Kamis, 19 Januari 2023

Melindungi Putra Putri Kita

Oleh: Sayed Muhammad Husen

Apakah benar sinyalemen bahwa putra-putri Aceh kini lebih mudah dipengaruhi satu kepentingan dibandingkan generasi dulu? Apakah hal ini hanya terjadi pada putra putri Aceh atau gejala nasional?

Sinyalemen ini tentu saja perlu dibuktikan secara ilmiah melalui kajian dan penelitian. Paling tidak, sebagai sampel dapat kita pertanyakan, mengapa putra-putri Aceh bisa dipengaruhi bandar narkoba atau micikari?

Untuk itu, patut kita kaji ulang proses pembentukan karakter, mental, dan kepribadian putra-putri Aceh dalam keluarga, lingkungan pendidikan, dan dalam masyarakat. Apakah akhir-akhir ini ketiga lingkungan itu sudah cukup membekali dan memberi bekal ketahanan putra-putri Aceh menghadapi berbagai godaan maksiat.

Pertama, keluarga adalah fondasi utama penananam dasar-dasar tauhid dan komitmen keislaman seorang anak, yang ketika usia remaja dan pemuda mereka memiliki nilai dan norma sebagai pedoman perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Anak mengetahui dan mampu menginternalisasi nilai-nilai yang diwariskan orang tua.

Kedua, lingkungan pendidikan sebenarnya juga mesti mendukung kelanjutan pendidikan dalam keluarga. Sekolah atau madrasah, dan perguruan tinggi, tidak boleh hanya melakukan transfer ilmu pengetahuan dan teknologi semata, namum melupakan pengamalan ajaran Islam di lingkungan pendidikan.

Ketiga, demikian juga halnya lingkungan masyarakat, haruslah masyarakat yang memiliki sistem amar ma’ruf dan nahi mungkar, yaitu  masyarakat yang menjalankan totalitas ajaran Islam dan melakukan koreksi terhadap berbagai bentuk pelanggaran syariah. Masyarakat yang secara sadar melakukan pengawasan terhadap berbagai bentuk maksiat di lingkungannya.

Dalam konteks melindungi putra-putri kita dari bahaya narkoba dan godaan muncikari, maka antara pembinaan dalam keluarga, lingkungan pendidikan, dan masyarakat, seharusnya saling melengkapi dan menguatkan. Semuanya harus bertanggungjawab melindungi putra-putri kita dari gempuran maksiat.

Karena itu, terkait mudahnya putra-putri kita dipengaruhi “marketing” narkoba dan seks bebas, perlu evaluasi total, apakah sinergisitas dan kerja sama antara keluarga, dunia pendidikan dan masyarakat masih berjalan seiring. Masing-masing komponen tak boleh berjalan sendiri, harus saling mendukung dalam penyelamatan putra-putri Aceh dari “cengkeraman” bandar narkoba dan muncikari.

Sumber: Gema Baiturrahman

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Memahami Ma’had Tahfidz

Oleh: Sayed Muhammad Husen Tim Verifikasi Banda Aceh dan Aceh Besar Baitul Mal Aceh (Tim Abes) melakukan verifikasi calon mustahik penerima...