Sabtu, 14 Januari 2023

Bersikap Toleran

Oleh: Sayed Muhammad Husen

Buku Koleksi Safira Hotel Sigli (Foto: SMH)
Sikap toleran seorang muslim telah dicontohkan Rasulullah saw.  Dalam banyak kesempatan Rasulullah saw menunjukkan sikap toleran kepada sahabat dalam berbagai hal. Dalam konteks ibadah, beliau menunjukkan saling memahami perdedaan antar sahabat pada hal-hal yang tak prinsipil. Bukan, dalam hal-hal pokok dan inti ajaran Islam.

Sepeninggal Rasulullah, sekitar 30 tahun setelah Rasulullah saw wafat, baru kemudian umat Islam ketika itu merasa kehilangan referensi utama dalam menemukan solusi terhadap perbedaan pendapat tentang masalah-masalah keislaman, sosial kemasyarakatan, dan kenegaraan.  Perbedaan ini terus melebar hingga malahirkan aliran,  mazhab, yang diikuti oleh penganut masing-masing. Bahkan, sebagian perbedaan dibumbui dengan kepentingan, pengaruh, dan target-target politik.

Sampai kini, umat Islam masih saja dihadapkan pada berbagai perbedaan pendapat dan paham yang berpunca pada perbedaan tafsir aqidah dan ibadah. Secara sunnatullah, perbedaan-perbedaan pandangan, pendapat, dan mazhab itu tentu akan terus terjadi disebabkan perbedaan referensi dalam merespon masalah-masalah baru yang dihadapi umat Islam.

Karena itu, kita tak dapat membatasi berberbagai perbedaan pendapat, aliran, dan konflik yang terus terjadi dikalangan umat Islam. Dalam hal ini, pemerintah Islam tak bisa bersikap otoriter untuk mendukung, tidak mendukung atau  memenangkan satu aliran saja, sejauh perbedaan itu dalam kerangka prinsip-prinsip dasar ajaran Islam dan mempedomani Al-Quran dan sunnah Rasulullah saw.

Sikap yang benar adalah, pemerintah, cendikiawan, ilmuan,  serta ulama, bersikap toleran dalam menyikapi berbagai perbedaan paham keislaman.  Setiap perbedaan dan konflik mestilah dipahami sebagai dinamika dan proses perubahan umat ke arah yang lebih baik. Perbedaan pemikiran dan pandangan merupakan bagian dari transformasi umat dalam mencapai kemajuan, kesejahteraan dan kebahagiaan bersama.

Dalam konteks ini, kita berharap Forum Kerukukan Ummat Beragama (FKUB) Aceh memfasilitasi dialog lebih intens dalam setiap gesekan pemikiran, tindakan, dan kepentingan umat Islam di Aceh. Saatnya FKUB mendialogkan perbedaan-perbedaan dalam bidang tauhid, fikih dan tasauf, dengan melibatkan ulama, umara dan cendikiawan muslim secara adil dan proporsional. Sudah waktunya pula Aceh merawat sikap toleran yang telah diwariskan oleh Rasulullah saw.

Sumber: Gema Baiturrahman 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Memahami Ma’had Tahfidz

Oleh: Sayed Muhammad Husen Tim Verifikasi Banda Aceh dan Aceh Besar Baitul Mal Aceh (Tim Abes) melakukan verifikasi calon mustahik penerima...