Oleh: Sayed Muhammad Husen
![]() |
| Aktivis Muhammadiyah Aceh Besar diskusi setelah shalat berjamaah di Masjid Baitul Makmur, Sibreh |
Gerakan
shubuh berjamaah pada awalnya dimaksudkan untuk memotivasi masyarakat agar giat
melaksanakan shalat shubuh berjamaah, sebab shalat shubuh sangat berat
dikerjakan, apalagi berjamaaah. Dengan menggerakkan jamaah keliling dari satu
masjid ke masjid lainnya, diharapkan akan mendorong warga hadir berjamaah,
sekaligus sebagai syiar bahwa shalat shubuh dapat dikerjakan dengan jumlah
jamaah yang cukup ramai.
Shalat
shubuh keliling berjamaah, ternyata mendapat sambutan positif dari berbagai
kelompok masyarakat dan pejabat. Kita bisa sebut kelompok yang selama ini rutin
mengorganisirnya: DKMA, Arafah, GPS, Berkah, dan Shuling. Diluar itu ada shalat
shubuh keliling yang digerakkan Kapolres dan bupati/walikota di beberapa
kabupaten/kota di Aceh. Ada juga yang menginisiasi gerakan shalat shubuh
mingguan di masjid kampung masing-masing.
Kita
melihat fenomena shubuh berjamah cukup positif dalam memotivasi dan membangun
kesadaran masyarakat menjalankan shalat secara berjamaah. Sebelum fenemonen
baru ini muncul, kita menemukan organisasi yang sering mempromosikan shalat
berjamaah seperti Muhammadiyah, Jamaah Tabligh dan terakhir adalah Salafi. Dengan
demikian semakin lengkap promotor dan motivator shalat berjamaah di Aceh.
Shalat
shubuh dan shalat berjamaah lainya adalah modal sosial dalam pembangunan ummat.
Selain praktek sunnah dan mendapat pahala besar, shalat berjamaah berfungsi
sebagai perekat ukhuwah, komunikasi antar antar jamaah dan bentuk nyata
persatuan ummat. Hal itu sekaligus sebagai modal sosial yang sangat dibutuhkan
di tengah kondisi sosial politik penuh intrik, fitnah dan hoax.
Karena
itu, seharusnya kita semua ikut mengawal dan mengoptimalkan gerakan shalat
shubuh berjamaah, sehingga tetap sesuai dengan cita-cita awal gerakan ini, yaitu
memotivasi masyarakat shalat berjamaah lima waktu dapat tercapai.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar