Oleh: Sayed Muhammad Husen
![]() |
| Penulis bersama sahabat linto baro (Foto Ist) |
Ada hal yang membuat saya lebih bersemangat memenuhi undangan ini, karena sekalian menziarahi kuburan Abu Muhammad Dawud Beureu-Eh dan mengunjungi Macut Rohana yang sama-sama beralamat di Beureunuen. Sudah cukup lama saya tak ziarah dan mengunjungi Macut (sepupu ayah). Biasanya, setiap Idul Fitri sambil pulang kampung kami sempat ziarah Abu Beureu-Eh, makan nasi bungkus di Masjid Baitul A'la Lil Mujahidin, dan silaturrahim dengan Macut.
Dengan menumpangi transportasi umum L300, Ahad (15/1/2023) sekitar pukul 8.30 WIB saya berangkat dari Lampanah, Indrapuri, menuju Masjid Abu Beureu-Eh, sebagai titik kumpul rombongan linto baro, yang bergerak dari Trienggadeng, Pidie Jaya. Saya tiba lebih cepat tiga puluh menit dari jadwal bertemu rombongan di masjid pukul 11.00 WIB, sehingga sempat mengabadikan beberapa foto masjid dan ngopi bersama adinda Zainuddin M Husen, Bunyamin M Husen, Tajuddin Aji, dan beberapa anggota rombongan lainnya.
Selanjutnya pukul 11.00 WIB kami berangkat intat linto ke Gampog Pineung, sekitar satu kilometer dari Masjid Abu Bureue-Eh, ke arah Kota Bakti dan Tangse. Selain keuchik, imam, dan perangkat Gampong Paya, Trienggadeng, bergabung dengan rombangan linto kerabat dekat dan para sahabat dekat linto, termasuk aktivis PII dari Banda Aceh.
![]() |
| Sahabat linto baro |
Setelah makan kenduri dan foto bersama dengan linto dan dara baro, kami pun pamitan dengan Macut menuju Masjid Abu Beureu-Eh untuk ziarah dan shalat dhuhur. Sambil ziarah, saya menjelaskan pada Tajudddin, bahwa ketika saya remaja ayah sering menceritakan perjuangan Abu Beureu-Eh memimpin DI/TII Aceh. Ayah pernah mendengar langsung dari Abu Beureu-Eh, bahwa setelah dia berjuang di Aceh akan ada seseorang yang lebih hebat dari dia yang akan memimpin Aceh. Maksud dia adalah Dr Hasan Muhammad Di Tiro, yang ketika itu sedang bekerja di AS.
![]() |
| Rombongan intat linto |
Sejarah Masjid
![]() |
| Masjid Abu Beureu-Eh |
Masjid ini merupakan salah satu karya Tgk Muhammad Dawud Beureu-Eh di Beureunuen. Sekretaris pribadi Abu Dawud Beureu-Eh yakni Abu Mansor menceritakan tentang tentang Masjid Baitul A’la Lil Mujahidin yang dikenal sebagai Masjid Abu Beureu-Eh itu.
Masjid Abu Beureu-Eh dibangun atas prakarsa Abu Dawud Beureu-Eh pada tahun 1950. Pembangunannya sempat tertunda sampai sepuluh tahun akibat konflik DI/TII di Aceh. Saat itu, Abu Dawud Beureu-Eh sendiri naik gunung memimpin pemberontakan terhadap pemerintah pusat yang dinilainya telah ingkar janji terhadap masyarakat Aceh.
![]() |
| Dayah di Komplek Masjid Abu Beureu-Eh |
Abu Dawud Beureu-Eh pula yang kemudian menabalkan nama Baitul A’la Lil Mujahidin sebagai nama masjid tersebut. Namun nama itu seolah tak dikenal, karena masyarakat lebih suka menyebut masjid itu sebagai Masjid Abu Beureu-Eh. Dari sumbangan materi masyarakat dalam bentuk infak dan sedekah, Abu Beureu-Eh kemudian berinisiatif mendirikan lembaga pendidikan (dayah) di komplek masjid itu.
Akibat eskalasi konflik Aceh yang kembali meningkat, dengan lahirnya Gerakan Aceh Merdeka (GAM), pada tahun 1979 Abu Beureueh ”diculik” dan dipindahkan ke Jakarta, karena khawatir GAM akan menggunakan pengaruh Abu Beureu-Eh dalam pergerakannya.
Setahun kemudian, tulis Iskandar Norman, beberapa tokoh Aceh berinisiatif mendatangi Abu Beureu-Eh yang ”dipenjara” dalam sangkar republik di Jalan Wijaya Kusuma Nomor 6, Jakarta, untuk membicarakan beberapa hal, termasuk soal pengurusan Masjid Baitul A’la Lil Mujahidin.Hadir dalam pertemuan itu, Muhammad Nur El Ibrahimy, Drs Ma’mun Dawud, Tgk Hasballah Haji, Tgk H M Nur Syik, Tgk Adnan Saud, Tgk H A Wahab Yusuf, Tgk Said Ibrahim, Cekmat Rahmani, Zaini Bakri, Ishak Husein, dan Tgk H Yacob Ali.
Hasil pertemuan itu, pada 9 Oktober 1979, dibentuklah Yayasan Baitul A’la Lil Mujahidin sebagai badan hukum untuk mengelola masjid dan pendidikan di komplek masjid bersejarah itu. Sebagai ketua yayasan ditunjuk Muhammad Nur El Ibrahimi, sementara Tgk Muhammad Dawud Beureu-Eh, Ketua Kehormatan.
Harta kekayaan masjid pun kemudian diinventarisir. Semua harta itu oleh Abu Beureu-Eh tidak dinyatakan sebagai milik yayasan. Sebaliknya milik Allah dan masyarakat muslim yang harus dimanfaatkan untuk kepentingan umat di bawah pengelolaan yayasan.
![]() |
| Bunyamin, Tajuddin, dan Zainuddin ziarah kuburan Abu Dawud Beureu-Eh di Komplek Masjid Baitul A'la Lil Mujahidin |
Kami pun berpisah sekitar pukul 15.00 WIB. Zainuddin, Bunyamin, dan Tajuddin kembali ke Trienggadeng dengan dua sepeda motor. Sementara saya balik pulang ke Indrapuri dengan L300. Semoga semua ini menjadi energi baru dalam menguatkan silaturrahim, menambah spirit perjuangan (Islam), dan mengoleksi amal ibadah sosial lebih banyak lagi.*







Sebuah paparan sejarah yang sangat penting untuk dibaca dan diketahui oleh generasi muda Aceh
BalasHapusPatut lebih banyak yang menulis sejarah secara populer, Pak Hamdani
Hapus