Selasa, 10 Januari 2023

Memotivasi Shalat Berjamaah

 Oleh: Sayed Muhammad Husen

Aktivis Muhammadiyah Aceh Besar diskusi
setelah shalat berjamaah di Masjid Baitul
Makmur, Sibreh 
Gerakan shalat shubuh keliling berjamaah yang dipelopori kelompok BBC lima tahun terakhir mendapat sambutan positif berbagai kalangan masyarakat. Masyarakat di Banda Aceh terbiasa menanti jadwal shalat shubuh di masjid mana Ahad ini. Shalat shubuh dilanjutkan dengan ceramah, minum kopi bersama dan merencanakan aksi sosial. Bahkan, ada yang secara tidak terbuka melakukan komunikasi untuk kepentingan karir, jabatan atau peluang bisnis.

Gerakan shubuh berjamaah pada awalnya dimaksudkan untuk memotivasi masyarakat agar giat melaksanakan shalat shubuh berjamaah, sebab shalat shubuh sangat berat dikerjakan, apalagi berjamaaah. Dengan menggerakkan jamaah keliling dari satu masjid ke masjid lainnya, diharapkan akan mendorong warga hadir berjamaah, sekaligus sebagai syiar bahwa shalat shubuh dapat dikerjakan dengan jumlah jamaah yang cukup ramai.

Shalat shubuh keliling berjamaah, ternyata mendapat sambutan positif dari berbagai kelompok masyarakat dan pejabat. Kita bisa sebut kelompok yang selama ini rutin mengorganisirnya: DKMA, Arafah, GPS, Berkah, dan Shuling. Diluar itu ada shalat shubuh keliling yang digerakkan Kapolres dan bupati/walikota di beberapa kabupaten/kota di Aceh. Ada juga yang menginisiasi gerakan shalat shubuh mingguan di masjid kampung masing-masing.

Kita melihat fenomena shubuh berjamah cukup positif dalam memotivasi dan membangun kesadaran masyarakat menjalankan shalat secara berjamaah. Sebelum fenemonen baru ini muncul, kita menemukan organisasi yang sering mempromosikan shalat berjamaah seperti Muhammadiyah, Jamaah Tabligh dan terakhir adalah Salafi. Dengan demikian semakin lengkap promotor dan motivator shalat berjamaah di Aceh.

Shalat shubuh dan shalat berjamaah lainya adalah modal sosial dalam pembangunan ummat. Selain praktek sunnah dan mendapat pahala besar, shalat berjamaah berfungsi sebagai perekat ukhuwah, komunikasi antar antar jamaah dan bentuk nyata persatuan ummat. Hal itu sekaligus sebagai modal sosial yang sangat dibutuhkan di tengah kondisi sosial politik penuh intrik, fitnah dan hoax.

Karena itu, seharusnya kita semua ikut mengawal dan mengoptimalkan gerakan shalat shubuh berjamaah, sehingga tetap sesuai dengan cita-cita awal gerakan ini, yaitu memotivasi masyarakat shalat berjamaah lima waktu dapat tercapai.

Sumber: Gema Baiturrahman

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Memahami Ma’had Tahfidz

Oleh: Sayed Muhammad Husen Tim Verifikasi Banda Aceh dan Aceh Besar Baitul Mal Aceh (Tim Abes) melakukan verifikasi calon mustahik penerima...