Sabtu, 21 Januari 2023

Wujudkan Keadilan Ekonomi

Oleh: Sayed Muhammad Husen

Keadilan ekonomi merupakan mandat yang diwariskan oleh para pendiri bangsa, seperti yang termaktub dalam Pancasila dan Undang-undang Dasar (UUD) 1945. Dengan demikian, kemajuan ekonomi yang begitu pesat dicapai Indonesia tidak boleh memunculkan ketimpangan dan kepincangan di masyarakat.

Oleh karena itu, diperlukan strategi yang baik dalam mewujudkan keadilan ekonomi bagi seluruh rakyat Indonesia. “Gagasan yang tajam dan dalam dibutuhkan agar sumber daya ekonomi bisa dimanfaatkan untuk menopang tujuan tersebut,” tegas Wakil Presiden (Wapres) K H  Ma’ruf Amin, seperti dilansir kominfo.go.id.


Lebih lanjut Wapres menyampaikan, gagasan dalam pemanfaatan sumber daya ekonomi dapat dilakukan di antaranya melalui empat langkah nyata. “Pertama, memapankan suplai dan rantai pasok kebutuhan pokok. Ketersediaan bahan kebutuhan pokok ini sangat penting dan harus dipastikan, sehingga tidak memunculkan gangguan pasokan di akar rumput,” paparnya.


Kedua, mendesain bauran kebijakan fiskal dan moneter yang efektif. Kehati-hatian dalam menyusun kebijakan fiskal dan moneter dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan sektor keuangan menjadi langkah penting untuk mencegah risiko krisis,” imbuhnya.


Ketiga, memperkuat inovasi dan digitalisasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif,” lanjutnya. “Selanjutnya, keempat, mendorong pemerataan dan keadilan ekonomi,” imbaunya.


Dalam hal ini, beberapa upaya yang dapat terus dilakukan oleh para pemangku kepentingan untuk mendorong pemerataan ini, di antaranya dengan mempromosikan bangun usaha koperasi, membatasi penguasaan lahan, akses modal bagi pelaku UMKM, penguasaan BUMN terhadap cabang-cabang produksi yang penting bagi negara, dan industrialisasi perdesaan yang berbasis sumber daya lokal.


Kita menggarisbawahi pentingnya pemerataan dan keadilan ekonomi seperti disampaikan oleh Wapres, sebab konflik berkepanjangan di Aceh (1976-2005) juga diakibatkan oleh faktor kesenjangan dan ketidakadilan ekonomi dalam masyarakat. Kita sama sekali tak mengharapkan pengalaman pahit itu terulang kembali, akibat Aceh keliru mengelola sumber daya ekonomi yang ada.


Karena itu, para pemangku kepentingan di Aceh harus menjamin adanya akses masyarakat bawah terhadap sumber daya ekonomi, mendapatkan pangan murah, dan fasilitas perumahan. Rakyat juga membutuhkan biaya pendidikan anak, modal usaha, dan peningkatan penghasilan.


Sumber: Gema Baiturrahman, 20 Januari 2023/27 Jumadil Akhir 1444

 

Kamis, 19 Januari 2023

Melindungi Putra Putri Kita

Oleh: Sayed Muhammad Husen

Apakah benar sinyalemen bahwa putra-putri Aceh kini lebih mudah dipengaruhi satu kepentingan dibandingkan generasi dulu? Apakah hal ini hanya terjadi pada putra putri Aceh atau gejala nasional?

Sinyalemen ini tentu saja perlu dibuktikan secara ilmiah melalui kajian dan penelitian. Paling tidak, sebagai sampel dapat kita pertanyakan, mengapa putra-putri Aceh bisa dipengaruhi bandar narkoba atau micikari?

Untuk itu, patut kita kaji ulang proses pembentukan karakter, mental, dan kepribadian putra-putri Aceh dalam keluarga, lingkungan pendidikan, dan dalam masyarakat. Apakah akhir-akhir ini ketiga lingkungan itu sudah cukup membekali dan memberi bekal ketahanan putra-putri Aceh menghadapi berbagai godaan maksiat.

Pertama, keluarga adalah fondasi utama penananam dasar-dasar tauhid dan komitmen keislaman seorang anak, yang ketika usia remaja dan pemuda mereka memiliki nilai dan norma sebagai pedoman perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Anak mengetahui dan mampu menginternalisasi nilai-nilai yang diwariskan orang tua.

Kedua, lingkungan pendidikan sebenarnya juga mesti mendukung kelanjutan pendidikan dalam keluarga. Sekolah atau madrasah, dan perguruan tinggi, tidak boleh hanya melakukan transfer ilmu pengetahuan dan teknologi semata, namum melupakan pengamalan ajaran Islam di lingkungan pendidikan.

Ketiga, demikian juga halnya lingkungan masyarakat, haruslah masyarakat yang memiliki sistem amar ma’ruf dan nahi mungkar, yaitu  masyarakat yang menjalankan totalitas ajaran Islam dan melakukan koreksi terhadap berbagai bentuk pelanggaran syariah. Masyarakat yang secara sadar melakukan pengawasan terhadap berbagai bentuk maksiat di lingkungannya.

Dalam konteks melindungi putra-putri kita dari bahaya narkoba dan godaan muncikari, maka antara pembinaan dalam keluarga, lingkungan pendidikan, dan masyarakat, seharusnya saling melengkapi dan menguatkan. Semuanya harus bertanggungjawab melindungi putra-putri kita dari gempuran maksiat.

Karena itu, terkait mudahnya putra-putri kita dipengaruhi “marketing” narkoba dan seks bebas, perlu evaluasi total, apakah sinergisitas dan kerja sama antara keluarga, dunia pendidikan dan masyarakat masih berjalan seiring. Masing-masing komponen tak boleh berjalan sendiri, harus saling mendukung dalam penyelamatan putra-putri Aceh dari “cengkeraman” bandar narkoba dan muncikari.

Sumber: Gema Baiturrahman

Rabu, 18 Januari 2023

Menjadi Host Podcast Wakaf Produktif

Oleh: Sayed Muhammad Husen

Jumat  (13/1/2023), saya memastikan anggota Dewan Pertimbangan Syariah Baitul Mal Aceh (DPS BMA),  Dr H A Gani Isa, SH, MAg (Pak Gani), berkesempatan menjadi narasumber podcast BMA. Saya tawarkan waktu rekaman Selasa, Rabu, atau Kamis pagi di kantor BMA Komplek Keistimewaan Aceh, Banda Aceh. “Boleh saya bisa, Selasa pukul 10.00 pagi,” katanya.

Saya menawarkan topik yang akan dibahas, sesuai dengan jabatannya sebagai Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI) Perwakilan Aceh. Pak Gani boleh memilih pembahasan seputar fikih wakaf, regulasi wakaf, atau wakaf produktif. Ternyata Pak Gani memilih topik wakaf produktif, yang sedang tren di Indonesia. Rasasnya tak sah nazir, jika tak membicarakan atau memprogramkan wakaf produktif.

Lalu, Kabag Pengumpulan Sekretariat BMA Arif Arham (Pak Arif) yang mengomandoi program podcast menyiapkan studio darurat untuk rekaman. Ruang layanan penerimaan zakat pun disulap menjadi studio sementara. Hari itu, ada tim yang bekerja: Chairay Yarah, Muhammad Tanzil, dan Muzzammil menyiapkan gambar latar dan peralatan yang diperlukan. Kami pun melakukan ujicoba podcast, Pak Arif sebagai narasumber.

Seperti janji, Selasa (17/1/2023) pukul 9.40, Pak Gani telah datang di BMA. Saya telah prediksi sebelumnya, bahwa narasumber akan datang tepat waktu, sebab Pak Gani punya riwayat panjang sebagai pejabat di Kemenag, tentu saja akan terbiasa disiplin dan tepat waktu. Pak Gani juga khatib, penceramah, dan nasasumber di banyak forum, yang selalu hadir lebih cepat dari jadwal yang ditentukan.

Sebelum podcast dimulai tepat pukul 9.00 WIB, saya “mengarahkan” narasumber, bahwa podcast berlangsung 15 menit. Pak Gani nantinya akan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan dengan jawaban yang tidak terlalu panjang atau tidak sangat pendek. Sebagai model, saya sebutkan talk show Andi F Noya atau Najwa Shihab. Tidak menggunakan format talk show TVRI atau RRI di Banda Aceh, yang terlebih dahulu diawalnya diberi kesempatan narasumber presentasi membahas topik beberapa menit, misalnya 5 atau 10 menit. 

Kami juga sepakati cakupan materi yang akan dibahas yaitu mulai dari potensi wakaf di Aceh, dasar pemikiran pengembangan wakaf produktif, contoh-contoh pengelolaan wakaf produktif  di Aceh, dan terakhir dukungan modal BMA untuk inkubasi wakaf produktif. Pembicaraan cakupan materi ini diperlukan untuk memudahkan host merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan kepada narasumber, memastikan penguasaan materi oleh narasumber, dan memandu host dalam mengkerucutkan pembahasan suatu topik.

Selanjutnya kami pun melakukan rekaman podcast dengan durasi mencapai 20 menit, melebihi dari perencananaan awal yang hanya 15 menit. Hal ini dapat ditolerir, sebab  kontennya akan melewati proses editing. Nantinya bisa jadi hasil akhir yang ditayangkan di YouTube BMA sekitar 15 menit juga. “Rekamannya sudah oke, tak perlu ada yang diulang,” kata kameramen BMA, Muhammad Tanzil, yang didampingi Muzzammil.

Hal menarik dalam podcast tersebut, Pak Gani sempat menyebutkan respon positif nazir di Aceh Barat dan Bener Meriah, yang mengatakan cukup terbantu dengan fasilitasi modal pengembangan wakaf produktif mencapai Rp 100 juta setiap nazir. Seperti diberitakan,  BMA menyalurkan bantuan stimulus pengembangan wakaf produktif tahun 2022 untuk 10 nazir di Aceh dengan total anggaran infak Rp 894,96 miliar.

Menurut Ketua Badan BMA Mohammad Haikal, program ini merupakan komitmen BMA memajukan peradaban wakaf, sebab masih cukup besar potensi wakaf yang belum produktif di seluruh Aceh. “Untuk itu, dengan segala upaya dan dukungan donatur infak, kita dukung modal dan pendampingan nazir untuk mengembangkan wakaf produktif, sehingga fungsi wakaf akan lebih optimal,” kata Haikal, seperti dilansir baitulmal.acehprov.go.id.

Ada hal yang memudahkan podcast kali ini adalah: narasumber benar-benar menguasai topik yang dibahas, terbiasa mengisi talk show di TVRI, dan terampil berbicara, sebab Pak Gani seorang dosen dan penceramah. Sebagai dosen dan penceramah yang terlatih berbicara panjang-panjang dan lama, tentu saja Pak Gani agak sulit membatasi uraian setiap dari pertanyaan yang saya ajukan. Cuma yang terbantu, telah diawali dengan “briefing” sebelum podcast dimulai.

Dalam podcast kali ini, saya hampir tak berkesempatan mengajukan pertanyaan kritis, sebab khawatir memerlukan waktu yang lebih panjang untuk mengkerucutkan kembali pada topik. Biasanya, ketika menjadi host di Radio Baiturrahman FM (2001-2018) yang durasinya satu jam,  saya selalu sempatkan menyelipkan satu dua pertanyaan kritis, tentu saja masih terkait dengan topik yang dibahas. Namun untuk Pak Gani, saya sisipkan pertanyaan “semi kritis” tentang salah satu sumber dana wakaf produktif, yaitu wakaf uang mengapa masih ada prokontra di kalangan ulama Aceh.     

Alhamdulillah, ini adalah kesempatan pertama menjadi host podcast BMA. Semoga topik yang dibahas bermanfaat positif terhadap pengembangan wakaf produktif di Aceh dan peran BMA lebih meningkat dalam mendukung fasilitasi modal usaha nazir wakaf. 

Kalau boleh jujur, saya bersedia menjadi host karena ingin menunjukkan satu model host pada kawan-kawan amil muda di BMA, sambil mendorong mereka berlatih menjadi host. Sudah waktunya saya bersikap tutwuri handayani.

Foto-foto: Muhammad Tanzil   

 

 

     

 

 

 

 

  

Saatnya Ulama Memimpin

Oleh: Sayed Muhammad Husen

Foto: Mukhlisuddin Ilyas 
Islam tak memisahkan antara imam dan ulama dengan kepemimpinan. Imam  dan ulama sekaligus pemimpin umat. Demikianlah yang ditunjukkan sejarah awal kebangkitan Islam 14 abad lalu. Ketika itu, kita mendapati imam dan ulama sebagai pribadi sempurna, memiliki karakter yang kuat dan kepemimpinan yang afektif mengayomi umat. Mereka sumber kekuatan spritual  dan referensi dalam menyelesaikan permasalahan keislaman dan sosial kemasyarakatan. Mereka mengimami shalat di masjid, sekaligus mendidik dan memimpin umat di luar masjid.

Periode berikutnya kekuatan Islam memang berhadapan dengan kekuatan pengimbang (baca: kolonial), melemahnya idealisme dan optimisme. Akibat itu pula perdaban Islam kehilangan arah dan timbulnya pemahaman yang rancu terhadap imam, ulama dan kepemimpinan. Imam dan ulama digiring oleh kekuatan luar untuk fokus di lingkungan masjid dan kepemimpinan sepenuhnya diurus oleh lawan politik (Islam). Terjadilah pemisahan antara imam dan ulama dengan kepemimpinan.

Kebangkitan kembali peradaban Islam pada abad XV hijriah, telah melahirkan kesadaran baru, bahwa antara imam, ulama dan kepemimnan tak dapat dipisahkan dalam pembangunan kembali keruntuhan Islam. Islam haruslah dipahami sebagai ajaran yang lengkap (kaffah), motivasi, dan referensi bagi perbaikan pribadi, penataan masyarakat dan pembangunan bangsa. Hal ini sekaligus menjadi momentum meluruskan kembali pandangan yang salah tentang imam, ulama dan kepemimpinan.

Karena itu, agenda syariat Islam kaffah di Aceh yang diformalkan sejak 2002 salah satu misinya adalah mengembalikan pandangan yang benar tentang kepemimpinan imam dan ulama.Tentu saja, misi ini belum dirumuskan dan disosialisasikan dengan efektif, sebab masih banyak aganda lain yang lebih prioritas. Namun secara sosiologis, hal ini terus berproses dan menunjukkan kemajuan yang cukup berarti. Antara lain dapat dilihat, bahwa imajinasi masyarakat semakin mendambakan kepemimpinan imam dan ulama, serta tampilnya mereka sebagai pemimpin di berbagai tingkatan.

Kita melihat Aceh kontemporer memiliki basis sosial politik yang kuat untuk bangkitnya kepemimpinan imam dan ulama pada tingkat provinsi, kabupaten/kota, dan gampong  di seluruh Aceh. Sudah saatnya imam dan ulama menjadi pemimpin politik, sebab basis sosial keacehan mulai mengoreksi kepemimpinan sekuler selama ini. Kita tunggu saja waktunya tiba.

Sumber: Gema Baiturrahman

Selasa, 17 Januari 2023

Ketahanan Keluarga Muslim

Oleh: Sayed Muhammad Husen

Foto: Tanzil 
Keluarga memiliki peran strategis dalam membangun jamaah muslimin. Dari keluarga memulai peletakan dasar-dasar pembangunan umat, seperti penanaman tauhid, ibadah dan ilmu pengetahuan. Dalam keluarga pertamama kali dilakukan pembentukan karakter, motivasi, dan mimpi-mimpi besar anggota keluarga. Semua ini berdampak secara langsung atau tidak terhadap pembangunan umat.

Keluarga muslim yang kuat dan tahan aji, biasanya mengutamakan peletakan dasar tauhid sebagai agenda utama. Kepercayaan terhadap ketentuan Allah Swt dan panduan hidup dari Rasulullah saw benar-benar diyakini akan menyelamatkan dan membahagiakan seluruh anggota keluarga. Mereka senantiasa bertafakkur, berpikir dan mengagumi ciptaan Allah Swt.

Demikian juga, keluarga yang mampu menghadapi tantangan zaman senantiasa mengedukasi dan membiasakan anggota keluarga menjalankan ibadah dengan iklas dan disiplin. Mereka percaya, bahwa selain sebagai kewajiban, ibadah juga kebutuhan yang bermanfaat bagi diri sendiri. Ibadah mengantarkan hidup bahagia dan sejahtera.

Dalam keluarga muslim, sejak dini belajar dasar-dasar ilmu pengetahuan yang bersifat fardhu ‘ain (ilmu-ilmu Islam) dan fardhu kifayah (ilmu-ilmu umum). Tentu saja pembelajaran sangat dipengaruhi kemampuan orang tua. Yang pasti, dalam keluarga tetap terjadi transfer ilmu dan pengalaman dari orang tua kepada anak-anak mereka. Keluarga adalah madrasah pertama.

Keluarga juga menjadi basis pembentukan karakter dan akhlak. Keluarga yang baik adalah yang menjadi contoh bagi keluarga lain di lingkungannya. Keluarga teladan ditunjukkan dengan karakter dan akhlak mulia. Keluarga seperti ini menjadi patron prilaku bagi masyarakat. Karena itu, keluarga berkarakter dan berakhlak pasti berdampak langsung terhadap perubahan masyarakat. 

Kita juga menemukan keluarga muslim yang mampu memotivasi dan merencanakan mimpi (cita-cita) bersama. Keluarga ini saling mendorong, mendukung dan seakan satu tim tangguh. Mereka merencanakan pendidikan terbaik bagi anak-anak, merencanakan karier, dan kebebasan finansial. Juga mampu melakukan pemecahan masalah secara efektif.   

Jadi, keluarga muslim yang berdaya adalah memiliki ketahanan terhadap berbagai masalah dan tantangan internal dan eksternal keluarga. Ketahanan  keluarga akan tercipta apabila keluarga dibangun berdasarkan iman, pasangan yang serasi, dan membina komunikasi efektif. Syarat lainnya: berpenghasilan yang cukup, memiliki keterampilan pemecahan masalah dan suka belajar.

Karena itu, kita berharap, semakin besar persentase keluarga yang berdaya dan memiliki ketahanan kuat di Aceh, keluarga yang mampu mengadapi berbagai godaan dan tantangan zaman.

Sumber: Gema Baiturrahman

Senin, 16 Januari 2023

Perguruan Tinggi Bukan Produsen Penganggur

Oleh: Sayed Muhammad Husen

Masjid Pesantren Muhammadiyah
Lhokseumawe (Foto: Arif Arham)
Keberadaan Ormas Islam di Aceh dan Indonesia cukup kita rasakan manfaatnya. Salah satu manfaat langsung dirasakan masyarakat adalah peran pendidikan organisasi sipil Islam ini. Peran itu dilakukan dalam bentuk informal dan formal, dari bentuk kegiatannya yang tradisional hingga modern. Ormas Islam telah menunjukkan peningkatan SDM intenal dan eksternal organisasi melalui program dan kegiatan pendidikan.  

Misalnya, kita melihat program dan kegiatan Ormas Islam Muhammadiyah (1912), Nahdlatul Ulama (1926) dan Al-Washliyah (1930). Ketiga Ormas Islam ini sejak awal telah melakukan pendidikan masyarakat melalui pengajian, tabligh akbar, seminar dan kegiatan lainnya. Mereka juga menyelenggarakan pendidikan formal, seperti mendirikan sekolah/madrasah/pesantren hingga membangun perguruan tinggi.

Dari pendidikan formal dan informal Ormas Islam itu, telah melahirkan banyak tokoh bangsa, ulama dan pejuang. Mareka meletakkan dasar-dasar pembangunan bangsa, peradaban dan dakwah islamiah di negeri ini, sehingga bangsa dan negara Indonesia bertransfansformasi ke arah yang relegius dan maju. Ormas Islam, melalui strategi pendidikan pula, telah menjadi inspirasi bagi pembangunan pendidikan nasional.

Karena itu, tidak beralasan penilaian yang mengatakan, bahwa pendidikan yang diselenggarakan Ormas Islam telah melemah dan ketinggalan zaman. Kita menemukan banyak lembaga pendidikan dasar, menengah dan perguruan tinggi yang berkualitas dikelola oleh Ormas Islam. Hanya saja, memang, sebagian disiplin ilmu dan keterampilan tertentu telah diurus oleh negara sepenuhnya. Untuk ini, Ormas Islam memilih garapan pendidikan yang belum mampu digarap oleh negara.

Dalam konteks keacehan, kita juga menyaksikan, belum seluruh sektor pendidikan dikelola pemerintah. Misalnya, pendidikan tinggi negeri masih terbatas jumlah dan kualitasnya. Peran Ormas Islam dalam mengelola perguruan tinggi masih sangat diperlukan. Dalam hal ini kita sebut contoh perguruan tinggi yang dikelola Ormas Islam di Aceh: Unmuha oleh Muhammadiyah, Perguruang Tinggi Al-Washliyah oleh Jami’atul Al-Washliyah dan STISNU oleh Nadlatul Ulama. Selain itu, banyak perguruan tinggi swasta lainnya di luar “asuhan” Ormas Islam.

Tentu saja kita belum puas dengan kualitas perguruan tinggi yang dikelola Ormas Islam di Aceh. Namun kita berharap, seluruh alumninya tertampung sebagai tenaga kerja terampil dan profesional. Lebih utama lagi jika alumninya  menjadi pencipta lapangan kerja. Sungguh  kita tidak berharap perguruan tinggi yang didirikan Ormas Islam menjadi produsen penganggur setiap tahun.

Sumber: Gema Baiturrahman

Penggerak Persatuan Umat

Oleh: Sayed Muhammad Husen

Masjid HKL di Banda Aceh
Pesatuan atau mempersatukan umat Islam tidak cukup hanya pidato dan kampanye. Tidak memadai disampaikan di mimbar-mimbar dakwah, bahwa umat harus bersatu dan persatuan syarat kebangkitan umat. Tidak pula hanya sebagai materi kampanye pentingnya persatuan Islam. Persatuan mestilah menjadi komitmen, gerakan dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kita mendapati organisasi pemuda dan remaja yang menjadikan persatuan umat sebagai komitmen dan doktrin kekaderan.  Organisasi ini mewajibkan kadernya sebagai pemersatu umat dimanapun berada. Maka kader pun seringkali mengkomunikasikan persatuan umat sebagai suatu keharusan bersama. Hanya saja dalam praktiknya, tak semua kader mampu menggerakkan persatuan di lingkungannya.

Fakta lain menunjukkan, misalnya, khatib dan guru pengajian Islam senantiasa mengajarkan, bahwa Islam dibangun Rasulullah saw dengan semangat persatuan dan persaudaraan Islam, yang dicontohkan dalam membangun masyarakat Madinah. Rasulullah saw mempersatukan Muhajirin dan Ashar. Pada tingkat ajaran tentu “indah sekali. Lagi-lagi dalam wujud praktis, tak semua khatib dan guru pengajian mampu berperan sebagai motivator persatuan umat.

Demikian juga kenyataan dalam masyarakat muslim Aceh. Kita masih saja menyaksikan konflik, gesekan dan pertentangan pendapat yang ujung-ujungnya mengganggu ukhuwah islamiah. Kita tak perlu sebutkan contoh kasus yang cukup banyak dalam aspek pemahaman aqidah, ibadah atau mazhab. Di kantor, lembaga pendidikan, bahkan di masjid bisa saja terjadi ketegangan yang berdampak terhadap melemahnya persatuan dan persaudaraan.

Karena itu, upaya mewujudkan persatuan umat pada berbagai tingkatan perlu dilakukan  terus menerus dengan target-target yang terukur. Untuk ini, kita membutuhkan penggerak, motivator  dan keteladan pemersatu. Mereka harus memiliki pemahaman, komitmen  dan bersungguh-sungguh berperan sebagai penggerak persatuan umat. “Pekerjaan” itu dilakukan terus-menerus,  ikhkas dan tanpa pamrih.

Melihat kondisi Aceh kini, kita membutuhkan cukup banyak penggerak persatuan yang mampu mengajarkan kearifan, membantu pemecahan masalah dan mengarahkan umat pada konsensus bersama. Mereka harus memotivasi umat supaya mendukung terwujudnya ukhuwah islamiah dan berperan sebagai mediator konflik keumatan. Penggerak persatuan adalah pribadi unggul dan teladan di tengah-tengah muslimin Aceh.  

Sumber: Gema Baiturrahman

 

Memahami Ma’had Tahfidz

Oleh: Sayed Muhammad Husen Tim Verifikasi Banda Aceh dan Aceh Besar Baitul Mal Aceh (Tim Abes) melakukan verifikasi calon mustahik penerima...