Selasa, 24 Maret 2015

Peran Ekonomi BKPRMI

Oleh Sayed Muhammad Husen 

Awal perkenalan saya dengan BKPRMI Aceh (1994) mendapati satu bidang yang menarik perhatian saya: Lembaga Pembinaan dan Ekonomi dan Koperasi (LPP Ekop). Ketika itu, lembaga ini malah tidak aktif. Baru empat tahun kemudian memulai kiprahnya, dengan pengisian pengurus LPP Ekop dan pembentukan koperasi BKPRMI. Selanjutnya, 1995, saya mendapat informasi bahwa DPP BKPRMI di Jakarta mengadakan kerjasama dengan Pinbuk Pusat dalam kerangka pengembangan Lembaga Keuangan Mikro BMT (Baitul Mal Wattamwil) berbasis masjid di seluruh Indonesia.

Maka dapat kita pahami, bahwa sebenarnya BKPRMI tidak alergi terhadap kegiatan ekonomi, malah ekonomi dan bisnis telah dijadikan sebagai salah satu program unggulan BKPRMI. Hanya saja, bidang ini tidak berkembang layaknya bidang lain seperti pengembangan Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) dan Festival Anak Shalih (FASI). Bahkan BKPRMI setiap periode kepengurusan agak sulit merekrut sumber daya insani untuk ditempatkan pada LPP Ekop. Lebih tragis lagi koperasi BKPRMI pun mati.

Pertanyaannya kemudian, mengapa BKPRMI gagal mengembangkan programnya di bidang ekonomi dan kewirausahaan? Pertama, secara umum memang karakteristik Ormas dan OKP Islam lebih berminat merancang program-program di bidang dakwah, sosial dan pendidikan (pengaderan). Mereka lebih suka terhadap issue politik dibandingkan issue ekonomi dan bisnis, padahal faktanya jelas, problem utama ummat Islam di Indonesia (termasuk Aceh) adalah ekonomi, bukan politik.  

Kedua, para senior di BKPRMI lebih menggiring anggota supaya lebih peduli issue politik.  Mereka sekan menutup mata terhadap potensi ekonomi yang ada. Justru yang terjadi kemudian, ketika Pemilu tiba, para kader digalang untuk memperkuat partai tertentu. Ada juga senior yang mengondisikan BKPRMI supaya lebih sebagai organisasi dakwah, tanpa lebih jauh memikirkan bagaimana dakwah itu dapat dibiayai secara mandiri.

Ketiga, BKPRMI (khususnya Aceh) mulai didominasi teman-teman yang berlatar-belakang PNS. Pada umumnya PNS pasti kurang meminati kegaitan ekonomi. Kalau pun ada yang berminat, namun mereka tidak mungkin fokus mengurusnya, mereka telah memiliki pekerjaan tetap sebagai PNS. Mereka aktif di BKPRMI hanya melengkapi peran sosial dan dakwah dalam kehidupan bermasyarakat.     

Jika demikian kondisinya, maka BKPRMI (terutama BKPMI Aceh) haruslah berani keluar dari kultur organisasi yang sudah terbangun selama ini. BKPRMI seharusnya dapat melahirkan wirausahawan dan pelaku ekonomi yang andal. Saatnnya BKPRMI menyempurnakan dakwahnya dengan memberi bobot yang mamadai untuk program dan kegiatan ekonomi dan bisnis. Apakah ini artinya BKPRMI juga harus berbisnis? Jawabannya: Ya. Kita harus lahirkan kader berkarakter Abdurrahaman bin Auf atau Khadijah ra dan membangun kerajaan bisnis BKPRMI (boleh kan mimpi).

Untuk itu, saya kira, BKPRMI dapat melakukan dua hal: Pertama, memperbanyak pelatihan kewirausahaan (entrepreneurship) untuk semua jenjang kepengurusan. Menggiatkan diskusi, bedah buku dan ceramah dengan tema ekonomi dan bisnis. Dapat juga menggelar pengajian bisnis secara berkala. Bahkan, calon anggota/kader diwajibkan mengikuti pembekalan fikih mu’amalah.     

Kedua, memprioritaskan kembali penguatan kelembgaan LPP Ekop. Menghidupkan kembali koperasi dengan kegiatan ekonomi dan bisnis berbasis masjid. BKPRMI dengan jaringan masjid dapat melakukan kegiatan usaha antara lain: pembelian hasil bumi, lembaga keuangan, toko buku, toko obat/apotek, menjadi distributor, usaha warung/konsumsi, travel, dan banyak peluang lainnya dapat digarap.

Sebenarnya, untuk menggerakkan kegiatan ekonomi dan bisnis, yang pertama sekali diperlukan bukan modal usaha, tapi bagaimana menyiapkan sumber daya insani yang bermental saudagar/wirausaha. Maka, langkah pertama yang mesti dilakukan adalah memperbanyak pelatihan dan magang. Selanjutnya, BKPRMI memberi ruang kepada mereka untuk mencari pangalaman nyata dengan melakukan praktek wirausaha (melakukan kegiatan ekonomi dan bisnis melalui LPP Ekop). Percayalah, dalam waktu dua tahun kemudian, mereka akan menjadi entrepreneur sejati. Saat itulah kita mediasikan mereka dengan lembaga keungan atau perbankan.

Saya pikir, BKPRMI dapat kembali meletakkan dasar dan tekad memperkuat peran ekonomi BKPRMI, yang selama ini terlupakan. Bukankah kesempurnaan Islam akan kita capai dengan hidup kaya dan taqwa. Bukankan seorang muslim dapat menyempurkan keislamannya dengan berzakat, naik haji, sedekah, waqaf dan mendukung berbagai aktivitas dakwah, jika kehidupannya cukup berdaya secara ekonomi. Maka, tunggu apalagi, mari BKPRMI Aceh ubah kiblat, dari sosial-pendikan-dakwah kepada ekonomi-bisnis-dakwah. Bismillah, jangan ragu, akhie!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Memahami Ma’had Tahfidz

Oleh: Sayed Muhammad Husen Tim Verifikasi Banda Aceh dan Aceh Besar Baitul Mal Aceh (Tim Abes) melakukan verifikasi calon mustahik penerima...