Oleh: Sayed Muhammad Husen
![]() |
| Masjid Pesantren Muhammadiyah Lhokseumawe (Foto: Arif Arham) |
Misalnya, kita melihat program dan kegiatan Ormas Islam Muhammadiyah (1912), Nahdlatul Ulama (1926) dan Al-Washliyah (1930). Ketiga Ormas Islam ini sejak awal telah melakukan pendidikan masyarakat melalui pengajian, tabligh akbar, seminar dan kegiatan lainnya. Mereka juga menyelenggarakan pendidikan formal, seperti mendirikan sekolah/madrasah/pesantren hingga membangun perguruan tinggi.
Dari pendidikan formal dan informal Ormas Islam itu, telah melahirkan banyak tokoh bangsa, ulama dan pejuang. Mareka meletakkan dasar-dasar pembangunan bangsa, peradaban dan dakwah islamiah di negeri ini, sehingga bangsa dan negara Indonesia bertransfansformasi ke arah yang relegius dan maju. Ormas Islam, melalui strategi pendidikan pula, telah menjadi inspirasi bagi pembangunan pendidikan nasional.
Karena itu, tidak beralasan penilaian yang mengatakan, bahwa pendidikan yang diselenggarakan Ormas Islam telah melemah dan ketinggalan zaman. Kita menemukan banyak lembaga pendidikan dasar, menengah dan perguruan tinggi yang berkualitas dikelola oleh Ormas Islam. Hanya saja, memang, sebagian disiplin ilmu dan keterampilan tertentu telah diurus oleh negara sepenuhnya. Untuk ini, Ormas Islam memilih garapan pendidikan yang belum mampu digarap oleh negara.
Dalam konteks keacehan, kita juga menyaksikan, belum seluruh sektor pendidikan dikelola pemerintah. Misalnya, pendidikan tinggi negeri masih terbatas jumlah dan kualitasnya. Peran Ormas Islam dalam mengelola perguruan tinggi masih sangat diperlukan. Dalam hal ini kita sebut contoh perguruan tinggi yang dikelola Ormas Islam di Aceh: Unmuha oleh Muhammadiyah, Perguruang Tinggi Al-Washliyah oleh Jami’atul Al-Washliyah dan STISNU oleh Nadlatul Ulama. Selain itu, banyak perguruan tinggi swasta lainnya di luar “asuhan” Ormas Islam.
Tentu saja kita belum puas dengan kualitas perguruan tinggi yang dikelola Ormas Islam di Aceh. Namun kita berharap, seluruh alumninya tertampung sebagai tenaga kerja terampil dan profesional. Lebih utama lagi jika alumninya menjadi pencipta lapangan kerja. Sungguh kita tidak berharap perguruan tinggi yang didirikan Ormas Islam menjadi produsen penganggur setiap tahun.
Sumber: Gema Baiturrahman

Tidak ada komentar:
Posting Komentar