Oleh: Sayed Muhammad Husen
Cara mudah janjian dengan sahabat Saifulsyah adalah bertemu ketika shalat Maghrib berjamaah di Masjid Taqwa, Seutui, Banda Aceh. Saya tidak tahu rumah Saiful di Neusu Aceh, yang katanya tak jauh dari Masjid Taqwa. Jadilah Maghrib itu Senin, (9/1/2023) saya shalat di Masjid Taqwa, walau Saiful tak menjangkaunya. Dia harus shalat di Lambaroskep, untuk suatu urusan alumni FE USK.
Saifulsyah di Radio Baiturrahman FM dikenal dengan nama udara Saiful A Bakar. Saya mengenalnya dari dekat setelah sama-sama menjadi penyiar Radio Baiturrahman. Saya bergabung dengan radio masjid ini tahun 2001 sampai dengan akhir tahun 2017. Selain di radio, Saiful aktif sebagai pendamping masyarakat dan perencana pembangunan kota.
Kami berjanji jumpa untuk keperluan takziah, yang sejak dua pekan lalu ayahnya berpulang ke Rahmatullah di Ateuk Jawo, Banda Aceh. “Selama ini ayah tinggal bersama adik di Ateuk Jawoe, sementara KTP-nya sebagai warga Neusu Aceh,” kata Saiful. Dia tak banyak cerita tentang ayahnya, sebab kami lebih fokus bicara tentang masjid, radio, dan wakaf di Warkop Krueng Daroy, yang hanya 100 meter dari Masjid Taqwa.
Saya lebih awal mengomentari tentang Masjid Taqwa, bahwa masjid ini masih menunjukkan identitas Islam modernis, misalnya setelah shalat berjamaah tak ada komando imam untuk jamaah membaca surat Al Fatihah. Tak ada juga doa bersama. Saya tahu sejak tahun 1990-an masjid ini memang penganut paham modernis, sama halnya dengan masjid tetangga: Baitul Makmur Blower dan Baitul Musyahadah. Saiful membenarkannya. Kami pun “diskusi” tentang Islam modernis.
Selanjutnya kami membicarakan sekilas tentang radio Rolland Nuansa di Lamlagang (sebelah Masjid Taqwa) yang sudah “almarhum”. “Pendirinya, Syahrul, dulu pernah menjadi teknisi Radio Baiturrahman,” kata Saiful. Kami pun “membahas” tentang Radio Baiturrahman yang belum terintegrasi menajemennya dengan UPTD Pengelola Masjid Raya Baiturrahman. Saya katakan juga, “Kritik pendengar, ada penyiar Radio Baiturrahman yang tak lancar membaca berita”.
Setelah shalat berjamaah Isya di Masjid Taqwa, kami lanjutkan obrolan di warkop yang sama. Kami bahas topik wakaf, yang mencakup peran dan fungsi wakaf Baitul Mal Gampong (BMG), nazir wakaf Neusu Aceh, dan pembinaan atau pengawasan wakaf oleh BWI dan Baitul Mal. Saiful menginformasikan juga, bahwa pengelolaan wakaf di Neusu Aceh hasilnya mencapai Rp 50 juta/setahun.
Saya meyakinkan Saiful perlunya integrasi manajemen nazir gampong dengan BMG. Demikian juga, peran BWI dan Baitul Mal Aceh/Baitul Mal Kab/Kota dalam melakukan pembinaan dan pengawasan wakaf akan berlangsung lebih sinergis di masa akan datang. Terakhir, saya menyarankan supaya Nazir Wakaf Gampong Neusu Aceh bertransformasi menjadi nazir wakaf berbadan hukum, sehingga lebih berpeluang pengelolaannya profesional dan berpeluang menjadi nazir wakaf uang dengan mengurus izin pada BWI Pusat.
Banda Aceh, 10 Januari 2023

Tidak ada komentar:
Posting Komentar