Nahdlatul Ulama (NU) adalah Ormas Islam terbesar di
Indonesia, namun tidak demikian halnya di Aceh. Masih ada organisasi lain yang
lebih eksis, seperti HUDA, MUNA, Al-Washliyah
dan Muhammadiyah. Yang menarik, NU di Aceh mengalami pertumbuhan pesat
dalam sepuluh tahun terakhir.
Perkembangan NU di Aceh dipengaruhi iklim yang kondusif dalam
berserikat pasca perdamaian RI-GAM (2005), ditambah lagi tuntutan peran dalam
pelaksanaan syariat Islam dan suksesnya proses Indonesianisasi. Alasan terakhir
ini menunjukkan, tak ada lagi kecurigaan ulama Aceh terhadap Indonesia. Mareka
tak segan bergabung dengan organisasi nasional seperti NU.
Dalam hal perumusan peran, kita mendapatkan informasi, bahwa
NU Aceh semakin intensif merancang dan melaksanakan program kerja yang dianggap
menjadi solusi terhadap problematika ummat. Diantaranya, mendirikan taman
kanak-kanak, membuka perguruan tinggi Islam dan pembinaan dayah. Hal ini
dilakukan bersamaan dengan penguatan jaringan NU seluruh Aceh.
Kebangkitan NU Aceh, tak terlepas dari ketokohan Waled Nu
(Tgk Nuruzzahri Yahya) dan Abu Faisal (Tgk H Faisal Ali). Kedua “ulama
Samalanga” ini diangap cukup berpengaruh
dalam merangkul ulama dayah lainnya untuk bergabung dalam wadah yang lebih besar
dan berskala nasional. Kedua ulama ini cukup berparan juga dalam resolusi
konflik Aceh. Ini daya tarik tersendiri.
Faktor lain membuat NU mendapat sambutan ulama Aceh, karena
organisasi ini dianggap berhasil membuat garis pemisah yang lebih tegas dengan
PPP, walaupun kemudian NU mendirikan PKB sebagai wadah poltik baru nahdliyyin. Tapi PPP di Aceh pernah
dianggap identik dengan aspirasi politik ulama Aceh.
Selanjutnya, apa yang dapat kita harapkan dari Konperensi
Wilayah NU Aceh ke XIII? Lazimnya musyawarah organisasi tingkat propinsi, hanya
dua hal yang sering menjadi perhatian peserta dan pihak eksternal: suksesi
kepemimpinan dan rekomendasi yang dirumuskan. Namun kita, menawarkan perspektif
lain dari konperensi itu.
Menurut kita, NU Aceh, dalam konperensi ini dapat merumuskan
peran strategis yang agak berbeda dengan Ormas Islam lain seperti Muhamadiyah
dan Al-Washliyah, yang dianggap lebik suskes di jalur pendidikan. Justru jalur
ekonomi dan bisnis yang belum tergarap dengan baik, seharusnya menjadi garapan
strategis NU Aceh. Masalahnya adalah, adakah elit NU Aceh tertarik dengan peran
ini? Kita tunggu responnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar