Rabu, 18 Januari 2023

Menjadi Host Podcast Wakaf Produktif

Oleh: Sayed Muhammad Husen

Jumat  (13/1/2023), saya memastikan anggota Dewan Pertimbangan Syariah Baitul Mal Aceh (DPS BMA),  Dr H A Gani Isa, SH, MAg (Pak Gani), berkesempatan menjadi narasumber podcast BMA. Saya tawarkan waktu rekaman Selasa, Rabu, atau Kamis pagi di kantor BMA Komplek Keistimewaan Aceh, Banda Aceh. “Boleh saya bisa, Selasa pukul 10.00 pagi,” katanya.

Saya menawarkan topik yang akan dibahas, sesuai dengan jabatannya sebagai Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI) Perwakilan Aceh. Pak Gani boleh memilih pembahasan seputar fikih wakaf, regulasi wakaf, atau wakaf produktif. Ternyata Pak Gani memilih topik wakaf produktif, yang sedang tren di Indonesia. Rasasnya tak sah nazir, jika tak membicarakan atau memprogramkan wakaf produktif.

Lalu, Kabag Pengumpulan Sekretariat BMA Arif Arham (Pak Arif) yang mengomandoi program podcast menyiapkan studio darurat untuk rekaman. Ruang layanan penerimaan zakat pun disulap menjadi studio sementara. Hari itu, ada tim yang bekerja: Chairay Yarah, Muhammad Tanzil, dan Muzzammil menyiapkan gambar latar dan peralatan yang diperlukan. Kami pun melakukan ujicoba podcast, Pak Arif sebagai narasumber.

Seperti janji, Selasa (17/1/2023) pukul 9.40, Pak Gani telah datang di BMA. Saya telah prediksi sebelumnya, bahwa narasumber akan datang tepat waktu, sebab Pak Gani punya riwayat panjang sebagai pejabat di Kemenag, tentu saja akan terbiasa disiplin dan tepat waktu. Pak Gani juga khatib, penceramah, dan nasasumber di banyak forum, yang selalu hadir lebih cepat dari jadwal yang ditentukan.

Sebelum podcast dimulai tepat pukul 9.00 WIB, saya “mengarahkan” narasumber, bahwa podcast berlangsung 15 menit. Pak Gani nantinya akan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan dengan jawaban yang tidak terlalu panjang atau tidak sangat pendek. Sebagai model, saya sebutkan talk show Andi F Noya atau Najwa Shihab. Tidak menggunakan format talk show TVRI atau RRI di Banda Aceh, yang terlebih dahulu diawalnya diberi kesempatan narasumber presentasi membahas topik beberapa menit, misalnya 5 atau 10 menit. 

Kami juga sepakati cakupan materi yang akan dibahas yaitu mulai dari potensi wakaf di Aceh, dasar pemikiran pengembangan wakaf produktif, contoh-contoh pengelolaan wakaf produktif  di Aceh, dan terakhir dukungan modal BMA untuk inkubasi wakaf produktif. Pembicaraan cakupan materi ini diperlukan untuk memudahkan host merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan kepada narasumber, memastikan penguasaan materi oleh narasumber, dan memandu host dalam mengkerucutkan pembahasan suatu topik.

Selanjutnya kami pun melakukan rekaman podcast dengan durasi mencapai 20 menit, melebihi dari perencananaan awal yang hanya 15 menit. Hal ini dapat ditolerir, sebab  kontennya akan melewati proses editing. Nantinya bisa jadi hasil akhir yang ditayangkan di YouTube BMA sekitar 15 menit juga. “Rekamannya sudah oke, tak perlu ada yang diulang,” kata kameramen BMA, Muhammad Tanzil, yang didampingi Muzzammil.

Hal menarik dalam podcast tersebut, Pak Gani sempat menyebutkan respon positif nazir di Aceh Barat dan Bener Meriah, yang mengatakan cukup terbantu dengan fasilitasi modal pengembangan wakaf produktif mencapai Rp 100 juta setiap nazir. Seperti diberitakan,  BMA menyalurkan bantuan stimulus pengembangan wakaf produktif tahun 2022 untuk 10 nazir di Aceh dengan total anggaran infak Rp 894,96 miliar.

Menurut Ketua Badan BMA Mohammad Haikal, program ini merupakan komitmen BMA memajukan peradaban wakaf, sebab masih cukup besar potensi wakaf yang belum produktif di seluruh Aceh. “Untuk itu, dengan segala upaya dan dukungan donatur infak, kita dukung modal dan pendampingan nazir untuk mengembangkan wakaf produktif, sehingga fungsi wakaf akan lebih optimal,” kata Haikal, seperti dilansir baitulmal.acehprov.go.id.

Ada hal yang memudahkan podcast kali ini adalah: narasumber benar-benar menguasai topik yang dibahas, terbiasa mengisi talk show di TVRI, dan terampil berbicara, sebab Pak Gani seorang dosen dan penceramah. Sebagai dosen dan penceramah yang terlatih berbicara panjang-panjang dan lama, tentu saja Pak Gani agak sulit membatasi uraian setiap dari pertanyaan yang saya ajukan. Cuma yang terbantu, telah diawali dengan “briefing” sebelum podcast dimulai.

Dalam podcast kali ini, saya hampir tak berkesempatan mengajukan pertanyaan kritis, sebab khawatir memerlukan waktu yang lebih panjang untuk mengkerucutkan kembali pada topik. Biasanya, ketika menjadi host di Radio Baiturrahman FM (2001-2018) yang durasinya satu jam,  saya selalu sempatkan menyelipkan satu dua pertanyaan kritis, tentu saja masih terkait dengan topik yang dibahas. Namun untuk Pak Gani, saya sisipkan pertanyaan “semi kritis” tentang salah satu sumber dana wakaf produktif, yaitu wakaf uang mengapa masih ada prokontra di kalangan ulama Aceh.     

Alhamdulillah, ini adalah kesempatan pertama menjadi host podcast BMA. Semoga topik yang dibahas bermanfaat positif terhadap pengembangan wakaf produktif di Aceh dan peran BMA lebih meningkat dalam mendukung fasilitasi modal usaha nazir wakaf. 

Kalau boleh jujur, saya bersedia menjadi host karena ingin menunjukkan satu model host pada kawan-kawan amil muda di BMA, sambil mendorong mereka berlatih menjadi host. Sudah waktunya saya bersikap tutwuri handayani.

Foto-foto: Muhammad Tanzil   

 

 

     

 

 

 

 

  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Memahami Ma’had Tahfidz

Oleh: Sayed Muhammad Husen Tim Verifikasi Banda Aceh dan Aceh Besar Baitul Mal Aceh (Tim Abes) melakukan verifikasi calon mustahik penerima...