Minggu, 15 Januari 2023

Intat Linto dan Ziarah Abu Dawud Beureu-Eh

Oleh: Sayed Muhammad Husen 

Penulis bersama sahabat
linto baro (Foto Ist) 
Dua kali Abucut Abu Bakar Bansu menelepon untuk menghadiri intat linto anaknya, Muhammad Hawanis, di Gampong Pineung, Beureunuen, Kabupaten Pidie, Ahad (15/1/2023). Sekali kali, bulan lalu, Hawanis menelepon dan menyampaikan hal yang sama. Saya katakan, “Insya Allah, kalau sehat, akan hadir.”

Ada hal yang membuat saya lebih bersemangat memenuhi undangan ini, karena sekalian menziarahi kuburan Abu Muhammad Dawud Beureu-Eh dan mengunjungi Macut Rohana yang sama-sama beralamat di Beureunuen. Sudah cukup lama saya tak ziarah dan mengunjungi Macut (sepupu ayah). Biasanya, setiap Idul Fitri sambil pulang kampung kami sempat ziarah Abu Beureu-Eh, makan nasi bungkus di Masjid Baitul A'la Lil Mujahidin,  dan silaturrahim dengan Macut.

Dengan menumpangi transportasi umum L300, Ahad (15/1/2023) sekitar pukul 8.30 WIB saya berangkat dari Lampanah, Indrapuri, menuju Masjid Abu Beureu-Eh, sebagai titik kumpul rombongan linto baro, yang bergerak dari Trienggadeng, Pidie Jaya. Saya tiba lebih cepat tiga puluh menit dari jadwal bertemu rombongan di masjid pukul 11.00 WIB, sehingga sempat mengabadikan beberapa foto masjid dan ngopi bersama adinda Zainuddin M Husen, Bunyamin M Husen, Tajuddin Aji, dan beberapa anggota rombongan lainnya.

Selanjutnya pukul 11.00 WIB kami berangkat intat linto ke Gampog Pineung, sekitar satu kilometer dari Masjid Abu Bureue-Eh, ke arah Kota Bakti dan Tangse. Selain keuchik, imam, dan  perangkat Gampong Paya, Trienggadeng, bergabung dengan rombangan linto kerabat dekat dan para sahabat dekat linto, termasuk aktivis PII dari Banda Aceh.    

Sahabat linto baro
Seperti kami perkirakan,  akan jumpa Macut Rohana di rumah dara baro. Sebab kebetulan, atas takdir Allah, Macut merupakan bagian dari keluarga besar dara baro, Yunita Amaiza. Alhamdulillah Macut ada di sana. Kami tak perlu ke rumahnya di Gampong Jaman Baroh, sekitar satu kilometer arah barat Masjid Abu Baureu-Eh. “Alhamdulilllah sehat, biasanya darah naik  dan saya harus dirawat di rumah sakit,” katanya. Macut tinggal sendirian di rumah, karena Allah tak karuniai dia anak. Suaminya, Muhammad Daud, telah lama berpulang ke Rahmatullah.

Setelah makan kenduri dan foto bersama dengan linto dan dara baro, kami pun pamitan dengan Macut menuju Masjid Abu Beureu-Eh untuk ziarah dan shalat dhuhur. Sambil ziarah, saya menjelaskan pada Tajudddin, bahwa ketika saya remaja ayah sering menceritakan perjuangan Abu Beureu-Eh memimpin DI/TII Aceh. Ayah pernah mendengar langsung dari Abu Beureu-Eh, bahwa setelah dia berjuang di Aceh akan ada seseorang yang lebih hebat dari dia yang akan memimpin Aceh. Maksud dia adalah Dr Hasan Muhammad Di Tiro, yang ketika itu sedang bekerja di AS.

Rombongan intat linto 







Sejarah Masjid

Masjid Abu Beureu-Eh
Iskandar Norman seperti dilansir acehinfo.id menulis, bahwa 9 Oktober 1979, Tgk Muhammad Dawud Beureu-Eh membentuk Yayasan Baitul A’la Lil Mujahidin sebagai badan hukum untuk mengelola masjid dan pendidikan di komplek Masjid Baitul A’la Lil Mujahidin. Sebagai ketua yayasan ditunjuk Muhammad Nur El Ibrahimi, sementara Tgk Muhammad Dawud Beureu-Eh sebagai Ketua Kehormatan.

Masjid ini merupakan salah satu karya Tgk Muhammad Dawud Beureu-Eh di Beureunuen. Sekretaris pribadi Abu Dawud Beureu-Eh yakni Abu Mansor menceritakan tentang tentang Masjid Baitul A’la Lil Mujahidin yang dikenal sebagai Masjid Abu Beureu-Eh itu.

Masjid Abu Beureu-Eh  dibangun atas prakarsa Abu Dawud Beureu-Eh  pada tahun 1950. Pembangunannya sempat tertunda sampai sepuluh tahun akibat konflik DI/TII di Aceh. Saat itu, Abu Dawud Beureu-Eh sendiri naik gunung memimpin pemberontakan terhadap pemerintah pusat yang dinilainya telah ingkar janji terhadap masyarakat Aceh.

Dayah di Komplek Masjid Abu Beureu-Eh
Setelah pemberontakan reda, pada tahun 1963, pembangunan masjid itu dilanjutkan, dengan dana bantuan masyarakat. Figur Abu Daud Beureu-Eh yang karismatik dan disegani, membuat masyarakat berbondong-bondong menyumbangkan hartanya untuk pembangunan masjid itu, meski hanya beberapa butir telur dan segenggam beras. Sampai akhirnya masjid itu kokoh berdiri  dan diresmikan pemakaiannya pada tahun 1972.

Abu Dawud Beureu-Eh pula yang kemudian menabalkan nama Baitul A’la Lil Mujahidin sebagai nama masjid tersebut. Namun nama itu seolah tak dikenal, karena masyarakat lebih suka menyebut masjid itu sebagai Masjid Abu Beureu-Eh. Dari sumbangan materi masyarakat dalam bentuk infak  dan sedekah, Abu Beureu-Eh kemudian berinisiatif mendirikan lembaga pendidikan (dayah) di komplek masjid itu.

Akibat eskalasi konflik Aceh yang kembali meningkat, dengan lahirnya Gerakan Aceh Merdeka (GAM), pada tahun 1979 Abu Beureueh ”diculik” dan dipindahkan ke Jakarta, karena khawatir GAM akan menggunakan pengaruh Abu Beureu-Eh dalam pergerakannya.

Setahun kemudian, tulis Iskandar Norman, beberapa tokoh Aceh berinisiatif mendatangi Abu Beureu-Eh yang ”dipenjara” dalam sangkar republik di Jalan Wijaya Kusuma Nomor 6, Jakarta, untuk membicarakan beberapa hal, termasuk soal pengurusan Masjid Baitul A’la Lil Mujahidin.

Hadir dalam pertemuan itu, Muhammad Nur El Ibrahimy, Drs Ma’mun Dawud, Tgk Hasballah Haji, Tgk H M Nur Syik, Tgk Adnan Saud, Tgk H A Wahab Yusuf, Tgk Said Ibrahim, Cekmat Rahmani, Zaini Bakri, Ishak Husein, dan Tgk H Yacob Ali.

Hasil pertemuan itu, pada 9 Oktober 1979, dibentuklah Yayasan Baitul A’la Lil Mujahidin sebagai badan hukum untuk mengelola masjid dan pendidikan di komplek masjid bersejarah itu. Sebagai ketua yayasan ditunjuk Muhammad Nur El Ibrahimi, sementara Tgk Muhammad Dawud Beureu-Eh, Ketua Kehormatan.

Harta kekayaan masjid pun kemudian diinventarisir. Semua harta itu oleh Abu Beureu-Eh tidak dinyatakan sebagai milik yayasan. Sebaliknya milik Allah dan masyarakat muslim yang harus dimanfaatkan untuk kepentingan umat di bawah pengelolaan yayasan.

Bunyamin, Tajuddin, dan Zainuddin ziarah  
kuburan Abu Dawud Beureu-Eh di Komplek
Masjid Baitul A'la Lil Mujahidin
Setelah hampir satu jam kami di masjid yang sudah ber AC ini, kami ziarah, shalat berjamaah dhuhur dan menyaksikan berbagai fasilitas ibadah dan pendidikan lingkungan masjid wisata sejarah ini, kami sepakat  berpisah setelah ngopi sekali lagi di tengah kota Beurenuen. Kebetulan hari itu kota dagang ini agak sepi dari aktivitas perdagangan sejak pagi, sebab para pedagang memperingati Maulid Nabi Muhammad saw.

Kami pun berpisah sekitar pukul 15.00 WIB. Zainuddin, Bunyamin, dan Tajuddin kembali ke Trienggadeng dengan dua sepeda motor. Sementara saya balik pulang ke Indrapuri dengan L300. Semoga semua ini menjadi energi baru dalam menguatkan silaturrahim, menambah spirit perjuangan (Islam),  dan mengoleksi amal ibadah sosial lebih banyak lagi.*


2 komentar:

  1. Sebuah paparan sejarah yang sangat penting untuk dibaca dan diketahui oleh generasi muda Aceh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Patut lebih banyak yang menulis sejarah secara populer, Pak Hamdani

      Hapus

Memahami Ma’had Tahfidz

Oleh: Sayed Muhammad Husen Tim Verifikasi Banda Aceh dan Aceh Besar Baitul Mal Aceh (Tim Abes) melakukan verifikasi calon mustahik penerima...