Oleh: Sayed Muhammad Husen
Masyarakat Aceh tempo dulu dikenal sifat kedermawanan jika dilihat dari pelayanan yang baik terhadap setiap tamu dan banyaknya kenduri di hampir setiap momentum. Spirit kederwananan diperoleh dari ajaran Al-Quran dan sunnah Rasulullah yang menganjurkan berinfak, sedekah, dan peduli terhadap sesama muslim. Orang Aceh yakin, Allah akan membalas berbagai bentuk kepedulian, bantuan, dan sumbangan yang diberikan kepada orang lain.
Kedermawanan itu terus
berlangsung dari generasi ke generasi hingga sekarang ini. Bentuknya pun
semakin beraneka seiiring perkembangan zaman, permasalahan, dan bantuan yang diperlukan masyarakat. Pernah satu periode
konflik Aceh, masyarakat dengan suka cita mengaktualisasikan kedermawanannya dalam
bentuk fasilitasi perjuangan aspirasi rakyat dan kepedulian terhadap pengungsi.
Masyarakat Aceh yang tak
terkena gempa dan tsunami tahun 2004 telah menunjukkan kepedulian, solidaritas,
dan berbagai bentuk sumbangan diberikan kepada saudara mereka se Aceh yang
tertimpa musibah tsunami. Bantuan tersebut tentu cukup berbekas dan menjadi bagian sejarah kedermawanan
orang Aceh. Bantuan ini pula yang kemudian membentuk perilaku masyakarakat Aceh
lebih mudah peduli dan berbagi setiap
bencana yang terjadi di dalam dan luar Aceh.
Masyarakat Aceh juga
menunjukkan sifat dermawan dengan memberikan bantuan dan
kepedulian terhadap masyakarat Palu dan Donggala, beberapa waktu lalu. Pemerintah Aceh dan
berbagai unsur swasta di Aceh bergerak menggalang bantuan, infak dan sedekah untuk
masyarakat korban gempa dan tsunami di Palu dan Donggala. Berbagai
komponen masyarakat membentuk pos-pos kepedulian, termasuk Masjid Raya Baiturrahman
(MRB). Masyarakat pun empati merespon
pengungsi Rohingya.
Dalam amatan kita, masjid
adalah institusi Islam yang sangat tepat sebagai pusat kedermawanan umat.
Masjid bisa menjadi pusat penggalalan dana umat untuk berbagai kepentingan dan
sulusi permasalahan sosial kemasyarakatan
seperti masalah kemanusiaan, kebencanaan, kemiskinan, serta pengungsian. Masjid kemudian
mengelolanya dengan perencanaan, peruntukan, dan manajemen yang baik.
Demikianlah mestinnya
masjid menghimpun dan mengelola dana untuk korban bencana dan kemanusiaan. Dengan itu pula peran
sosial masjid dari waktu ke waktu semakin penting dan nyata. Kita salut MRB lebih cepat berinisiatif menggalang infak pada
setiap momentum bencana.
Sumber: Gema Baiturrahman

Tidak ada komentar:
Posting Komentar