Oleh: Sayed Muhammad Husen
![]() |
| Di Nol Kilometer Sabang |
Raf menjadi santri IQ sejak 2018. Sekarang kelas II tingkat aliyah. Sudah 4,5 tahun di IQ. Walaupun sebagai anak tunggal, namun tak ada kesulitan “meyakinkan” Raf masuk dayah atau pesantren, sebab sejak kelas 3 MIN di Lampanah, Raf sering mendengar cerita dan informasi tentang pesantren dari Muzakkir Al Mubarak (anak adik kandung saya, Zainuddin M Husen, yang ketika itu santri Pesantren Imam Syafii, Sibreh).
Muzakkir sesekali pulang ke rumah di Lampanah. Pada kesempatan itu, Raf kadang-kadang mendengarkan kisah seputar pesantren dari Muzakkir. Selain itu, Raf mendapatkan cerita-cerita kehidupan pesantren dari anggota keluarga besar yang pernah menjadi santri atau sekolah boarding school, seperti Khairul Huda, Ahmad Arfiza, Herawati, Syahrul Kiram, Farah Diana, Ahmad Faizuddin, Muhammad Iqbal, Faiz Al Imtiyaz, serta Putri Kharisma Malihah.
Generasi Pengganti
Karena itu, dengan memilih pendidikan agama sejak dari MIN, MTs IQ dan MA IQ, akan singkron dengan doa, harapan, dan cita-cita kami. Raf mendapatkan pendidikan dasar-dasar tauhid, ibadah, dan pengetahuan keislaman yang memadai. Apalagi kurikulum IQ ditambah dengan tahfidz Al-Quran dan santri senantiasa berada dalam lingkungan Al-Quran (insya Allah selama 6 tahun).
![]() |
| Di Masjid Raya Baiturrahman |
Dengan semangat itu pula, saya dan Ummi Raf begitu bahagia mengunjungi Raf setiap pekan. Kunjungan ini untuk merawat kualitas komunikasi kami dengan Raf, monitoring pekembangan pendidikan, dan mengetahui apa saja kebutuhan Raf, selain yang tersedia di dayah. Kadang juga Raf kurang sehat, yang mengharuskan kami antar ke dokter. Tak memadai dengan obat dari klinik dayah.
Hari Kunjungan
![]() |
| Masjid Baitul Adzim di Halaman IQ |
Sering kali kami berkesempatan makan bersama Raf ketika hari kunjungan. Seperti pada suatu kujungan, nasi bungkus yang dibawa dari rumah dengan menu kuah lemak dan boh manok dedah, Raf tak habis makan sendiri. Akhirnya kami makan dan menghabiskannya. Nasinya memang lebih banyak, supaya cukup dicicipi bersama. Ini pula yang membuat bahagia ketika mengunjungi Raf di dayah.
Ketika hari kunjungan, Raf menggunakan kesempatan curhat, menceritakan perkembangan kehidupan belajar atau sebaliknya kami yang bertanya tentang pelajaran, pendidik, atau tentang kemungkinan ada masalah yang dihadapi Raf dan santri lainnya. Dari semua itu, kami tetap menjadi pendengar yang baik dan memotivasi Raf tetap rajin belajar, disiplin menguti agenda harian, menjaga waktu shalat, serta mematuhi aturan yang berlaku di dayah.
Pengurus OSDIK
Hari kunjungan Ahad (22/1/2022), Raf menceritakan kepengurusan baru dan pelantikan OSDIQ. Sementara Raf mendapat amanah di bidang jurnalistik. Selanjutnya, kata Raf, bersama kawan-kawan akan menyusun perencanaan program kerja. Saya menambahkan, bahwa lazimnya bagian jurnalistik akan melakukan pelatihan jurnalistik, mengelola mading, blog dayah, penerbitan buletin, studi banding ke media, dan sekarang ditambah dengan kampanye medsos sehat.
Seperti biasa, kunjungan ini, beberapa kawan dekat Raf meminjam telepon kami untuk menghubungi orang tua di kampung. Yang istimewa hari itu, kami ajak ke dayah adik Raf, Muhammad Arsya Mubarak (2,5 tahun, anaknya Kahirul Huda).
Semoga kunjungan rutin ke dayah menjadi pengalaman psikologis yang dalam bagi Raf, yang membuat hubungan dan komunikasi anak dan orang tuan benar-benar efektif, walaupun dari segi hitungan waktu, anak lebih lama diasuh oleh orang lain. Kami yakin, pengasuhan dengan pola dayah, pesantren, atau boarding school seperti di IQ jutru lebih baik dibandingkan dengan anak yang belajar beberapa jam di sekolah atau madrasah, lalu selebihnya “diasuh” oleh lingkungan masyarakat yang belum mendukung terbentuknya karakter dan kepribadian anak yang islami.
Lampanah, 23 Januari 2023/1 Rajab 1444




Tidak ada komentar:
Posting Komentar