Rabu, 25 Januari 2023

Aceh yang Dermawan

Oleh: Sayed Muhammad Husen

Masyarakat Aceh tempo dulu dikenal sifat kedermawanan jika dilihat dari pelayanan yang baik terhadap setiap tamu dan banyaknya kenduri di hampir setiap momentum. Spirit kederwananan diperoleh dari ajaran Al-Quran dan sunnah Rasulullah yang menganjurkan berinfak, sedekah,  dan peduli terhadap sesama muslim. Orang Aceh yakin, Allah akan membalas berbagai bentuk kepedulian, bantuan, dan sumbangan yang diberikan kepada orang lain.

Kedermawanan itu terus berlangsung dari generasi ke generasi hingga sekarang ini. Bentuknya pun semakin beraneka seiiring perkembangan zaman, permasalahan, dan bantuan yang diperlukan masyarakat. Pernah satu periode konflik Aceh, masyarakat dengan suka cita mengaktualisasikan kedermawanannya dalam bentuk fasilitasi perjuangan aspirasi rakyat dan kepedulian terhadap pengungsi.

Masyarakat Aceh yang tak terkena gempa dan tsunami tahun 2004 telah menunjukkan kepedulian, solidaritas, dan berbagai bentuk sumbangan diberikan kepada saudara mereka se Aceh yang tertimpa musibah tsunami. Bantuan tersebut tentu cukup berbekas dan menjadi bagian sejarah kedermawanan orang Aceh. Bantuan ini pula yang kemudian membentuk perilaku masyakarakat Aceh lebih mudah peduli dan berbagi setiap bencana yang terjadi di dalam dan luar Aceh.

Masyarakat Aceh juga menunjukkan sifat dermawan dengan memberikan bantuan dan kepedulian terhadap masyakarat Palu dan Donggala, beberapa waktu lalu. Pemerintah Aceh dan berbagai unsur swasta di Aceh bergerak menggalang bantuan, infak dan sedekah  untuk  masyarakat korban gempa dan tsunami di Palu dan Donggala. Berbagai komponen masyarakat membentuk pos-pos kepedulian, termasuk Masjid Raya Baiturrahman (MRB). Masyarakat pun empati merespon pengungsi Rohingya.   

Dalam amatan kita, masjid adalah institusi Islam yang sangat tepat sebagai pusat kedermawanan umat. Masjid bisa menjadi pusat penggalalan dana umat untuk berbagai kepentingan dan sulusi permasalahan sosial kemasyarakatan seperti masalah kemanusiaan, kebencanaan, kemiskinan, serta pengungsian. Masjid kemudian mengelolanya dengan perencanaan, peruntukan, dan manajemen yang baik.

Demikianlah mestinnya masjid menghimpun dan mengelola dana untuk korban bencana dan kemanusiaan. Dengan itu pula peran sosial masjid dari waktu ke waktu semakin penting dan nyata.  Kita salut MRB lebih cepat berinisiatif menggalang infak pada setiap momentum bencana.

Sumber: Gema Baiturrahman

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Memahami Ma’had Tahfidz

Oleh: Sayed Muhammad Husen Tim Verifikasi Banda Aceh dan Aceh Besar Baitul Mal Aceh (Tim Abes) melakukan verifikasi calon mustahik penerima...