptaan Allah Swt.

Pada sisi lain, negara dan berbagai komponen masyarakat Aceh penting juga membantu menemukan sosusi terhadap sebagian kaum muda yang hidup miskin dan tak punya pekerjaan. Akibatnya, mereka tak mampu merencanakan keluarga dan pernikahan. Padahal dengan menikah mereka bisa menyalurkan seksualitas secara halal dan pernah berpikir lagi valentine. 

Kamis, 08 Februari 2018

Abu, Pribadi yang Berpikir Positif


Oleh Hayatullah Pasee

Bicaranya teratur dan bersahaja. Pesannya penuh motivasi. Murah senyum dan gemar bersedekah. Ia suka bergaul dengan siapa saja, termasuk anak muda. Saya memanggilnya Abu.

Adalah Sayed Muhammad Husen. Laki-laki kelahiran Trieng Gadeng 04 September 1965 ini sudah saya anggap seperti orang tua sendiri. Banyak mendapat nasihat darinya, bahkan saya sering meminta pendapat ketika hendak memutuskan sesuatu. Abu selalu memberi saran yang terbaik.

Saya belum begitu lama mengenalinya. Kami bertemu sekitar tahun 2013. Waktu itu, kami sama-sama dalam tim penerbitan Majalah Suara Darussalam milik Baitul Mal Aceh, sedangkan Abu sudah lama bekerja di lembaga tersebut.

Awalnya, hubungan kami biasa-biasa saja. Akibat keseringan silaturrahmi, baik di warung kopi ataupun di kantornya, hubungan emosional kami semakin dekat. Saya sering berkunjung ke kediamannya di Alue Deah Teungoh, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh. Kadang kami sering masak daging bebek di sana.

Selain di Baitul Mal Aceh, dari dulu Abu sudah aktif menulis. Ia pernah menjadi jurnalis di beberapa media, salah satunya media Mingguan Atjeh Post tahun 2000, yang saat itu dipimpin Ghazi Husein Yusuf.

Kemudian dari tahun 1999 hingga 2007, Abu juga pernah jadi wartawan Majalah Suara Hidayatullah, Redaktur Tabbloid Suara Aceh, Pemimpin Redaksi Majalah Baitul Mal, dan sekarang menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Tabloid Jumatan Gema Baiturrahman.

Abu juga aktif di bidang penyiaran. Ia sudah berkarir di bidang radio sejak tahun 2011 pada Radio Prima FM. Di Radio Baiturrahman pernah menjadi penyiar tetap dan terakhir hingga Desember 2017 sebagai host program “Perbincangan Sabtu Pagi”.

Satu hal yang membuat saya kagum dari Abu. Cara melihat suatu masalah selalu menggunakan sudut pandang positif. Bahkan saya pernah sekali membincangkan hal-hal negatif, namun Abu tetap mengiring saya untuk tetap berbaik sangka. Abu tak menghiraukan orang lain yang berpikiran negatif terhadapnya, ia tetap positif thinking.

Ketika kami sama-sama mengelola majalah Suara Darussalam, secara tidak langsung, Abu pelan-pelan mengenalkan saya dengan lembaga amil zakat Baitul Mal Aceh. Hingga akhirnya saya direkom menjadi salah seorang amil di sana.

Awalnya sempat saya tolak. Saya belum terbiasa dengan pekerjaan kantoran, karena masih asik dengan profesi jurnalis, biarpun saat itu saya sudah bekerja di Dinas Perhubungan Kota Banda Aceh sebagai koresponden.

Ketika Kepala Baitul Mal Aceh (saat itu dipimpin Dr Armiadi Musa) meminta saya yang kedua kalinya untuk bergabung, Abu membujuk saya untuk menerima tawaran tersebut. Tawaran tidak akan datang yang ketiga kalinya. Setelah saya beristikharah, saya menerima tawaran tersebut.

Kebetulan waktu itu Kasubbid Sosialisasi pada Badan Pelaksana BMA, Riza Rahmi lulus S2 ke Australia, maka saya diminta menggantikan posisinya. Sedangkan bidang yang ditinggali Riza sesuai dengan latar belakang profesi saya sebagai jurnalis dan praktisi humas.

Mulai saat itu saya dengan Abu sudah sering bertemu. Saya juga diajak untuk membantu menjadi salah seorang redaktur di tabloid yang ia pimpin. Kami menulis tema-tema islami dan mengedit berita-berita positif.

Bagi saya, tak ada rezeki yang paling berharga selain dikaruniai teman-teman yang baik serta lingkungan yang islami, yaitu Masjid Raya Baiturrahman. Itulah yang saya inginkan agar saya tetap di jalan yang benar.

Dalam setiap doa, selalu saya memohon agar dikaruniai anak-anak yang salih-salihah, istri yang salihah, teman-teman yang baik serta pergaulan-pergaulan yang baik pula. Saya yakin Abu adalah jawaban doa saya.

Yang membuat saya terharu lagi, Abu juga yang mendampingi saya dari Banda Aceh ketika berangkat ke Pidie Jaya untuk melaksanakan pernikahan. Kami dari Banda Aceh datang berempat, yaitu; saya, Abu, Haekal Afifa, dan istrinya Haekal, Tiza.

Prosesi pernikahan dilaksanakan pagi, sekitar pukul 10.00 Wib. Abu menyarankan untuk datang sehari sebelum acara, agar saat tiba di sana saya lebih segar dan tidak kelelahan. Maka, malam itu kami menginap di rumah orang tua Abu di Trieng Gadeng.

Di mata saya, Abu adalah sosok yang tangguh. Walaupun usianya tak lagi muda, namun jiwa dan cara pikirnya yang moderat, membuat Abu tampak selalu energik. Tak mudah menyerah, dan selalu bersemangat.

Kekokohan kepribadiannya terbukti ketika musibah melanda bumi Serambi Mekkah pada tahun 2004 silam. Abu kehilangan kedua anaknya, Nada Nursaid dan Rif'ah Nursaid serta istrinya, Nour Izmi Nurdin yang begitu ia cintai. Saya tak bisa membayangkan jika itu terjadi sama saya, mungkin saya sudah gila. Tapi tidak dengan Abu. Ia mampu bangkit. Ia masih memiliki iman yang kuat, bahwa setiap musibah itu memiliki hikmah yang tak dapat kita duga.

Saya belajar banyak dari keteguhan Abu. Ia mampu keluar dari keterpurukan. Abu tak mau berlama-lama dalam kesedihan. Abu tahu apa yang harus ia lakukan untuk dirinya dan masa depannya. Abu memiliki jiwa visoner.

Sebagai kenangan, Abu megabadikan kisah syahid keluarganya dalam sebuah buku kecil berjumlah 59 halaman. Buku berjudul “Sayed Muhammad Husen Bangkit Setelah Tsunami” dijadikan sebagai pengganti nisan. Ketika ia rindu akan almarhum keluarganya, ia dapat melihat buku tersebut sebagai bentuk ziarah.

Kini Abu sudah memiliki cahaya baru dalam hidupnya bersama Dra Bunaizah Sulaiman di Gampong Lampanah, Indrapuri, Aceh Besar. Dari pernikahannya, dikaruniai seorang putri yang diberi nama Rafidah Assa’adah  sudah berusia 16 tahun (2023). Karena tinggal di Lampanah, Abu suka dipanggil Abu Lampanah.[] Sumber: Steemit


Jumat, 08 September 2017

Memakmurkan Masjid Makmurkan Jamaah

Oleh Sayed Muhammad Husen

Apakah benar selama ini pengelola masjid hanya “menerima” dari jamaah, sementara pihak masjid kurang “memberi” kepada jamaah? Tentu saja tidak seluruhnya benar. Namun demikianlah peserta diskusi terfokus BKPRMI Aceh berharap pengelola masjid supaya lebih banyak “memberi”. Memberi dalam bentuk pelayanan dan kegiatan. Diskusi berlangsung, Kamis, 7 September 2017 dengan topik “Penanggulangan Kemiskinan Berbasis Masjid” di Aula Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.

Selama ini, pengelola masjid telah memberi yang terbaik kepada jamaah dalam bentuk penyediaan fasilitas ibadah, air yang cukup, listrik yang memadai, lantai masjid yang bersih, imam yang hafidz, muazin bersuara merdu, serta khatib yang berbobot. Pengelola masjid juga menyediakan fasilitas pengajian, TPA, peringatan hari-hari besar Islam, bahkan mengorganisir qurban.

Lebih hebat lagi, misalnya,  Masjid Al-Furqan Beurawe, memberi jamaah dengan kegiatan tambahan berupa pengelolaan ZIS, simpan pinjam Baitul Qiradh, hingga pelayanan anak yatim berkelanjutan. Tentu saja tak sebanding dengan Pengurus Masjid Raya Baiturrahman yang memberi cukup banyak kepada jamaah dalam bentuk fasilitas yang dapat dianggap mewah, program siaran radio, halaqah maghrib dan shubuh, lembaga pendidikan Darussyariah, kuliah gratis Bahasa Arab, tempat pernikahan, dan berbagai bentuk pelayanan lainnya.

Namun, tetap saja peserta diskusi terfokus  BKPRMI Aceh menuntut supaya pengelola masjid memberi lebih banyak kepada jamaah. Misalnya, pengelola masjid hendaknya memfasilitasi berbagai kegiatan ramaja masjid, pengembangan wirausaha pemuda/remaja dan mengurus jamaah masjid yang fakir dan miskin. Mereka meminta pengelola masjid “berani” membuat kebijakan anggaran dengan  mendukung dan membiayai berbagai kegiatan di lingkungan masjid. Tidak terbatas dalam konteks pemakmuran masjid, tapi juga pemakmuran jamaah.

Pemakmuran jamaah yang direkomendikan peserta diskusi misalnya membuka usaha produktif , menyediakan modal usaha tanpa bunga dan melakukan pemberdayaan masyarakat miskin di lingkungan masjid. Hal ini dipastikan dapat dilakukan oleh pengelola masjid, karena hampir seluruh masjid tersisa anggaran dalam jumlah banyak. Rata-rata masjid di Banda Aceh memiliki saldo kas bulanan hingga Rp 50 juta.

Masalahnya adalah, diperlukan keberanian pengelola masjid dan edukasi jamaah, sehingga dana masjid boleh juga digunakan untuk membiayai berbagai program dan kegiatan peningkatan kepasitas dan kesejahteraan jamaah. Diperlukan juga perubahan paradigma pengelola masjid tentang pemanfatan dana masjid yang beroriensi pada pelayanan jamaah. Tidak hanya mementingkan pembangunan fisik masjid.

Dalam hal penanggulangan kemiskinan, pengelola masjid bisa bersinergi dengan pemerintah, swasta dan masyarakat. Diperkirakan sekitar 10% dari jamaah masjid yang fakir miskin  membutuhkan perhatian khusus, pelayanan dan pendampingan. Bisa jadi sebagian mereka telah dilayani oleh pemerintah gampong atau instansi terkait, namun terdapat fakta bahwa sebagian jamaah/masyarakat belum memiliki akses atau fasilitasi untuk keluar dari kemiskinan. Disinilah diperlukan sinergi.  

Untuk merealisasikan gagasan ini, perlu juga peningkatan kapasitas pengelola masjid, sehingga mampu menjalankan fungsi tambahan penanggulangan kemiskinan  dan memenuhi harapan peserta diskusi terfokus supaya mampu memberi lebih banyak kepada jamaah. Pengelola masjid harus terampil merancang program dan kegiatan yang berorientasi pelayanan jamaah, penggalangan dana dan melakukan kemitraan dengan berbagai pihak. Harus pula melakukan sosialisasi kepada jamaah, sehingga mereka memahami bahwa kemakmuran masjid  juga mencakup kemakmuran jamaah.

BKPRMI Aceh, melalui diskusi terfokus, telah membuka ruang lebih luas terhadap optimalisasi fungsi masjid sebagai pusat ibadah dan aktivitas ummat. Kita berharap, hasil diskusi tersebut dapat dikomunikasikan dan mendapat sambutan positif dari berbagai pihak, termasuk Pemerintah Aceh, yang juga memprioritaskan penanggulangan kemiskinan dan pengangguran.

Seorang peserta diskusi menyarankan,  hendaknya BKPRMI Aceh menyampaikan hasil diskusi tersebut kepada Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf. Mungkin saja gubernur dan instansi terkait akan merespon dalam bentuk kegiatan percontohan penanggulangan kemiskinan berbasis masjid. Tentu saja peserta diskusi juga akan menindaklanjutinya di masjid tempat tinggal masing-masing, minimal menyebarkan hasil diskusi terfukus itu.  

Sumber: Gema Baiturrahman, 8 September 2017

Memahami Ma’had Tahfidz

Oleh: Sayed Muhammad Husen Tim Verifikasi Banda Aceh dan Aceh Besar Baitul Mal Aceh (Tim Abes) melakukan verifikasi calon mustahik penerima...