Senin, 23 Januari 2023

Mengunjungi Rafidah di Dayah

Oleh: Sayed Muhammad Husen

Di Nol Kilometer Sabang 
Saya memiliki agenda tetap bersama istri (Ummi Raf) setiap Ahad sore mengunjungi ananda Rafidah Assa’adah (Raf) di Dayah Insan Qurani (IQ), Sibreh, Aceh Besar. Sesekali saja tak bisa datang, karena sedang dinas luar atau keperluan lain yang mendesak. Bahkan, Ummi Raf datang dua kali sepekan, sebab ditambah waktu kunjungan Jumat sore.

Raf menjadi santri IQ sejak 2018. Sekarang kelas II tingkat aliyah. Sudah 4,5 tahun di IQ. Walaupun sebagai anak tunggal, namun tak ada kesulitan “meyakinkan” Raf masuk dayah atau pesantren, sebab sejak kelas 3 MIN di Lampanah, Raf sering mendengar cerita dan informasi tentang pesantren dari Muzakkir Al Mubarak (anak adik kandung saya, Zainuddin M Husen, yang ketika itu santri Pesantren Imam Syafii, Sibreh).

Muzakkir sesekali pulang ke rumah di Lampanah. Pada kesempatan itu, Raf kadang-kadang mendengarkan kisah seputar pesantren dari Muzakkir. Selain itu, Raf mendapatkan cerita-cerita kehidupan pesantren dari anggota keluarga besar yang pernah menjadi santri atau sekolah boarding school, seperti Khairul Huda, Ahmad Arfiza, Herawati, Syahrul Kiram, Farah Diana, Ahmad Faizuddin, Muhammad Iqbal, Faiz Al Imtiyaz, serta Putri Kharisma Malihah.    

Generasi Pengganti


Raf, yang lahir tahun 2006, adalah generasi pengganti setelah tsunami Aceh (2004). Banyak anak Aceh yang meninggal atau hilang dalam tsunami. Sejak awal, kami mendoakan Raf menjadi bagian dari barisan Islam, pribadi yang empati, dan suka membantu orang lain. Apapun profesinya kelak, harapannya Raf merupakan bagian dari orang-orang yang menguatkan barisan Islam.

Karena itu, dengan memilih pendidikan agama sejak dari MIN, MTs IQ dan MA IQ, akan singkron dengan doa, harapan, dan cita-cita kami. Raf mendapatkan pendidikan dasar-dasar tauhid, ibadah, dan pengetahuan keislaman yang memadai. Apalagi kurikulum IQ ditambah dengan tahfidz Al-Quran dan santri senantiasa berada dalam lingkungan Al-Quran (insya Allah selama 6 tahun).

Di Masjid Raya Baiturrahman

Dengan semangat itu pula, saya dan Ummi Raf begitu bahagia mengunjungi Raf setiap pekan. Kunjungan ini untuk merawat kualitas komunikasi kami dengan Raf, monitoring pekembangan pendidikan, dan mengetahui apa saja kebutuhan Raf, selain yang tersedia di dayah. Kadang juga Raf kurang sehat, yang mengharuskan kami antar ke dokter. Tak memadai dengan obat dari klinik dayah.

Hari Kunjungan 

Masjid Baitul Adzim di Halaman  IQ
Setiap hari kunjungan, Ummi Raf menyiapkan satu bungkus nasi untuk makan saat kami berjumpa Raf, satu bungkus lagi untuk Raf makan malam, berbelanja makanan ringan, serta air minenal. Ummi Raf juga membawa sebagian pakaian Raf yang sudah diseterika. Ketika pulang dari dayah, kami pun membawa baju kotor Raf untuk dicuci, seterika, dan diantar lagi pada saat kenjungan berikutnya. Tak lupa setiap kunjungan menyerahkan uang jajan harian atau keperluan lain di dayah.  

Sering kali kami berkesempatan makan bersama Raf ketika hari kunjungan. Seperti pada suatu kujungan, nasi bungkus yang dibawa dari rumah dengan menu kuah lemak dan boh manok dedah, Raf tak habis makan sendiri. Akhirnya kami makan dan menghabiskannya. Nasinya memang lebih banyak, supaya cukup dicicipi bersama. Ini pula yang membuat bahagia ketika mengunjungi Raf di dayah.

Ketika hari kunjungan, Raf menggunakan kesempatan curhat, menceritakan perkembangan kehidupan belajar atau sebaliknya kami yang bertanya tentang pelajaran, pendidik, atau tentang kemungkinan ada masalah yang dihadapi Raf dan santri lainnya. Dari semua itu, kami tetap menjadi pendengar yang baik dan memotivasi Raf tetap rajin belajar, disiplin menguti agenda harian, menjaga waktu shalat,  serta mematuhi aturan yang berlaku di dayah.

Pengurus OSDIK

Hari kunjungan Ahad (22/1/2022), Raf menceritakan kepengurusan baru dan pelantikan OSDIQ. Sementara Raf mendapat amanah di bidang jurnalistik. Selanjutnya, kata Raf, bersama kawan-kawan akan menyusun perencanaan program kerja. Saya menambahkan, bahwa lazimnya bagian jurnalistik akan melakukan pelatihan jurnalistik, mengelola mading, blog dayah, penerbitan buletin, studi banding ke media, dan sekarang ditambah dengan kampanye medsos sehat.

Seperti biasa, kunjungan ini, beberapa kawan dekat Raf meminjam telepon kami untuk menghubungi orang tua di kampung. Yang istimewa hari itu, kami ajak ke dayah adik Raf, Muhammad Arsya Mubarak (2,5 tahun, anaknya Kahirul Huda).

Semoga kunjungan rutin ke dayah menjadi pengalaman psikologis yang dalam bagi Raf, yang membuat hubungan dan komunikasi anak dan orang tuan benar-benar efektif, walaupun dari segi hitungan waktu, anak lebih lama diasuh oleh orang lain. Kami yakin, pengasuhan dengan pola dayah, pesantren, atau boarding school seperti di IQ jutru lebih baik dibandingkan dengan anak yang belajar beberapa jam di sekolah atau madrasah, lalu selebihnya “diasuh” oleh lingkungan masyarakat yang belum mendukung terbentuknya karakter dan kepribadian anak yang islami.       

Lampanah, 23  Januari 2023/1 Rajab 1444    

  

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Memahami Ma’had Tahfidz

Oleh: Sayed Muhammad Husen Tim Verifikasi Banda Aceh dan Aceh Besar Baitul Mal Aceh (Tim Abes) melakukan verifikasi calon mustahik penerima...